Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Balasan Nadia 2


__ADS_3

Brakkk....


Bunyi suara dobrakan pintu yang ditendang begitu memekakkan telinga. Semua orang yang berada dalam ruangan itu mengalihkan pandangannya kearah pintu yang sudah rusak bahkan engselnya ada salah satu yang terlepas saking kuatnya tendangan itu. Didepan pintu itu ada dua orang wanita dengan kedua tangan disilangkan tepat pada dadanya.


Melihat hal itu seorang guru senior yang memang kenal dengan dua orang wanita itu membelalakkan matanya terkejut. Guru itu adalah Ibu Hamid yang tadi menegur dan berbincang dengan Nadia di ruang tunggu siswa. Ibu Hamid adalah satu-satunya guru senior yang masih bekerja disana, sedangkan yang lainnya merupakan orang baru.


Ibu Hamid bahkan langsung berdiri dari duduknya sedangkan yang lainnya tampak diam di tempatnya. Mereka sama sekali tak mengenal dengan dua orang wanita yang baru saja datang dan mendobrak pintu itu.


"Tidak punya sopan santun. Kalau mau masuk ya ketuk pintu dulu jangan asal dobrak. Rusak kan tuh pintu, emang kalian bisa bayar buat perbaikinnya?" ketus salah satu oknum guru yang tadi siang Nadia lihat ikut menyiksa anaknya.


Ibu Hamid yang mendengarnya langsung mengalihkan pandangannya kearah suara itu berasal. Ia menatap seorang guru yang baru 3 bulan mengajar disini itu dengan tatapan tajamnya. Bahkan dia belum tahu saja asal usul dari dua wanita didepannya ini yang bahkan bisa membeli sekolah ini jika mau.


Mungkin orang-orang baru yang bekerja di sekolah itu hanya tahu jika yang menempuh pendidikan disana adalah orang-orang biasa. Dalam pikiran mereka tentunya kalau orang kaya akan memilih pendidikan di sekolah internasional. Bahkan kini Mama Anisa yang sudah terlihat geram pun melangkahkan kakinya menuju guru itu.


Arrrghhhh....


Mama Anisa segera saja memegang kerah pakaian milih guru perempuan muda itu bahkan sengaja mengeratkannya. Tentunya guru itu merasa ketakutan dan langsung berteriak sedangkan yang lainnya memilih berdiri dan sedikit menjauh.


"Sepertinya yang harus diajari sopan santun itu anda" ucap Mama Anisa dengan sinis.


"Bukan lagi harus diajari sopan santun, ma. Tapi perempuan ini haruslah diajari bagaimana cara mendidik anak kecil tanpa kekerasan" sindir Nadia.

__ADS_1


"Jadi dia yang membuat cucuku terluka?" tanya Nadia meminta penjelasan.


Nadia menganggukkan kepalanya membuat Mama Anisa bertambah mengeratkan cekikannya. Ia sungguh kalap jika sudah behubungan dengan cucu juga keluarganya yang lain. Terlebih kini Arnold yang harus terbaring di ranjang rumah sakit membuatnya semakin tak terkendali.


Perempuan muda yag berstatus menjadi guru baru itu semakin memberontak bahkan memegang kedua tangan Mama Anisa agar melonggarkan cekikannya. Namun Mama Anisa takkan pernah mentolerir apapun itu, sedangkan kini Ibu Hamid yang paling tau disana begitu panik dan kebingungan.


Hari ini setelah pulang sekolah memang diadakan rapat membahas mengenai kegaduhan yang tadi dilaporkan oleh salah satu penjaga sekolah. Ia tak menyangka jika orangtua wali dari Arnold dengan secepat ini bisa langsung ke sekolah sebelum mereka mencari solusi dari permasalahan yang terjadi.


"Punya apa kau sampai berani merusak mental cucuku? Mungkin luka di fisiknya bisa sembuh seiring berjalannya waktu, namun sakit didalam hati dan pikirannya? Apa kau bisa menjamin kalau sakit itu akan sembuh dalam beberapa hari?" sentak Mama Anisa.


