
Nadia, Andre, dan Papa Reza pulang ke rumah dengan hati yang bahagia. Bahkan sedari tadi Nadia terus memandangi foto USG yang didapatnya dari dokter kandungan. Usia kandungannya memasuki 3 minggu dalam kondisi yang sehat dan normal. Sedangkan Andre dan Papa Reza juga terus menyunggingkan senyum kebahagiaan karena sebentar lagi akan mendapatkan anggota keluarga baru.
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Papa Reza memasuki halaman rumah keluarga Farda. Saat ketiganya turun dari mobil, mereka sudah disambut oleh Mama Anisa juga ketiga bocah kecil yang kedua pipinya telah basah dengan air mata. Andre segera memapah istrinya yang masih sedikit lemas untuk mendekat kearah mereka.
Sontak saja ketiga anak kecil itu langsung menghambur kedalam pelukan Nadia dan Andre sambil menangis pilu. Tangisan histeris mereka sungguh menyayat hati bagi yang mendengarnya. Sangat kelihatan sekali kalau ketiganya khawatir dan begitu ketakutan jika terjadi sesuatu dengan Nadia.
"Unda... hiks..." panggil Arnold sambil menangis.
"Bunda nggak kenapa-kenapa kok, cuma butuh istirahat sebentar aja" ucap Nadia sambil mengelus kepala ketiga anaknya itu.
"Jangan sakit lagi, bunda" ucap Abel dan Anara bersamaan dengan masih terisak.
Nadia menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Mereka pun akhirnya masuk kedalam rumah dengan pelan, bahkan ketiga anak kecil itu sama sekali tak mau jauh dari Nadia. Sesampainya di ruang keluarga, Nadia segera duduk dan langsung dikerumuni oleh ketiga bocah kecil itu. Bahkan Arnold sampai mendorong kaki papanya agar segera menyingkir dari dekat Nadia.
"Minggil papa" ucap Anold sambil mendorong kaki Andre.
Andre hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah ketiga anaknya itu kemudian menyingkir dari dekat Nadia. Arnold duduk di sebelah Nadia dengan Abel disampingnya begitu pula dengan Anara yang dekat dengan bundanya itu. Ketiganya saling memeluk Nadia dengan erat seakan tak ada hari esok lagi.
***
"Jadi Nadia sakit apa?" tanya Mama Anisa memecah keheningan di ruang keluarga itu.
"Nadia nggak sakit ma" jawab Andre dengan santai.
__ADS_1
Mama Anisa terdiam sejenak begitu pula dengan ketiga cucunya yang begitu mendengarkan tentang penyakit Nadia. Pasalnya mereka khawatir jika Nadia mempunyai penyakit yang serius sehingga harus mendengarkan penjelasan papanya. Namun yang mereka lihat kini adalah Andre justru tersenyum sumringah kemudian menyerahkan sebuah amplop putih kearah Mama Anisa.
Mama Anisa membuka amplop putih itu kemudian matanya terlihat berkaca-kaca. Ia segera mendekat kearah menantunya kemudian menciumi keningnya berulang kali. Hal ini tak luput dari pemandangan ketiga bocah kecil yang sangat penasaran dengan apa yang terjadi.
"Unda cakit apa, nek?" tanya Arnold dengan menarik-narik baju yang dikenakan neneknya.
"Mama kalian nggak sakit" ucap Mama Anisa dengan antusias.
"Ndak cakit imana cih? Olang adi awa ke lumah cakit tok" kesal Arnold.
Tanpa menjawab Arnold, Mama Anisa membawa tangan kecil bocah itu keatas perut Nadia. Hal itu juga sama dilakukan pada Anara dan Abel. Mama Anisa mengusap pelan perut menantunya bersamaan dengan ketiga cucunya.
"Disini, ada adik kalian. Kalian akan punya adik baru" seru Mama Anisa.
Ketiganya bangkit dari duduknya kemudian berjalan pergi dari ruang keluarga tanpa berpamitan. Ketiganya berjalan naik keatas tangga menuju ke lantai 2, seperti mereka akan pergi ke kamar. Ada setitik kesedihan di hati Nadia saat melihat wajah sendu yang diperlihatkan ketiga anaknya.
