Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Bantuan


__ADS_3

"Nenek yang akan menyelesaikan ini, kalian tenang saja. Serahkan semua bukti itu padaku ucap Nenek Hulim dengan tegas.


Ada kemarahan dan kekecewaan yang terlihat di mata wanita paruh baya itu. Sampai saat ini saja mungkin ia masih berperang batin antara percaya dengan ucapan Andre atau orang kepercayaannya, Gio. Bahkan keluarga Andre yang mendengar fakta ini jadi ragu kalau Nenek Hulim akan membantu mereka, terlebih Gio adalah orang kepercayaannya.


Mendengar ucapan Nenek Hulim mengenai penyerahan semua bukti, tentunya mereka takkan bodoh menyerahkan semua itu. Bisa saja nanti Nenek Hulim ingin menghancurkan semua bukti itu. Nadia dan Mama Anisa melihat kearah Nenek Hulim dengan intens. Mereka benar-benar harus teliti dalam memilih seseorang yang akan membantu.


Terlebih mereka belum lah lama mengenal Nenek Hulim. Bahkan ternyata Nenek Hulim yang merupakan atasan ayah dari Ica itu pasti sudah mengenal cukup lama orang kepercayaannya. Melihat semua orang menatap intens kearahnya, Nenek Hulim menghela nafasnya.


"Mungkin kalian tak percaya jika nenek akan membantu terutama saat tahu jika salah satu keluarga pelaku adalah bawahan kepercayaanku. Tapi nenek tak akan menoleransi apapun mengenai seperti ini. Nenek harus membela orang yang benar, kalau kaya gini kan jadi aku merasa bersalah. Salah dalam membela orang" dengus Nenek Hulim.


"Kalau masih nggak percaya, mending salah satu atau berapa orang ikut nenek. Kita kesana agar nenek bisa bicara dengan orang yang jadi backingan si Gio itu" lanjutnya.


Andre mulai percaya dengan apa yang diucapkan oleh Nenek Hulim yang akhirnya mengajak papanya dan Papa Nilam untuk menemaninya. Bahkan Andre juga menghubungi pengacara keluarganya juga, sedangkan Nadia dan Mama Anisa akan menjaga anak-anak.


"Pesan sama Fikri kalau neneknya baru pergi sebentar kalau nanti dia mencari" ucap Nenek Hulim kepada Nadia.


Nadia menganggukkan kepalanya mengerti kemudian mengantarkan kepergian mereka untuk ke kantor polisi. Nadia hanya bisa berharap kalau semua masalah ini segera selesai biar mereka bisa fokus dengan kesehatan anak-anaknya.


"Terimakasih nek, sudah membantu kami" ucap Nadia dengan tulus.


"Nenek belum melakukan apa-apa lho ini kok udah ngucapin terimakasih sih" goda Nenek Hulim sambil terkekeh pelan.


Nadia juga ikut terkekeh pelan kemudian melambaikan tangannya kearah Nenek Hulim yang sudah masuk kedalam mobil milik Andre. Setelah mobil suaminya pergi, Nadia masuk kedalam rumah untuk membantu Mama Anisa menyiapkan makan siang.

__ADS_1


***


"Arnold itu sakit apa sih sebenarnya?" tanya Fikri penasaran.


Saat tadi dirinya masuk kedalam kamar milik Arnold, ia melihat semua orang tengah mengerubungi bocah kecil yang berbaring diatas kasur. Bahkan Arnold masih tertidur dengan lelapnya dengan diampingi saudara-saudaranya dan Nilam yang duduk memandang bocah laki-laki itu.


"Angan encang-encang kak Ikli. Ntal bang Anol angun telus angis-angis agi" kesal Alan memperingatkan Fikri agar tak bicara keras-keras.


Fikri pun langsung menutup rapat mulutnya dengan kedua tangannya. Ia sedikit tak enak dengan Alan dan kedua saudaranya karena ucapannya yang mungkin akan mengganggu istirahat Arnold. Anara pun juga menatap sinis kearahnya namun bukan karena suaranya yang keras melainkan masih kesal dengan kejadian waktu itu.


"Bang Anol akit emam, inina anas" ucap Alan sambil menunjukkan keningnya.


