Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Penjualan Rumah


__ADS_3

Kini Papa Reza dan Andre duduk di kursi halaman dekat dengan pagar. Bahkan mereka berdua dengan niatnya membawa kursi-kursi itu untuk mereka pindahkan kesana agar tak kebauan dengan sampah yang berserakan atas ulah keduanya. Sedangkan Budhe Ana dan Pakdhe Ubid masih saja terikat didekat pintu rumah sambil berdiri.


"Reza, lepaskan kami. Kakiku sudah pegal ini kalau berdiri terus" seru Budhe Ana dengan wajah yang sudah bercucuran keringat.


Papa Reza dan Andre tak menanggapinya, justru mereka dengan santai makan makanan yang disediakan warga sekitar. Ini merupakan pelajaran bagi mereka yang dengan seenak jidatnya mengambil hak anak kurang mampu. Padahal dirinya sendiri sudah kaya namun dengan teganya menelantarkan Zunai dan Ega.


Mereka memang sengaja duduk disana karena sedang menunggu beberapa orang yang ingin melihat rumah ini. Tentunya Papa Reza serius dengan ucapannya yang ingin menjual rumah ini. Jika nanti hasilnya melebihi dari penjualan milik Lukman, ia akan memberikan kelebihannya pada Budhe Ana. Ia hanya ingin Zunai dan Ega makan dari hasil milik orangtuanya saja bukan mengambil punya oranglain.


"Lakukan apa yang kami perintahkan untuk menjual rumah ini agar kami juga bisa segera kembali. Aku takkan mengganggu kalian kalau sudah mendapatkan apa yang sudah menjadi hak dari Zunai dan Ega" sentak Papa Reza.


Nyali keduanya menciut melihat tatapan tajam yang dilayangkan Papa Reza dan Andre. Keduanya tak menyangka jika Papa Reza sekarang sudah menjadi orang berkuasa maka bisa dengan cepat mendapatkan pembeli rumah ini. Mereka sudah menolak untuk menjual rumah ini dengan akan mencicilnya buat mengganti uang penjualan itu namun Papa Reza menolaknya.


"Biar kami mencicil saja uang itu. Per bulannya akan kami kasih asalkan rumah ini tak dijual" mohon Budhe Ana.


"Tidak. Kalau rumah ini tak dijual, berikan kami uang cash secara keseluruhan. Tidak ada cicil mencicil karena setelah ini kami sudah tak mau ada urusan dengan kalian" sentak Papa Reza.


Akhirnya mereka mengalah karena terdesak dengan keadaan. Tentunya Papa Reza tak mau berurusan lagi dengan orang-orang didepannya ini karena pasti kalau mencicil akan sangat sulit mereka mengeluarkan uangnya. Yang ada mereka malah pusing sendiri mengurusnya.


Tak berapa lama, ada seseorang yang datang dan diikuti oleh beberapa karyawannya. Sepertinya dia adalah seseorang yang ingin membeli rumah ini. Papa Reza langsung mempersilahkan duduk kemudian mulai membahas mengenai penjualan rumah ini dimulai dari luas, harga, dan surat-suratnya.

__ADS_1


"Mana surat-surat itu?" seru Andre.


"Kami takkan membiarkan kalian menjual rumah ini" kekeh Budhe Ana.


"Kalau kalian masih kekeh, saya akan laporkan kasus ini ke polisi" ucap Andre dengan mengancam.


Dengan segera keduanya menggelengkan kepalanya ribut. Kalau dilaporkan polisi tentu saja mereka akan kalah telak. Terlebih Papa Reza mempunyai banyak bukti dan beberapa saksi yang memberatkan keduanya. Akhirnya dengan pasrah mereka menunjukkan dimana surat-surat rumah ini. Pak RT langsung memanggil notaris untuk memeriksa segala keabsahannya.


Papa Reza tentunya tak mau jika nantinya ditipu kembali oleh dua orang yang licik ini. Setelah semuanya sah dan memang asli, terjadi kesepakatan harga yang ternyata rumah ini laku lebih banyak dibandingkan dengan tanah dan bangunan milik Lukman. Bahkan pembayaran langsung saja dilakukan via transfer ke rekening milik Papa Reza.