Walaupun Mama Anisa belum mengetahui kondisi Arnold yang sebenarnya, namun dapat dipastikan kalau mentalnya akan kena. Terlebih dulunya Arnod punya trauma akan bentakan yang tentunya bisa kapan saja kambuh. Guru muda itu ketakutan pasalnya ternyata wanita paruh baya didepannya ini adalah nenek dari anak yang dipukuli kakinya tadi.


Melihat Nadia membawa sapu dan mendekat kearahnya, guru yang satunya itu ketakutan bahkan langsung melangkahkan kakinya mundur perlahan. Baginya Nadia seperti seorang eksekutor yang siap mengeksekusi seorang tersangka.


"Kamu tadi hanya melihat dan meremehkan rasa sakit di kaki anak saya, maka rasakan juga apa yang anda lihat" seru Nadia.


Nadia dengan sigap berlari kecil kemudian memukulkan sapu yang dibawanya itu pada kaki sang guru. Guru yang mendapatkan serangan mendadak bahkan gerakan yang begitu cepat itu sudah tak bisa mengelak lagi hingga terjatuh.


Bugh... Bugh... Bugh....


"Rasakan ini, kau bilang tadi nggak sakit kan kalau dipukul kaya gini? Maka rasakan akibat dari ucapanmu tadi" sentak Nadia dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Bugh... Bugh... Bugh...


Sungguh Nadia begitu kalap menghajar orang yang telah melukai kaki anaknya itu. Walaupun mungkin guru itu tak ikut memukul kaki anaknya dan hanya diwakili oleh muridnya namun tetap saja itu karena ucapan oknum-oknum tak bertanggungjawab itu yang menyuruhnya. Nadia tak bisa membayangkan bagaimana anaknya menahan sakitnya sampai akhirnya pingsan seperti itu.


"Akan saya laporkan kalian ke pihak berwajib karena menganiaya kami" seru guru yang masih dicekik oleh Mama Anisa.


Ternyata perempuan muda itu tak ada kapoknya malah mengancam ingin melaporkan ke pihak yang berwajib. Sedangkan guru-guru lain saat ini langsung saja membantu kedua rekannya yang kini tengah kesakitan. Ibu Hamid berusaha melerai dengan menarik tangan Nadia juga Mama Anisa.


"Kita bicarakan ini secara baik-baik ya, bu" ajak Ibu Hamid dengan sopan.


"Saya akan menanggung semua biaya rumah sakit anak itu. Setelah pembayaran itu selesai, urusan ini juga sampai disini saja" ucap perempuan muda yang sudah dilepaskan cekikannya itu.


Ternyata ia masih berpikir bahwa segalanya bisa dibeli pakai uang. Bahkan uang pun menurut Nadia dan Mama Anisa takkan mampu membayar rasa sakit yang ada di hati anak juga cucunya. Perempuan muda itu masih menetralkan nafasnya setelah terlepas dari cekikan Mama Anisa karena tarikan tangan Ibu Hamid.


"Kami nggak butuh" sentak Nadia.


"Cukup... Kita duduk disini semua untuk membicarakan solusi dari permasalahan ini bukan untuk berdebat" seru Ibu Hamid melerai semuanya.


Nadia begitu geram dengan apa yang diucapkan oleh perempuan muda itu yang seakan menganggap remeh kesehatan mental yang diderita oleh anaknya. Akhirnya semua duduk di kursi yang ada disana namun dua guru yang menjadi tersangka itu sepertinya hanya bisa menatap remeh walaupun sudah diberi pelajaran. Nadia dan Mama Anisa menatap penuh kebencian pada perempuan muda yang tak pantas dengan gelarnya sebagai seorang pendidik.


Ibu Hamid memutar CCTV pada layar besar yang ada di ruangan itu untuk menyaksikan kebenaran dari peristiwa yang terjadi. Beruntung sekolah itu ada fasilitas CCTV yang aktif sehingga kejadian seperti ini tak bisa dimanipulasi. Semua menyaksikan detik demi detik kejadian itu dengan seksama. Bahkan Mama Anisa dan Nadia terlihat menahan nafasnya saat melihat anaknya dipukuli kakinya.

__ADS_1


__ADS_2