Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Kehidupan Baru


__ADS_3

Nadia sudah diijinkan pulang ke rumah walaupun setiap minggunya akan ke rumah sakit untuk menjalani terapi juga check up. Kabar ini tentu saja membahagiakan bagi mertua juga keempat anaknya, bahkan sedari pagi mereka sudah sibuk menyiapkan kejutan untuk wanita itu.


"Alan napa diam aja? Kita kerja capek-capek tapi kamunya cuma rebahan aja" gerutu Arnold yang melihat adiknya hanya diam sambil bergulingan di karpet.


"Papapa... Cacaca... Hahaha..." oceh Alan tak jelas sambil terus bergulingan.


Padahal Arnold sedari tadi juga tak mengerjakan apa-apa sedangkan kedua kakaknya sibuk membuat sebuah lukisan untuk bundanya sebagai kejutan. Bahkan bocah laki-laki itu hanya sibuk mengomentari kedua kakaknya yang sedang membubuhkan warna pada lukisannya. Ia bagaikan komentator yang sibuk mengkritik lukisan kedua kakaknya.


"Itu harusnya warnanya hitam atau abu-abu" kritik Arnold saat melihat Anara mewarnai sebuah awan dengan warna biru.


"Mana ada awan warnanya hitam atau abu-abu" kesal Anara.


"Ada dong, awan mendung itu warnanya hitam atau abu-abu" ucap Arnold santai.


Anara yang menddengar jawaban dari Arnold pun merasa sangat kesal. Adiknya itu sangat pintar berbicara membuatnya selalu kalah dalam berdebat. Tanpa menghiraukan adiknya yang terus mengomentari warna pada gambarnya, Anara segera saja melanjutkan kegiatannya.


"Kakak Abel, itu kenapa daunnya warna hijau. Harusnya kan cokelat" ucap Arnold mengganggu saudaranya yang lain.


"Dari dulu daun warnanya hijau, dek. Mana ada yang cokelat" ucap Abel dengan raut wajah herannya.


"Ada ya, daun yang layu itu warnanya cokelat" jawab Arnold.


"Tapi disini daunnya masih segar jadi warnanya hijau" ucap Abel menjelaskan.


"Wah... Kakak nggak cerdas kaya Arnold. Yang namanya pohon itu pasti ada daun yang layunya, nggak mungkin semuanya segar begitu" ucap Arnold tak mau kalah.


Akhirnya Abel memilih mengalah dan diam saja daripada terus berdebat dengan Arnold yang membuat dirinya emosi. Sedangkan Arnold langsung merebahkan tubuhnya disamping Alan setelah tak mendengar kakaknya menanggapi ucapannya.


"Gimana ini, dek? Kok kakak Abel dan Nara nggak cerdas kaya Arnold ya" ucap Arnold dengan percaya dirinya berbicara dengan Alan.

__ADS_1


Bahkan kini Alan langsung saja memeluk Arnold yang ada disampingnya seakan mengerti bahwa kakaknya itu sedang memuji dirinya sendiri. Arnold pun langsung saja memeluk balik adiknya lalu mereka tanpa sadar tertidur sambil berpelukan. Mama Anisa yang baru saja datang dari dapur hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kedua cucunya yang tertidur itu. Ia yakin jika saat besar nanti, kedua cucu laki-lakinya itu akan mempunyai sifat yang sama persis.


"Kalian udah siap nyambut bunda? Sebentar lagi mereka akan sampai" ucap Mama Anisa.


"Siap nek" pekik keduanya tertahan karena tak mau mengganggu tidur adiknya.


"Mereka dibangunkan enggak, nek?" tanya Abel.


"Nggak usah, kasihan pasti mereka capek karena bangun kepagian tadi" ucap Mama Anisa.


Memang benar, Arnold dan Alan tadi pagi bangun kepagian karena terlalu bersemangat untuk memberikan kejutan pada Nadia. Namun bukannya menyiapkan sesuatu untuk Nadia, mereka berdua asyik rebahan dan mengganggu kedua kakaknya. Padahal Nadia akan pulang pada siang menjelang sore hari namun Arnold tetap saja kekeh tetap bangun pagi.