Fikri menganggukkan kepalanya mengerti jika saat ini Arnold tengah demam. Ia pun akhirnya ikut duduk disamping ranjang Arnold dengan mengambil kursi plastik yang ada di kamar itu. Bahkan Fikri mengambil tangan Arnold kemudian mengelusnya dengan lembut.


"Ayo ain" ajak Alan.


Mereka pun akhirnya bermain bersama di atas karpet kamar. Membiarkan Arnold istirahat agar cepat sembuh.


***


"Kira-kira Nenek Hulim itu beneran baik atau cuma ngibulin kita ya, Nad? Tau sendiri kan kalau nenek itu lebih kenal lama si Gio daripada kita. Masa iya lebih kenal lama Gio tapi bantuin kita, kan aneh" tanya Mama Anisa sambil mengiris beberapa bahan masakan.


Nadia yang mendengar ucapan dari Mama Anisa pun merasakan sedikit keanehan. Namun ia mencoba untuk berpikir positif thinking terlebih Fikri ada disini. Kalau Nenek Hulim hanya ingin menjebak keluarganya, Nadia yang akan turun tangan untuk melukai Fikri.

__ADS_1


Nadia merasa kalau memang niat Nenek Hulim jahat pada keluarganya pasti ia sudah membawa Fikri bukan malah menumbalkannya disini. Dalam hati, ia berharap agar semuanya memang sesuai dengan keinginan semua orang yang ada disini.


"Positif thinking aja, ma. Apalagi Nenek Hulim punya hutang nyawa lho sama Arnold dan Alan, jadi kemungkinan besar kalau memang niatnya adalah balas budi kepada mereka. Apalagi ini Arnold yang menjadi korbannya" ucap Nadia mencoba menenangkan kegelisahan Mama Anisa.


"Semoga saja, Nad. Kalau sampai punya niat jahat sama keluarga kita, mama akan ulek tuh tubuh nenek tua biar jadi daging geprek" ucap Mama Anisa sambil memperagakan dengan mengambil ulekan.


Nadia tertawa melihat tingkah sang mertua yang selalu menjadi garda terdepan untuk menjaga keluarganya itu. Ia merasa beruntung masuk kedalam salah satu anggota keluarga Farda yang kekeluargaannya begitu kental dan erat. Mereka bahkan menjunjung tinggi kesetiaan dan saling membantu antar sesama anggota keluarga.


Mereka pun akhirnya meneruskan acara memasaknya dengan berbincang seru. Tak butuh berapa lama, akhirnya keduanya telah menyelesaikan masakannya. Nadia segera memanggil kelima bocah kecil yang ada di kamar Arnold itu. Sedangkan Arnold akan ia biarkan untuk istirahat terlebih dahulu sampai nanti akan dibangunkan setelah semua selesai makan siang.


"Ayo anak-anak kita makan dulu" seru Nadia.


Anak-anak pun keluar dari kamar kemudian berjalan menuruni tangga bersama-sama. Sedangkan Nadia memilih berjalan terakhir karena harus memastikan jika Arnold masih tertidur dengan nyenyak.


"Wah... Makanannya banyak sekali" seru Nilam dengan tersenyum ceria.


Pasalnya selama di rumah, Nilam jarang makan dengan makanan yang bervariasi seperti ini. Biasanya hanya ada satu lauk dan sayur saja yang disiapkan oleh ART di rumahnya. Mama Vivi yang merupakan ibu tirinya memang terlalu membatasi untuk pengeluaran dalam hal kebutuhan rumah. Ia lebih mementingkan kepentingan arisan dan shoppingnya daripada kebutuhan rumah sehingga Papa Nilam harus sering membawa anak-anaknya keluar untuk cari makanan lainnya.


"Iya don, dicini eman anyak akanan. Iat aja ban Anol dan Alan yan adannya melal" ucap Alan sambil geleng-geleng kepala.


Bahkan Alan juga menepuk perutnya yang terlihat membuncit karena kebanyakan makan dan minum susu. Terlebih ia bisa makan sehari lebih dari tiga kali dengan masih memakan cemilan. Semua orang tertawa melihat tingkah lucu Alan bahkan pipinya sengaja digembungkan agar mirip dengan Arnold yang memang berpipi bulat.


********************************

__ADS_1


Besok aku update sore ya teman-teman, soalnya mau temani ibu terapi di rumah sakit dari pagi sampai siang...


__ADS_2