
Disaat ketiga orang dewasa itu tengah duduk di sofa ruangan Andre dengan pikirannya masing-masing, tiba-tiba saja pintu terbuka dengan kerasnya. Ketiganya seketika mengalihkan pandangannya kearah pintu dan terlihatlah ketiga anak kecil dengan mata sembabnya berlari kearah Nadia. Dibelakang ketiga anak kecil itu ada kedua orangtua Nadia yang mengantarkan.
Anara, Abel, dan Arnold langsung memeluk Nadia dengan erat sambil menangis. Nadia yang bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi pun langsung saja membalas pelukan ketiga bocah itu. Nadia mengalihkan pandangannya kearah kedua orangtuanya dan memberikan kode untuk menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Namun kedua orangtuanya hanya menggelengkan kepalanya tak tahu.
"Ini anak-anak bunda kenapa nangis ya? Nanti jelek lho mukanya kalau nangis terus" goda Nadia.
Dan berhasil, setelah mendengar ucapan Nadia itu ketiganya segera melepaskan pelukannya dari sang gadis. Ketiganya mengusap kasar air mata yang mengalir dipipi mereka kemudian menatap dengan cemberut.
"Kita ndak jelek" seru Anara tak terima.
Papa Reza dan Mama Anisa yang melihat hal itu terkekeh pelan, sedangkan Nadia hanya menyunggingkan senyumannya. Nadia segera membantu mereka mengusap jejak-jejak basah di pipi ketiganya dan menyuruhnya untuk duduk. Begitu juga dengan kedua orangtua Nadia.
"Jadi kenapa anak-anak bunda yang cantik dan tampan ini menangis?" tanya Nadia dengan lembut.
"Bunda nggak ngajak kita untuk ke rumah sakit jenguk papa" kesal Anara.
"Rumah sakit nggak baik untuk anak kecil jadi bunda meninggalkan kalian di rumah saja. Lagi pula di rumah kalian ditemani orangtua bunda dan Nenek Darmi" ucap Nadia memberi pengertian.
Ketiganya menganggukkan kepala mengerti kemudian memeluk nenek dan kakeknya yang sedari tadi tersenyum melihat interaksi mereka dengan Nadia. Para orang dewasa hanya berharap kalau dengan hadirnya ketiga anaknya nanti bisa membuat Andre jauh lebih tenang.
Hari ini pun Abel dan Anara memutuskan untuk tidak ke sekolah. Mereka ingin menunggu Andre terbangun dari tidurnya setelah tahu bahwa papanya telah sadar. Sedangkan kedua orangtua Nadia harus segera pulang ke rumah.
__ADS_1
"Ini dua anak enak banget ya, nggak sekolah ya nggak dimarahin. Kalau dulu Nadia sehari bolos aja udah dimarahin tujuh hari tujuh malam" batin Nadia sambil geleng-geleng kepala.
***
Enghhhh...
Suara lenguhan seseorang yang baru terbangun dari tidurnya pun seketika mengalihkan pandangan semua orang yang tengah fokus menonton tayangan TV. Semuanya segera berdiri kemudian mendekat kearah Andre yang tengah mengerjapkan matanya berulang kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke mata.
"Papa..." seru Abel, Anara, dan Arnold dengan ceria.
Tak ada raut takut di wajah ketiga anak itu saat melihat keadaan wajah papanya yang diperban tebal. Bahkan ketiganya menampilkan wajah cerianya didepan sang papa sesuai dengan perintah Nadia agar Andre tidak sedih dan cepat sembuh.
Melihat ketiga bocah kecil itu ingin naik keatas brankar tempat tidur Andre, segera saja Nadia dan Papa Reza menahannya. Mereka tak ingin anak-anak Andre itu tak sengaja menyenggol anggota tubuh dari laki-laki itu yang sakit.
Dengan pasrah ketiganya menganggukkan kepala kemudian dibantu Nadia untuk duduk di kursi sebelah brankar tempat tidur Andre. Sedangkan Andre hanya melihat semua orang yang berada disana dengan tatapan datarnya.