***


Menjelang sore hari, Nadia telah sampai didepan rumah dengan didampingi oleh Papa Reza dan Andre. Andre segera mendorong kursi roda milik Nadia dengan penuh semangat. Bahkan sedari tadi senyuman manis terus terukir dari bibir Nadia dan Andre. Setelah sekian lamanya, akhirnya keduanya bisa menginjakkan kakinya di rumah ini lagi.


"Gimana nggak lama, sayang? Udah setahun lebih lho" ucap Andre dengan terkekeh pelan.


"Bukannya kamu juga nggak pernah pulang semenjak Nadia koma" sindir Papa Reza.


Andre yang mendengar sindiran dari papanya pun hanya terdiam sambil menggerutu dalam hati pasalnya rahasianya dibongkar oleh Papa Reza didepan istrinya. Nadia yang mendengar hal itu merasa sedikit bersalah karena ternyata ketika dirinya koma, banyak orang yang ia repotkan.


"Bunda...." seru Anara dan Abel menyambut Nadia didepan pintu masuk.


Nadia tersenyum kemudian merentangkan kedua tangannya agar anaknya itu masuk dalam pelukannya. Abel dan Anara langsung saja berlari dan masuk dalam pelukan bundanya.


"Selamat datang kembali, bunda. Kita mulai kehidupan baru ini sama-sama ya. Maafkan Arnold dan Alan yang tak ikut meyambut karena mereka berdua malah molor" ucap Abel sambil mengadu kelakukan kedua adiknya itu.


Sontak saja semua orang disana tertawa mendengar aduan dari Abel. Bahkan Nadia yang awalnya terharu karena ada yang menyambutnya pulang langsung saja tertawa mendengar kelakuan dua anak laki-lakinya.

__ADS_1


"Sudah, jangan kita bicarakan orang yang sedang molor. Ayo masuk" ajak Mama Anisa dengan terkekeh pelan.


Mereka pun akhirnya masuk kedalam dengan hati yang bahagia. Bahkan Mbok Imah juga menyambut kepulangan Nadia dengan menyiapkan berbagai menu spesial. Saat sampai di ruang keluarga, mereka melihat dua bocah laki-laki yang tertidur sambil berpelukan.


"Besok kalau tingkah Alan kaya Arnold, dijamin deh ini rumah dipenuhi cuitan keduanya" ucap Mama Anisa.


"Kelakuan bahkan tingkah mereka berdua memang sangat mirip padahal bukan saudara kandung" ucap Papa Reza sambil geleng-geleng kepala.


"Walaupun bukan saudara kandung, Nadia harap mereka bisa hidup rukun dan saling menjaga satu sama lain" ucap Nadia sambil tersenyum.


Mereka hanya mengaminkan harapan Nadia itu dalam hati. Mereka juga berharap bahwa keluarga ini akan terus hidup rukun dan saling menjaga antar sesama. Anara dan Abel yang sudah mengerti apa yang dibicarakan pun langsung saja memeluk Nadia juga Andre.


"Kita pasti akan saling menjaga satu sama lain, apalagi Arnold yang sangat posesif" ucap Anara.


Mereka menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan Anara tentang Arnold yang sangat menjaga bahkan cenderung posesif pada kedua kakak perempuannya. Bahkan Arnold sering menegur kakaknya kala didekati oleh teman laki-lakinya.


"Kita makan dulu yuk" ajak Papa Reza.


Mereka semua akhirnya memutuskan pergi ke ruang makan untuk makan sore bersama meninggalkan dua bocah laki-laki yang masih tertidur pulas. Dengan sabar Andre mengambilkan makanan ke dalam piring Nadia juga kedua anaknya.


"Terimakasih papa" ucap Nadia sambil tersenyum manis.


"Sama-sama bunda" jawab Andre.


Pemandangan itu begitu membahagiakan bagi kedua orangtua Andre begitu juga dengan Anara dan Abel. Mereka bersyukur karena mempunyai orangtua yang lengkap bahkan saling menyayangi. Saat semua fokus dengan makanannya, tiba-tiba saja terdengar pekikan keras dari pintu masuk ruang makan.


"Napa makan ndak ajak-ajak Arnold dan Baby Alan? Mana ndak bangunin juga kalau bunda udah pulang" pekik Arnold sambil berkacak pinggang.


Bahkan kini Alan sudah merangkak disampingnya untuk mengikuti jalannya. Keduanya menatap mereka semua yang sedang makan dengan memelototkan kedua matanya.

__ADS_1


__ADS_2