
Arnold dibawa ke taman rumah sakit oleh Papa Reza juga ketiga saudaranya yang lain. Dengan kursi roda yang masih didorong oleh Papa Reza, kelimanya melangkahkan kakinya menuju ke taman yang ada disamping gedung rumah sakit. Disana banyak sekali anak-anak juga orang dewasa yang tengah menikmati waktu sore harinya dengan saling bercanda.
Tak hanya pasien saja yang berada disana namun ada juga orang dewasa yang sepertinya tengah menjenguk yang sakit. Arnold dan ketiga saudaranya begitu antusias berada disana terlebih sudah lebih dari satu minggu tak pernah menghirup udara segar di taman bermain atau lainnya. Agenda mereka hanyalah menunggu didalam ruang rawat inap Arnold selama beberapa hari ke belakang ini.
"Wah... Ramai sekali" seru Anara dengan cerianya.
"Iya, bisa diajak lomba karung nih pasti seru" ucap Arnold asal.
Anara yang mendengar ucapan adiknya pun langsung membalikkan badannya kearah Arnold sambil berkacak pinggang. Mulutnya maju beberapa centi membuatnya seperti bebek. Entahlah setiap ucapan Arnold yang keluar dari mulutnya itu seakan membuatnya kesal bahkan gemas sendiri.
"Dikira mau lomba 17 Agustusan apa pakai mau balap karung. Lebih baik juga main petak umpet" ucap Anara julid.
Arnold yang mendengar itu hanya menatap acuh kearah kakaknya. Dia kan inginnya bermain balap karung kenapa kakaknya tak terima dan ingin petak umpet. Ah... Arnold sungguh kesal dengan kakaknya yang banyak aturan itu. Sedangkan Papa Reza yang melihat perdebatan kedua cucunya hanya bisa menghela nafas pasrah namun juga bahagia. Arnold sekarang sudah tak sependiam tadi saat berada di kamarnya.
"Dah... Ngan ada blantem, ebih aik ita uduk anis dicini cambil ikmati eklim aja" ucap Alan melerai perdebatan kedua saudaranya.
"Aku setuju dengan adek Alan" ucap Abel membela adiknya.
Alan dengan bangganya menepuk dadanya seakan ia telah membuat bangga semua orang dengan idenya. Dengan percaya dirinya juga, tangannya langsung mengacak-acak rambutnya hingga sedikit berantakan. Kemudian kedua tangannya ia lipatkan kedepan dadanya.
"Alan eman ebat" ucap Alan dengan gaya tengilnya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sontak saja gaya tengil Alan ini menghibur Papa Reza dan ketiga saudaranya. Bahkan beberapa orang yang memperhatikan juga ikut tertawa melihat apa yang dilakukan Alan. Papa Reza fokus memperhatikan Arnold yang kini tersenyum lebar karena mendengar celotehan adiknya. Matanya berkaca-kaca karena ternyata saudara-saudaranya sendiri bisa menjadi penghibur lara Arnold.
__ADS_1
"Ciapa dulu dong, adiknya Arnold" ucap Arnold dengan bangganya memuji sang adik.
Alan yang dipuji sedemikian rupa pun langsung bertepuk tangan dengan cerianya. Bahkan tawanya terdengar sangat renyah membuat Abel dan Anara ikut tersenyum. Tawa dengan memperlihatkan dua giginya yang sudah tumbuh tepat didepan membuat semuanya tertawa.
Mereka pun akhirnya memilih untuk bermain bola dengan teman-teman yang lainnya kecuali Arnold yang duduk sambil memperhatikan saudaranya. Alan yang berjalan tertatih dengan popok yang menebal tentunya membuat semua orang yang melihatnya merasa gemas terutama saat berlari. Sedangkan Anara dan Abel ikut bergabung dengan anak perempuan yang juga bermain bola.
"Ayo Alan, jangan mau kalah. Yang maju buat nendang bola itu kakinya bukan popoknya, dek" teriak Arnold.
Arnold menertawakan tingkah adiknya yang begitu menggemaskan karena saat diberi bola bukannya ditendang namun malah ia terduduk dengan menggunakan bolanya sebagai dudukan. Hal ini membuat gelak tawa orang dewasa yang menonton disana. Sedangkan Alan yang merasa ditertawakan hanya bisa mengerucutkan bibirnya kesal.
