
"Em... Sebenarnya om polisi mau nanya nih sama kejadian di pukulnya kaki Arnold. Itu gimana kejadiannya sih?" tanya polisi itu dengan hati-hati.
Semua orang di dalam ruang rawat inap itu langsung menatap fokus kearah Arnold yang tiba-tiba terdiam tanpa ekspresi. Bahkan kini tatapan matanya sudah berbeda dari yang tadi membuat Andre dan Nadia was-was.
Nadia bahkan langsung mendekat kearah brankar anaknya itu dengan duduk berseberangan polisi. Ia mengelus kepala Arnold dengan lembutnya agar sang anak bisa segera sadar dari dunianya sendiri.
"Bunda, sakit. Kaki Arnold dipukuli pakai sapu, padahal aku udah minta ampun dan berhenti tapi mereka terus memukulnya" ucap Arnold lirih dengan mata berkaca-kaca.
"Kaki Arnold sakit, bunda. Rasanya kaya mau digunting-gunting, kenapa ibu guru jahat padahal Arnold cuma mau nolongin Nilam yang mau dipukul" lanjutnya sambil menangis.
Nadia yang sudah tak tahan dengan ucapan anaknya pun langsung memeluk badan Arnold yang gemetaran. Nadia mengelus punggung anaknya yang kini tambah meracau membuatnya tak tega. Bahkan dokter dan perawat sudah disiagakan disana jika terjadi sesuatu.
"Arnold nggak mau sekolah lagi bunda..." teriaknya.
Para polisi disana yang mendengar teriakan Arnold pun terkejut, ternyata memang benar apa yang dikatakan Andre dan beberapa dokter yang merawatnya bahwa kondisi psikisnya belum siap menceritakan kejadian itu. Bahkan kini Arnold sudah menangis histeris dalam pelukan bundanya itu.
"Iya sayang, nggak sekolah lagi" pasrah Nadia sambil terus mengelus punggung anaknya dengan lembut.
Andre bahkan langsung meraih Arnold dalam gendongannya sesuai saran dokter agar dilakukan metode pendekatan. Anak harus dibuat aman dan nyaman hingga beberapa menit berlalu tangis itu mereda. Bahkan kini sudah terdengar dengkuran halus yang artinya Arnold tertidur walaupun masih ada isakan.
"Mohon maaf, pak. Sepertinya kondisi anak saya belum bisa ditanyai tentang kejadian waktu itu secara mendalam" ucap Nadia meminta maaf.
__ADS_1
"Tak apa, bu. Kami mengerti, mendengar pengakuan dan melihat kondisi ananda Arnold seperti ini pun sudah membuktikan bahwa kejadian itu memang benar adanya" ucap polisi itu.
Walaupun jawaban itu terkesan biasa saja, namun Andre merasa tersinggung dengan ucapan salah satu polisi itu. Bahkan kini Andre langsung menyerahkan Arnold yang tertidur dalam gendongannya kedalam gendongan istrinya. Dengan wajah penuh amarah, Andre menatap tajam kearah polisi itu.
"Jadi selama beberapa hari ini anda pikir kejadian ini bohongan? Bahkan video CCTV itu sudah menyebar kemana-mana, harusnya dari pihak anda bisa meneliti kejadian itu asli atau palsu" ucap Andre sambil menunjuk kearah polisi itu.
Ia tak terima laporannya diragukan oleh pihak berwajib. Bahkan Andre bukanlah tipe orang yang akan mengadu ke pihak berwajib jika itu bukanlah sesuatu yang serius. Bisa saja ia menonjok atau membalas perlakuan kedua wanita itu secara langsung, namun pasti kalau pihak sana tak terima akhirnya dia sendiri yang akan terkena masalah.
Bahkan kini Papa Reza dan pengacaranya langsung memegang kedua tangan Andre agar tak berbuat yang bisa merugikan mereka. Sedangkan para polisi juga sudah siap siaga agar bisa melerai jika terjadi pertengkaran. Seorang dokter yang memeriksa Arnold mendekat kearah mereka.
