
Kehidupan keluarga kecil Nadia begitu rukun dan bahagia. Hanya ada kerikil-kerikil kecil dalam hubungan mereka namun semuanya tentu dapat melewati itu dengan baik. Terlebih Nadia dan Andre juga memiliki anak-anak yang bisa diandalkan untuk menjaga satu sama lain. Bahkan kini Nadia sudah bisa berjalan normal walaupun kakinya tak bisa digunakan lama-lama jika berdiri. Alan pun begitu, sudah bisa berjalan walaupun masih tertatih-tatih.
Andre dan Nadia yang melihat perkembangan keempat buah hatinya pun begitu bahagia. Mereka jarang nakal, namun mempunyai sifat sangat jahil terutama Arnold yang kemudian ditiru oleh Alan. Namun mereka sama sekali tak mengeluh, justru dengan kejahilan itu membuat suasana keluarga mereka jauh lebih hidup. Namun hatinya seperti ada yang mengganjal, kedua orangtuanya tak pernah terlihat bahkan menghubungi dirinya.
"Kedua orangtuaku kemana sih, mas? Kok saat aku keluar rumah sakit, mereka nggak ada. Bahkan aku dengar dari mama katanya mereka pulang kampung" tanya Nadia penasaran.
Andre dan Nadia kini tengah berada didalam kamarnya. Seperti biasa jika sebelum tidur akan berbincang terlebih dahulu menceritakan tentang kejadian seharian ini. Kini Nadia yang sudah sangat penasaran tentang kedua orangtuanya pun memilih untuk bertanya pada sang suami. Terlebih tadi saat Nadia mencoba menghubungi nomor ponsel kedua orangtuanya ternyata tidak aktif.
"Apa kamu sudah siap mendengar semua kebenarannya? Walaupun itu hal yang menyakitkan" ucap Andre sambil bertanya untuk menyakinkan dirinya.
Selama ini Andre memang belum berani menceritakan tentang kejadian sebenarnya ke Nadia. Ia menunggu kondisi Nadia pulih terlebih dahulu terutama psikisnya. Namun kini saat istrinya melihatnya dengan tatapan penasaran membuatnya sedikit ragu untuk menjelaskan semuanya.
"Aku yakin, apapun yang akan aku dengar entah membahagiakan atau menyakitkan pastinya aku sudah siap" ucap Nadia meyakinkan.
Andre menatap mata Nadia yang memancarkan keyakinan begitu kuat. Sedangkan Nadia seperti tengah menyembunyikan kekhawatirannya jika memang apa yang didengar akan menyakiti hatinya. Daripada dia dibuat penasaran dengan apa yang terjadi, lebih baik dia tahu sekarang.
"Huft... Jadi waktu kamu koma selama beberapa bulan, dokter menyarankan untuk mengikhlaskan kamu dengan membuka semua alat-alat yang terpasang pada tubuhmu. Aku dan papa tidak setuju, sedangkan ayah sudah mengikhlaskan kepergianmu. Semenjak saat itu, hubungan keluarga dengan kedua orangtuamu merenggang dan akhirnya mereka tak pernah lagi datang atau menanyakan kabarmu hingga hari ini. Bahkan saat kami bertanya pada Nenek Darmi pun katanya mereka pulang kampung" jelas Andre dengan menggenggam tangan Nadia.
Nadia terlihat diam karena terkejut mendengar penjelasan dari Andre. Ia tak menyangka jika kedua orangtuanya sampai tak menanyakan kabar tentangnya hanya karena selisih pendapat dengan keluarga Andre. Sedangkan Andre masih terus menatap Nadia yang sama sekali belum terlihat reaksinya.
"Sayang..." panggil Andre dengan menggoyangkan sedikit bahu wanita itu.
__ADS_1
Nadia yang tengah melamun tersentak kaget kemudian menatap kearah Andre. Terlihat sekali jika wanita itu kecewa dengan apa yang diperbuat oleh kedua orangtuanya. Nadia tampak memaksakan senyumnya dihadapan Andre agar laki-laki itu tak merasa bersalah karena menceritakan tentang kedua orangtuanya.
"Huft... Memang sedari dulu orangtuaku seperti itu, mereka egois dan suka memaksakan kehendak. Kalau udah kehilangan barulah mereka sadar" ucap Nadia mencoba terlihat biasa saja.