"Becok-becok Alan ndak au ake opok agi" gerutu Alan sambil bangkit dari duduknya.
Dengan gerakan seakan akan menendang bola, Alan mencoba menggerakkan kakinya namun yang terjadi adalah dia malah terbating di rumput. Ternyata bukan bola yang ditendangnya namun kaki sebelahnya membuat posisinya tak seimbang sehingga terjatuh.
Hampir ditertawakan oleh semua orang yang menonton membuat mata Alan berkaca-kaca. Hingga tak berapa lama tangisannya melengking begitu keras karena merasa malu dengan apa yang terjadi.
Huaaaaaa....
Anara dan Abel pun langsung saja membantu adiknya berdiri kemudian salah satunya menggendongnya kemudian diletakkannya di samping Papa Reza. Papa Reza dengan sigap memangku cucunya yang masih menangis kemudian mengusap punggungnya lembut.
"Gitu aja nangis" ledek Arnold.
"Adek nggak boleh jahilin Alan begitu" tegur Abel.
__ADS_1
Alan yang merasa dibela pun langsung mengeluarkan wajahnya dari dada sang kakek kemudian menatap kakaknya dengan meledek. Alan memeletkan wajahnya kepada Arnold yang langsung dibalas dengan gelitikan di ketiak adiknya itu.
"Bang akal..." seru Alan sambil memberontak di pangkuan kakeknya.
Papa Reza sampai kuwalahan melihat tingkah Alan yang ingin menghindari gelitikan Arnold. Akhirnya dari pada sang cucu jatuh membuat Papa Reza menurunkan Alan yang kemudian berlari menghindari Arnold. Sedangkan Arnold hanya tertawa saja melihat adiknya yang tak jadi menangis itu.
"Alan, kalau lari itu kakinya yang gerak jangan popoknya" seru Arnold sambil tertawa.
Melihat Arnold yang tertawa seperti itu membuat tawanya menular. Bahkan kedua saudara perempuannya juga tak kalah dari Arnold yang menertawakan adiknya. Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada tiga orang dewasa yang tengah memperhatikan mereka dengan rasa harunya. Mereka adalah Andre, Nadia, dan Mama Anisa yang sudah kembali dari kantor polisi.
"Unda, Alan ndak au ake opok agi. Akena mbalut aja taya unda" seru Alan saat melihat Nadia berada dibelakang Papa Reza dan ketiga saudaranya.
Mendengar seruan itu tentunya Papa Reza dan ketiga cucunya langsung memalingkan wajahnya ke belakang. Benar saja jika ketiganya sudah pulang dan ikut larut dalam suasana bahagia sore itu. Terlebih ucapan Alan yang ingin memakai pembalut daripada popok itu benar-benar mengundang tawa banyak orang.
"Mana bisa Alan pakai pembalut?" tanya Anara dengan bingung.
"Bica ja, tan mbalut uga nti bocol. Yan ada cayapna bial bica telbang" ucap Alan asal yang kemudian meminta gendong pada papanya.
Astaga... Semua orang dewasa itu hanya bisa mengelus dadanya sabar. Sepertinya ucapan asal Alan ini memang cocok jika disandingkan dengan Arnold. Mereka tertawa riang bersama mendengar celotehan dan perdebatan Arnold juga Alan.
Sore itu, kebahagiaan benar-benar terpancar dari semua orang terutama Arnold. Terlihat sekali jika wajahnya seperti tak ada beban terlebih selama beberapa hari ini tatapannya begitu sayu namun sekarang semuanya berbeda. Sore yang ceria didampingi oleh orang-orang yang dicintai tentu akan membuat suasananya jauh lebih menghangatkan.
"Terimakasih Alan, sudah membuat hari abang berwarna. Walaupun ucapanmu itu aneh seperti abang, tapi ini sangatlah menghibur. Tetaplah menjadi Alan titisan Arnold yang membuat keluarga kita penuh warna" batin Arnold sambil menatap langit sore yang sudah menampakkan senjanya.
__ADS_1