Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Kegaduhan


__ADS_3

Acara resepsi digelar dengan sangat mewah. Bahkan hampir semua tamu undangan hadir memenuhi gedung aula hotel itu. Semua prosesi juga sudah dilakukan dari mulai sungkeman dan yang lainnya. Saat moment sungkeman itu, kedua pengantin meminta maaf kepada kedua orangtuanya dengan berlinangan air mata. Suasana haru begitu tercipta di gedung itu, namun lagi-lagi mereka harus menyaksikan moment itu buyar seketika.


Lagi dan lagi, itu adalah ulah anak bungsu Andre, Arnold dengan celotehan khasnya. Bahkan Arnold dengan seenaknya duduk di kursi pelaminan sambil membawa kue cokelat dan berceloteh mengejek papanya saat Andre menangis haru karena meminta maaf pada kedua orangtuanya.


"Adi aki kok angis di epan anyak olang, apa ndak alu ya. Dicini ada anyak akanan enak, kok cedih cih adahal inggal ambil ndak bayal" ucap Arnold dengan tanpa rasa bersalahnya.


Sontak saja semua tamu yang hadir tertawa mendengar ucapan dari bocah kecil yang duduk santai diatas kursi pelaminan itu. Sedangkan kedua orangtua Andre hanya terkekeh pelan melihat tingkah lucu dari cucunya itu. Andre hanya bisa meringis pelan sembari mendumal didalam hatinya karena acara sungkemannya hancur karena ulah anak bungsunya itu.


"Nggak bayar, mbahmu itu. Kamu emang tinggal makan mbul, yang bayar ya dari uang papa" batin Andre kesal.


Tanpa mempedulikan ocehan Arnold, mereka melanjutkan prosesi selanjutnya. Mereka benar-benar membiarkan Arnold melakukan apapun sesuka hatinya asal bocah itu tak menangis. Dilarang pun pasti tidak bisa karena anak itu benar-benar pintar dalam berkilah dan membuat lawannya terdiam.


***


Setelah semua prosesi selesai, saatnya kedua pengantin baru itu mendapatkan ucapan selamat dari tamu yang hadir. Sudah sedari tadi Andre dan Nadia sudah pegal karena harus terus mengumbar senyum serta berjabat tangan dengan para tamu. Kebanyakan tamu yang hadir adalah teman Mama Anisa dan Ibu Ratmi membuat keduanya tak mengenalnya sama sekali.


Mereka kini ada diatas pelaminan bersama dengan kedua orangtuanya. Sedangkan ketiga anak Andre menemani Nenek Darmi yang duduk di kursi khusus keluarga. Beruntungnya mereka menurut setelah dibujuk oleh Nadia untuk duduk dibagian khusus keluarga terutama Arnold yang saat ini tenang sambil memakan es krim.

__ADS_1


Saat suasana tengah meriah dengan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh beberapa penyanyi ibu kota dan para tamu yang sedang menikmati makanan, tiba-tiba saja didekat pintu masuk terjadi kegaduhan. Hal itu membuat perhatian semua orang langsung beralih kesana tak terkecuali dengan Andre dan Nadia.


"Nadia... Kenapa kau meninggalkanku dan menikahi laki-laki duda itu? Padahal aku sangat mencintaimu, kenapa kau lebih memilihnya?" teriak seseorang yang memaksa masuk kedalam gedung itu.


Dari suaranya, Nadia dan Andre beserta kedua orangtuanya mengenali siapa orang yang telah membuat keributan itu. Dia adalah Parno yang berteriak histeris dengan dipegangi oleh beberapa anggota keamanan setempat. Bahkan disana juga ada Bapak Aden dan Ibu Dyah yang sudah mencoba membujuk anaknya agar pergi dari sini.


"Enggak mau, bu. Pokoknya Nadia harus menikahnya sama aku" seru Parno dengan kekeh.


Setelah kejadian di taman waktu Parno jadi badut itu, dia pulang ke rumahnya dan tiba-tiba saja berteriak histeris. Hal ini membuat kedua orangtuanya panik dan langsung membawanya ke rumah sakit. Setelah diperiksa, ternyata Parno sudah mengalami gangguan jiwa karena terlalu banyak tekanan yang diterimanya.