***
Sesampainya di kamar, ketiga bocah kecil itu terduduk dengan lesu diatas kasur mereka. Tak ada pembicaraan apapun diantara mereka, hanya terlihat pandangan mata yang kosong.
"Kita jangan ngrepotin atau manja-manja lagi sama bunda. Ada adek bayi didalam perutnya yang nggak memungkinkan kita untuk diantar jemput lagi kalau ke sekolah" ucap Abel tiba-tiba.
"Kak Abel, dulu bunda pernah bilang kalau dia nggak akan pernah beda-bedakan kita sama anak kandungnya lho. Berarti kita masih bisa dong manja-manjaan sama bunda" sanggah Anara tak terima.
__ADS_1
"Beda dong. Pasti bunda dan papa lebih sayang sama adik baru daripada kita buktinya aja tadi semuanya langsung heboh dan antusias dengar kalau dia sedang hamil" ucap Abel dengan lesu.
Arnold hanya diam mencoba mencerna ucapan kedua kakaknya itu, sedangkan Anara kini wajahnya tampak sangat lesu. Dia masih belum siap berbagi kasih sayang dengan adiknya terlebih baru beberapa bulan saja dia dengan kedua saudaranya mendapatkan hal itu.
"Kak Bel dan Nala enang aja, unda dan papa ndak akan tayak ditu. Becok talo meleka tayak ditu bial Anol tegul dan malahin. Talo pelu ita ucil dali lumah ini" ucap Arnold dengan kedua tangannya mengepal keatas.
Sebenarnya Arnold juga merasa belum siap dan ada sedikit rasa kecewa karena bundanya sudah mendapatkan seorang anak kandung. Namun dia juga tak bisa menyalahkan bundanya karena itu memang sudah takdir dari Tuhan.
"Amang adek bisa usir papa dan bunda dari rumah ini? Ini kan rumah mereka" ucap Anara.
"Ini lumah Anol, meleka cuma umpang" ucap Arnold dengan percaya dirinya.
Akhirnya Anara dan Abel sudah sedikit lebih tenang karena mendengar ucapan dari Arnold. Bahkan kini ketiganya sudah lebih ceria dengan berbincang seru mengenai sekolah mereka. Apapun itu akan Arnold lakukan demi membahagiakan dan menjaga kedua kakaknya walaupun ia harus bertingkah serta berbicara hal konyol.
Tanpa mereka sadari, ada beberapa pasang mata dan telinga yang seari tadi mendengar bahkan melihat bagaimana kuatnya persaudaraan mereka. Mereka begitu terenyuh dengan ucapan-ucapan polos ketiganya, bahkan sedikit tersentil karena tak memikirkan perasaan ketiga bocah kecil itu.
"Angan cuka intip-intip, anti intitan" seru Arnold tiba-tiba.
Ternyata kehadiran beberapa orang yang sedari tadi mengintip itu telah diketahui oleh Arnold. Bahkan lelaki kecil itu telah mengetahuinya sejak mereka datang namun membiarkannya saja. Kepekaan Arnold dengan keadaan sekitar membuatnya dengan mudah memahami situasi yang terjadi.
Akhirnya beberapa orang yang ada didekat pintu kamar itu masuk kedalam kamar milik ketiga bocah kecil itu. Mereka adalah Nadia, Andre, Mama Anisa, dan Papa Reza. Keempatnya masuk lalu berjalan mendekat kearah mereka dengan senyuman manisnya.
"Angan cenyum anis-anis, ental Anol dabetes" seloroh Arnold.
__ADS_1
Sontak saja para orang dewasa tertawa mendengar candaan yang dilontarkan oleh Arnold. Suasana yang tadinya begitu canggung ketika masuk perlahan mencair. Mereka akhirnya tertawa bersama sebelum memberikan pengertian tentang apa yang terjadi kepada ketiga bocah kecil itu.