Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Pernikahan


__ADS_3

Sebuah gedung aula hotel disulap menjadi ruangan pesta yang begitu mewah, megah, dan indah. Tatanan dekorasi modern dengan didominasi warna putih, biru muda, dan gold itu sungguh membuat semuanya terlihat hidup dan elegan. Hiasan bunga fresh warna putih dan biru begitu apik ditata dari pintu masuk hingga panggung pelaminan.


Papa Reza juga meminta bantuan pihak kepolisian setempat untuk melakukan penjagaan disekitar gedung. Khawatirnya ada kejadian yang tak diinginkan seperti kedatangan Sukma atau orang yang tak suka dengan keluarganya hingga melakukan kegaduhan pada acara anaknya. Terlihat sekali kalau saat ini penjagaan begitu ketat bahkan disisiri oleh beberapa anggota kepolisian.


Untuk akad nikah pagi pagi hari hanya akan dihadiri oleh tetangga dekat, keluarga, serta beberapa perwakilan dari desa tempat tinggal Nadia sesuai dengan apa yang diinginkan oleh gadis itu. Waktu menunjukkan pukul setengah 9 pagi, Nadia sudah berada di salah satu kamar hotel sedangkan Andre dan keluarganya kini telah sampai didepan gedung. Kedua orangtua Nadia juga berada disana untuk menyambut kedatangan besannya dan calon pengantin.


Andre dan keluarganya turun dari mobil hitam mewah dengan dibelakangnya langsung berjajaran orang-orang yang membantu membawa seserahan dan mahar untuk mempelai wanita. Andre dan keluarganya melangkahkan kakinya menuju gedung yang akan digunakan untuk prosesi akad nikah.


"Jangan gugup, Ndre. Bisa-bisa nanti kamu salah mengucapkan nama kan bisa kacau" goda Papa Reza sambil berbisik dari samping anaknya.


Posisi Andre saat ini diapit oleh Papa Reza dan Mama Anisa sedangkan ketiga anaknya berada didepan ketiga orang dewasa itu. Saat memasuki pintu gedung, kedua orangtua Nadia segera mengalungkan sebuah kalung dari rangkaian melati. Kemudian mereka menggandeng Andre untuk didudukkan di kursi akad nikah. Sedangkan kedua orangtua dan anak-anak dari Andre duduk tak jauh dari tempat akad nikah.


Andre duduk dengan gelisah bahkan sedari tadi memperbaiki posisi duduknya. Ia selalu teringat dengan godaan papanya yang mengingatkan agar tak salah mengucapkan nama. Hah... Mengingat itu saja membuat dirinya dilanda kegugupan. Walaupun ini bukan pertama kalinya bagi dirinya mengucapkan ijab kabul, namun tetap rasanya berbeda dengan yang dulu.


Tak berapa lama, Mama Anisa dan Ibu Ratmi berdiri untuk membawa Nadia masuk kedalam gedung mengingat penghulu dari KUA sudah duduk ditempatnya. Andre menunggu dengan debar jantung tak karuan.


Tuk... Tuk... Tuk...

__ADS_1


Suara langkah kaki menggema di gedung yang tengah dalam suasana hening itu. Semua tamu dan Andre segera saja mengalihkan pandangannya kearah pintu masuk gedung. Semuanya tertegun dan terpesona dengan kecantikan pengantin wanita yang terlihat anggun dan berkelas. Andre pun hanya bisa terbengong melihat kecantikan calon istrinya sedangkan Nadia menyunggingkan senyum malu-malu.


"Andre, jangan bengong" tegur Mama Anisa setelah selesai membantu Nadia untuk duduk di kursi samping anaknya.


Andre pun tersadar dari lamunannya kemudian menegapkan badannya menghadap kearah ayah Nadia yang ada didepannya. Setelah semuanya siap, maka prosesi ijab kabul pun dimulai. Semua tamu yang hadir seketika dalam mode hening agar prosesi itu hikmat dan sakral. Andre menjabat tangan Ayah Deno sebagai wali dari Nadia.


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau ananda Andrean Agustin Farda bin Reza Ernest Farda dengan anak kandung saya yang bernama Nadia Yerestia binti Deno Yulistio dengan maskawinnya berupa emas 25 gram dan uang 50 juta rupiah, tunai" ucap Ayah Deno dengan tegas.