"Saya pastikan 100% jika pasien anak Arnold memang benar kondisi psikisnya terganggu. Kondisi tubuhnya memang baik-baik saja, namun jika mengingat kejadian itu langsung saja akan membuat traumanya kembali. Ini saya berikan medical report kesehatan pasien selama dirawat disini. Jika memang tak percaya, silahkan cari dokter lain untuk memeriksa keadaan Arnold" ucap dokter itu sambil menyerahkan sebuah map pada pihak kepolisian.
"Maat atas ketidaknyamanannya dengan ucapan saya yang mungkin menyinggung. Kami akan membawa ini ke kantor sebagai tambahan bukti. Kalau begitu kami permisi kembali ke kantor, terimakasih" ucap polisi itu yang kemudian pergi diikuti anggota yang lainnya.
Dokter dan perawat pun keluar dari ruang rawat inap Arnold setelah berpamitan pada semuanya. Andre menetralkan emosi yang membuncak dalam dadanya karena merasa diremehkan seperti ini. Sedangkan Papa Reza dan pengacaranya hanya bisa menenangkan Andre agar tak melakukan hal-hal yang merugikan.
***
"Tok ada iyem-iyem?" tanya Alan yang tiba-tiba masuk bersama dengan Mama Anisa.
Alan yang tadinya sedang makan siang bersama dengan neneknya langsung masuk tanpa mengetuk pintu ruang rawat inap kakaknya itu. Alan melihat semua orang berwajah tegang bahkan terdiam seperti orang menahan amarahnya.
__ADS_1
"Iya pada diam soalnya abang baru tidur" jawab Nadia sambil meletakkan Arnold diatas brankarnya.
Semua orang tak ada yang menjawab karena sedang menetralkan emosi yang membuncak dalam dada, sehingga Nadia memilih untuk buka suara. Ia tak mau jika anaknya Alan itu nanti malah ketakutan melihat wajah-wajah penuh emosi itu. Alan menganggukkan kepalanya kemudian berjalan mendekat kearah sang bunda.
"Bang tok idul elus cih unda?" tanya Alan memperhatikan wajah pucat abangnya.
"Kan abangnya masih sakit, nak. Jadi harus banyak istirahat dengan tidur" jawab Nadia tersenyum lembut.
Alan meminta gendong Nadia kemudian menyuruhnya untuk membawanya duduk diataa brankar milik Arnold. Nadia pun menurutinya bahkan Alan dengan girang langsung menciumi pipi gembul Arnold.
"Napa ipi bang embul, una Alan ndak? Adhal ita cama-cama akan asi tama auk mpe" ucap Alan sambil memiringkan wajahnya.
Ia terlihat begitu penasaran dengan pipi kakaknya yang kini bertambah bulat padahal dirinya yang masih kecil saja sudah tirus. Wajah Alan memang lebih dominan tegas sedangkan Arnold lucu dan menggemaskan. Terlebih Alan tak meminum ASI sejak awal membuat pertumbuhan dan perkembangannya berbeda.
Nadia terkikik geli melihat anaknya yang menatap polos kearah kakaknya seakan sedang bertanya. Padahal Arnold telah tertidur lelap bahkan tak terganggu sama sekali dengan ocehan adiknya. Sungguh kehadiran Alan bisa menggantikan Arnold yang kini sedang terbaring lemah.
Tingkah dan ocehan lucunya itu bisa mencairkan suasana yang awalnya panas menjadi lebih tenang. Bahkan Andre dan Papa Reza pun langsung bergabung kemudian dengan antusias memperhatikan wajah Alan yang berganti-ganti ekspresi.
"Unda, ecok tlo ede Alan engen adi tayak bang ya. Yan pembelani dan clalu intal cali wewek" ucap Alan dengan tatapan penuh harap kepada Nadia.
Nadia hanya bisa mengelus dadanya sabar ketika kedua anaknya yang masih kecil sudah membicarakan tentang cewek. Padahal usia mereka ini harusnya hanya membicarakan tentang pertemanan saja. Sedangkan Andre dan Papa Reza hanya bisa tertawa mendengar ucapan Alan yang ingin seperti abangnya yang bandel itu.
__ADS_1