"Kamu ingin menemui mereka? Kita ke kampung halamanmu kalau begitu" usul Andre untuk mengalihkan pembahasan mengenai itu.
Nadia hanya melihat Andre saja tanpa menjawab pertanyaannya. Bahkan Nadia kini langsung masuk dalam pelukan suaminya untuk mencari ketenangan. Andre yang seakan mengerti pun langsung memeluk balik istrinya sambil mengusap punggungnya dengan lembut.
"Apa boleh?" tanya Nadia di sela-sela pelukannya.
"Tentu boleh dong, sayang. Kita ajak anak-anak juga sekalian liburan sekolah, gimana?" tanya Andre sambil terkekeh geli.
Nadia langsung menegakkan kepalanya dan menatap Andre setelah mendengar jawaban suaminya itu. Ia begitu bahagia karena Andre kini lebih peka dengan apa yang dirasakannya. Matanya kini berbinar cerah bahkan dalam otaknya sedang memikirkan acara liburannya bersama dengan keluarga kecilnya ke kampung halamannya. Pasti keempat anaknya sangat bahagia bisa berlibur bersama.
Andre menganggukkan kepalanya, besok dia akan meminta ijin pada papanya untuk libur bekerja selama beberapa hari. Andre segera mengajak Nadia untuk istirahat karena hari sudah terlalu malam.
***
Keesokan harinya, Andre langsung berangkat kerja bersama dengan papanya. Tadi pagi Andre sudah meminta ijin kepada kedua orangtuanya untuk pulang ke kampung halaman Nadia. Kedua orangtuanya terlihat ragu dan berat hati mengijinkan namun melihat Nadia yang sangat antusias membuat mereka tak tega. Sedangkan Nadia belum membicarakan rencana ini pada keempat anaknya.
"Gimana kalau liburan sekolah kakak Anara dan Abel, kita ke kampung halamannya bunda?" tanya Nadia dengan harap-harap cemas.
__ADS_1
"Kalau Arnold sih kemanapun bunda mau pergi ya aku ikut" ucap Arnold dengan santai.
"Tapi bukannya di kampung halaman bunda itu berarti ada nenek dan kakek ya? Mereka marah sama kita ya bunda, kok nggak pernah kesini lagi" tanya Abel dengan menatap kearah bundanya.
Seketika saja Nadia terdiam mendengar pertanyaan Abel. Berarti yang kehilangan sosok mereka bukanlah hanya dirinya namun juga anak-anaknya. Namun mereka berusaha baik-baik saja walaupun hanya diasuh oleh kedua orangtua Andre.
"Mereka lagi sibuk kerja, kan kita udah ada yang ngurusin" ucap Arnold acuh tak acuh.
Pasalnya Arnold merasakan perubahan wajah bundanya setelah mendengar pertanyaan kakaknya itu. Ia tak mau melihat bundanya sedih walaupun sebenarnya dirinya juga tak tahu mengenai permasalahan yang ada. Yang pasti ia hanya tahu kalau mereka sedang tidak baik-baik saja.
"Enggak kok, mereka nggak marah. Nanti disana kita bisa main sepuasnya, lagi pula selama liburan sekolah ini kan kaliab jarang keluar rumah" ucap Nadia mengalihkan pembahasan.
"Asyik liburan..." seru Anara.
Abel pun sama dengan kembarannya yang sangat bahagia karena bisa liburan bersama dengan keluarganya walaupun ia merasakan jika ada sesuatu yang mengganjal. Sedangkan Alan dan Arnold masih terus fokus dengan permainan monopolinya tanpa menghiraukan pembicaraan saudaranya.
"Hei... Kalian berdua tak senang jika liburan, kok malah fokus dengan monopoli sih" sindir Anara.
"Senang" jawab Arnold.
"Nang..." jawab Alan.
__ADS_1
Jawaban mereka berdua yang seakan acuh tak acuh itu membuat Nadia gemas sendiri. Sedangkan Anara yang dicueki pun hanya mencebikkan bibirnya kesal. Sepertinya dia akan pusing karena menghadapi dua adik yang punya dunianya sendiri. Baru kemarin ia menganggap Arnold itu sangat peka, namun pada faktanya tidak.