"Papa, Anara senang deh akhirnya papa udah bangun. Nanti kita bisa main-main lama sama kakak Abel dan adek" ucap Anara dengan antusiasnya.
"Iya, semoga papa cepat sembuh ya. Biar kita bisa main dan jalan-jalan bersama lagi" timpal Abel dengan senyumannya.
Sedangkan Arnold hanya mengernyitkan dahinya heran, pasalnya papanya itu tak menanggapi apapun celotehan dari kedua kakaknya. Wajahnya pun terlihat datar dan tak antusias seperti Anara dan Abel. Nadia, Mama Anisa, dan Papa Reza juga bingung dengan perubahan sikap Andre saat ini.
__ADS_1
"Tidak ada main dan jalan-jalan" sentak Andre tiba-tiba.
"Main saja sana dengan papa baru yang bisa jalan" lanjutnya.
Semua yang ada disana tentunya terkejut dengan sentakan bernada tinggi yang keluar dari mulut laki-laki itu. Baru kali ini Andre mengeluarkan nada tinggi untuk anak-anaknya. Anara yang baru pertama kali mendapatkan bentakan pun langsung turun dari kusi kemudian menyembunyikan tubuhnya dibelakang Nadia.
Sedangkan Abel yang masih belum keluar sepenuhnya dari rasa trauma seketika kembali histeris dan mengingat masa lalunya kembali. Papa Reza yang melihat hal itu langsung menggendong Abel.
"Papa jahat. Papa jahat kaya mama yang suka bentak-bentak Abel. Semuanya jahat, nggak ada yang sayang sama Abel hiks hiks" seru Abel sambil menangis histeris dipelukan Papa Reza.
Mama Anisa langsung mendekat kearah Arnold kemudian menggendongnya sambil menarik tubuh Anara yang masih ketakutan dibelakang Nadia. Terlihat sekali kalau Mama Anisa sangat kecewa dengan perubahan sikap Andre, namun ia juga tak bisa menyalahkan anaknya itu karena dia sedang berada didalam kondisi terendahnya.
Mama Anisa dan Papa Reza membawa ketiga anak kecil itu keluar dari ruangan Andre meninggalkan Nadia dengan laki-laki itu. Setelah melihat kedua orangtua Andre keluar, Nadia segera duduk disamping brankar tempat tidur kekasihnya itu. Tak ada eskpresi apapun yang ditunjukkan oleh Andre saat melihat ketiga anaknya ketakutan dan menangis.
"Andre, aku tahu kalau saat ini kamu merasa di posisi yang terendah dalam hidupmu. Tapi cobalah kamu lihat diluaran sana, banyak orang yang divonis lumpuh selamanya namun mereka masih bisa bangkit dan bekerja seperti orang normal. Sedangkan kamu disini hanya lumpuh sementara, jika rutin minum obat dan terapi kamu juga akan kembali seperti semula" ucap Nadia dengan lembut.
"Kamu tak perlu khawatir denganku, anak-anak, dan kedua orangtuamu karena kami akan selalu ada disampingmu untuk melewati semua ini. Aku pun takkan pernah meninggalkanmu sekalipun kamu dalam kondisi fisik tak sempurna. Ndre, bersyukurlah karena kamu masih diberikan kesempatan kedua untuk hidup oleh Tuhan" lanjutnya dengan menatap dalam kearah mata Andre.
"Jadi, mari kita berjuang bersama-sama. Untuk kesembuhan kamu dan kebahagiaan kita semua" lanjutnya.
Ucapan dan tatapan Nadia yang begitu lembut membuat Andre terus menatap mata indah milik kekasihnya itu. Hanya ada pancaran ketulusan yang terlihat dari mata itu membuat Andre tersenyum dan merasa terpesona. Kini dirinya menyadari satu hal bahwa hidup tak selamanya dibawah dan diatas. Roda kehidupan itu terus berputar, maka kita harus siap jika suatu saat nanti kita berada di posisi bawah.
__ADS_1
Kini Andre juga menyadari kesalahannya karena membentak dan membuat takut ketiga anaknya padahal mereka tengah berusaha untuk menghiburnya. Setelah ini dia akan meminta maaf kepada ketiganya.