"Terimakasih" ucap Papa Reza dengan senang hati.


Proses pembelian jual beli rumah ini hanya berlangsung sekitar satu jam. Bahkan pembeli sudah berkeliling dalam rumah ini sebelum menentukan harga yang cocok. Tentunya Pakdhe Ubid dan Budhe Ana hanya terdiam saat harus menandatangi semua berkas yang memang digunakan sebagai bukti perjanjian jual beli ini.


"Siap, pak. Senang bekerjasama dengan anda" ucap Papa Reza sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Setelah berjabat tangan, segera saja mereka pergi dari sana. Papa Reza dan Andre langsung mengacungkan kedua jempolnya pertanda apa yang mereka lakukan ini sudah sukses. Sedangkan Pakdhe Ubid dan Budhe Ana hanya bisa meratapi rumah mewah yang sebentar lagi bukan miliknya ini dengan tatapan sedih.


"Total uang penjualan rumah dan tanah milik Lukman hanya tiga perempatnya saja. Sisanya akan aku transfer ke rekening kalian" ucap Papa Reza dengan nada datarnya.

__ADS_1


Andre kini langsung saja melepaskan tali yang ada di ikatan keduanya. Keduanya langsung saja berjalan kearah kursi yang ada di teras kemudian duduk disana. Kaki keduanya gemeteran karena terlalu lama berdiri. Mereka sama sekali tak bisa bergerak bebas dan duduk karena ikatan tali itu dililitkan dari dada hingga paha. Sungguh kejam sekali keduanya itu memberikan pelajaran untuk mereka.


Para tetangga bahkan sedari tadi masih ada didekat gerbang sampai ada yang mengambil kursi untuk melihat kejadian "si kaya yang tertindas" ini. Tentunya Zunai masih ada di dekat Bu RT karena tak diijinkan untuk mendekat kearah Papa Reza dan Andre.


"Kejam sekali kalian sama saudara sendiri" ucap Pakdhe Ubid setelah meminum air mineral yang ada diatas meja.


"Playing victim. Bahkan kalian lebih kejam dari ini tapi malah nuduh kami" kesal Andre.


"Mana nomor rekeningnya" tanyanya.


Andre ingin segera pulang ke rumahnya karena sudah rindu dengan anak dan istrinya. Lagi pula disini hanya bisa membuatnya darah tinggi saja akibat mendengar ucapan dari dua orang pasangan paruh baya itu. Pakdhe Ubid menyerahkan segera ponselnya yang sudah ada nomor rekeningnya itu. Papa Reza segera mengirimkan uangnya kemudian menyerahkan selembar kertas bertuliskan "Surat Pernyataan" kepada Pakdhe Ubid.


"Silahkan isi dan tanda tangan disini. Setelah ini ku harap kalian tak mengganggu kehidupanku, Zunai, dan Ega lagi. Kalau sampai kalian mengganggu kami, akan ku laporkan kejahatan kalian semua pada pihak yang berwajib" ucap Papa Reza penuh dengan ancaman.


Pakdhe Ubid segera mengambil surat pernyataan itu kemudian membacanya sekilas. Memang surat itu hanya isi pernyataan kalau takkan pernah mengganggu kehidupan keluarga Papa Reza apapun yang terjadi. Terkesan sadis karena ini artinya Papa Reza akan memutus tali silaturahmi antar saudara. Namun ini lebih baik daripada ke depannya akan ada masalah yang rumit.


Beberapa saksi juga ikut bertanda tangan disana untuk menguatkan surat pernyataan itu. Setelahnya mereka segera pergi dari sana karena sudah tak ada yang perlu mereka lakukan lagi di rumah itu.


"Jangan lupa kosongkan rumah ini segera karena pembelinya sudah akan menempati. Bahkan uangnya juga sudah kalian terima" ucap Papa Reza sebelum berlalu pergi dari sana.

__ADS_1


"Tom... Atek..." seru seseorang dengan suara cadelnya dari dalam rumah Budhe Ana.


Hal ini membuat Papa Reza dan Andre yang tadinya akan pergi langsung menghentikan langkahnya. Mereka melihat kearah dalam rumah itu dan alangkah terkejutnya saat keduanya menatap seseorang yang ada didalam sana.


__ADS_2