"Saya terima nikah dan kawinnya Nadia Yeristia binti Deno Yulistio dengan maskawin emas 25 gram dan uang 50 juta rupiah, dibayar tunai" ucap Andre tak kalah tegasnya.


"Bagaimana saksi?" tanya penghulu kepada beberapa saksi yang dihadirkan.


Andre melepaskan jabatannya pada Ayah Deno dan langsung saja turun dari kursinya kemudian bersujud syukur karena telah berhasil menikahi kekasihnya. Nadia yang melihat hal itu matanya berkaca-kaca, sedangkan semua orang yang ada disana menahan tawanya disela-sela ucapan syukurnya.


"Alhamdulillah Ya Allah..." seru Andre sambil bersujud.


Setelah selesai dengan sujud syukurnya, Andre kembali duduk di kursinya dan akan memeluk Nadia yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Namun suara lengkingan keras membuatnya urung untuk memeluk istri barunya itu.

__ADS_1


"Angan eluk-eluk unda Anol. Ukan mahlom" pekik Arnold sambil menatap tajam kearah papanya.


Sontak saja lengkingan itu membuat semua orang yang ada disana tertawa. Bahkan Nadia yang tadinya begitu terharu dengan suasana sakral itu pun terkekeh pelan. Sedangkan Andre hanya bisa memberengut kesal karena tak bisa memeluk istrinya itu.


Bahkan tanpa bisa dicegah lagi oleh kedua orangtua Andre, Arnold berjalan mendekat kearah tempat akad kemudian duduk dipangkuan papanya itu. Mama Anisa langsung sigap untuk membujuk Arnold agar turun dari pangkuan Andre pun ditolak mentah-mentah.


"Enek, Anol mau again unda bial ndak dieluk papa" ucap Arnold dengan tatapan memperingati kearah Mama Anisa.


Akhirnya Andre pun hanya bisa pasrah dengan tingkah anaknya itu dan para penghulu pun memakluminya. Semua tamu dibuat gemas dengan tingkah bocah cilik yang begitu pintar itu. Andre dan Nadia menandatangani semua berkas-berkas pernikahan keduanya dengan Arnold masih duduk dipangkuan papanya.


Setelah acara akad nikah selesai, Andre memasangkan Nadia sebuah cincin di jari manisnya begitupun sebaliknya. Mereka juga mengadakan prosesi penyerahan mahar. Setelah semua selesai, para penghulu pun pamit meninggalkan gedung dan beberapa tamu undangan dipersilahkan untuk menikmati hidangan. Sedangkan Nadia dan Andre melakukan sesi foto bersama keluarganya dengan Arnold yang sedari tadi tak mau lepas dari Andre.


"Hah... Gimana ini nanti malam nasibku? Kalau bocah ini masih terus nemplok dibadanku begini" batin Andre tersenyum miris.


Tak ada foto antara Nadia dan Andre berdua, semuanya selalu berpose dengan keluarganya terutama Arnold. Hal ini sebenarnya membuat Andre cukup kesal, namun ia tak berani jika harus bersikap keras pada anaknya. Yang ia tahu, Arnold membutuhkan perhatian lebih darinya dan Nadia.


Akhirnya Arnold berhasil lepas dari Andre dan Nadia saat keduanya akan berganti baju untuk acara resepsi. Andre dan Nadia naik keatas kamar hotel untuk membenahi beberapa riasan dan juga ganti baju. Masih ada waktu sekitar dua jam sampai acara resepsi itu dilakukan.

__ADS_1


"Huft... Sangat melelahkan" gumam Nadia saat dirinya berhasil duduk disebuah kasur diikuti oleh Andre yang langsung berbaring.


Keduanya istirahat sejenak tanpa ada yang membuka percakapan sama sekali. Tak berapa lama beberapa orang masuk kedalam kamar hotel itu dan kembali menyiapkan kedua pengantin. Nadia dan Andre memilih tema internasional untuk resepsi kali ini. Setelah keduanya siap, Andre menggandeng tangan Nadia dengan mesra berjalan memasuki lokasi acara resepsi di gedung yang sama.


__ADS_2