Dokter sudah menyarankan untuk Parno dirawat di rumah sakit jiwa, namun kedua orangtuanya memilih agar anaknya dirawat di rumah saja. Alhasil kini Parno selalu berhalusinasi dan kondisinya sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda membaik. Lebih memilukan lagi setelah Parno melihat adanya undangan pernikahan Nadia dan Andre. Parno semakin histeris bahkan berteriak memanggil nama Nadia setiap harinya.


Papa Reza yang tak ingin acara anaknya terganggu pun turun dari atas panggung pelaminan kemudian mendekat kearah keributan itu. Sesampainya disana, Parno sudah ditarik oleh pihak keamanan namun terus memberontak.


"Tolong pak, bu... Jangan membuat keributan di acara pernikahan anak saya. Kalau memang anak anda sakit, akan lebih baik kalau dirawat di rumah sakit. Anda tak perlu malu jika memang anak anda dirawat di rumah sakit, toh ini untuk kesembuhannya" ucap Papa Reza dengan sopan.


Terlihat sekali kalau kedua orangtua Parno juga panik dan khawatir dengan kondisi anaknya ini. Papa Reza tak mau mengusir mereka dengan kasar, pasalnya jika dia mempunyai anak dalam kondisi seperti itu pasti juga akan kebingungan.

__ADS_1


Kedua orangtua Parno hanya menganggukkan kepalanya kemudian dibantu oleh beberapa anggota keamanan untuk membawa anaknya dari lokasi acara. Mereka berdua memutuskan untuk mengikuti saran dari dokter dan Papa Reza. Bodo amat dengan omongan orang, yang terpenting anaknya sembuh dulu.


***


"Mantan calon suamimu tuh" goda Andre berbisik tepat ditelinga Nadia.


Nadia yang mendengar hal itu mendelikkan matanya kearah Andre. Bahkan kini menginjak kaki laki-laki itu sampai Andre memekik kesakitan.


"Rasain... Kalau kamu masih goda-godain aku tentang Parno, nanti malam kamu tidur diluar" ancam Nadia.


Andre tentu saja langsung melayangkan tatapan tak terimanya. Walaupun sudah dipastikan nanti malam dia harus bersaing dengan ketiga anaknya agar bisa tiudr dengan Nadia, namun jika istrinya itu yang melarang maka sudahlah tak ada kesempatan baginya untuk tidur bersama.


Akhirnya Andre memilih diam disamping istrinya daripada nantinya ancaman itu benar-benar terjadi. Mereka semua melanjutkan acara resepsi siang hari itu dengan lancar setelah kegaduhan yang ada telah usai. Hari yang sangat melelahkan untuk sepasang pengantin baru dan keluarganya itu, namun dalam hati mereka begitu bahagia. Hari yang telah mereka tunggu-tunggu selama beberapa bulan yang lalu kini telah terealisasikan.


***


Kini Nadia dan Andre berada di sebuah ruangan hotel untuk melepaskan semua aksesoris yang ada di kepala serta tubuhnya. Pesta resepsi telah selesai, saatnya mereka membersihkan diri dan beristirahat. Disana juga ketiga anak Andre yang sedari tadi selesai resepsi selalu mengikuti kemanapun kedua orangtuanya pergi. Bahkan kedua orangtua Andre sudah membujuk mereka agar tak mengikuti keduanya namun langsung ditolak mentah-mentah.

__ADS_1


"Mau kut unda aja, akutna unda di ulik cama papa" ucap Arnold tadi saat akan diajak pulang ke rumah.


Kedua kakaknya pun juga mengikuti adiknya itu dan tak mau lepas dari kedua orangtuanya. Andre hanya bisa menghela nafasnya pasrah melihat ketiga anaknya yang tak mau ditinggal. Rencana yang telah ia susun sejak beberapa hari yang lalu ternyata tak dapat segera ia realisasikan.


__ADS_2