
Keesokan harinya Nadia, Mama Anisa, Arnold, dan Nadia akan pergi ke rumah sakit tempat ibunya Ando dirawat. Setelah suami dan kedua gadis kecil itu berangkat ke kantor juga sekolah, maka keempatnya segera saja pergi ke rumah sakit. Andre sudah menyerahkan semua urusan ibunya Ando kepada sang istri dan mamanya. Tak berapa lama, mobil yang dinaiki keempatnya sudah sampai di rumah sakit.
Arnold segera saja mengarahkan bunda dan neneknya menuju ruang rawat Ibu Ando. Setelah beberapa menit berjalan menyusuri lobby rumah sakit, keempatnya sampai didepan sebuah ruang rawat inap Ibu Ando. Mama Anisa segera mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk karena khawatirnya sedang ada perawat atau dokter didalam.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk" seru seseorang dari dalam ruangan.
Keempatnya pun segera masuk dalam ruangan itu kemudian terlihatlah seorang bocah laki-laki kecil sedang duduk disamping brankar tempat tidur sambil menyuapi bubur kepada wanita paruh baya yang tengah berbaring. Ando langsung tersenyum saat melihat ada seseorang yang dikenalnya diantara mereka.
"Halo Ando, Arnold bawa bunda cantik, nenek cantik, dan adikku yang tampan kesini" seru Arnold dengan nada cerianya memperkenalkan siapa yang menemaninya hari ini.
Nadia dan Mama Anisa tersenyum melihat Arnold mau bergaul dan akrab dengan anak-anak lain tanpa membedakan kasta. Mereke berempat mendekat kearah Ando dan ibunya yang langsung menghentikan kegiatannya. Ando menyalami tangan Nadia dan Mama Anisa penuh hormat sedangkan Arnold dan Alan langsung bersalaman kepada wanita paruh baya yang tengah berbaring itu.
"Terimakasih bu, nak... Sudah membawa saya ke rumah sakit ini. Beruntung Ando bertemu kalian sehingga saat saya pingsan ada yang mengetahuinya dan membawa saya ke rumah sakit" ucap Ibu Ando sambil tersenyum tulus.
Bahkan kini matanya terlihat berkaca-kaca, pasalnya baru kali ini ada orang yang mau membantunya sejauh ini dengan membayar semua biaya rumah sakit dan memfasilitasi semuanya. Sedangkan Nadia dan Mama Anisa hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Ando, mandilah dulu biar tampan kaya Arnold dan adek Alan. Ini aku bawakan baju baru untukmu, setelah itu kita main mobil-mobilan disana" ucap Arnold sambil menyerahkan paper bag berisi pakaian ganti.
__ADS_1
Dengan semangat Ando mengambil paper bag yang diserahkan padanya. Ia bahagia karena pertama kalinya memakai pakaian baru. Ia langsung saja berpamitan lalu berlalu pergi ke kamar mandi, sedangkan Arnold dan Alan memilih duduk di sofa yang ada disana.
Mama Anisa dan Nadia duduk di kursi samping brankar Ibu Ando. Ketiganya bercengkerama terutama membahas kelanjutan tempat tinggal sepasang ibu dan anak itu.
"Bu, saya mau menawarkan sesuatu. Tetapi mohon jangan tersinggung ya, disini kami niatnya membantu" ucap Mama Anisa memulai dengan menjeda ucapannya.
"Saya berniat menawarkan ibu dan Ando untuk tinggal di yayasan sosial yang saya bangun dengan teman-teman yang lain. Disana fasilitasnya akan jauh lebih terjamin terutama untuk kesehatan ibu dan pendidikannya Ando. Jika ibu berkenan, setelah pulang dari rumah sakit nantinya akan langsung kami jemput untuk kesana" lanjutnya berhati-hati.
Ibu Ando terlihat terdiam sembari berpikir. Kini ia tengah berpikir tentang kehidupannya mendatang terutama anaknya, Ando. Tak mungkin anaknya itu terus saja hidup di lingkungan yang tak sehat bahkan pendidikannya juga terabaikan. Namun ia juga merasa tak enak jika dengan semudah itu mendapatkan kenyamanan dari oranglain.
"Kalau saya tinggal disana apa boleh jika saya ikutan bekerja atau bantu apa saja? Pasalnya saya tak enak jika hanya menggantungkan hidup pada oranglain" ucap Ibu Ando tak enak hati.
"Nanti ibu bisa membantu memasak dan bersih-bersih disana. Disana memang ada beberapa kegiatan yang dilakukan oleh penghuninya" jelas Mama Anisa.
Ibu Ando terlihat menghela nafasnya lega karena tentunya disana dia takkan hanya duduk manis saja. Akhirnya Ibu Ando menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan tawaran Mama Anisa. Mama Anisa begitu bahagia karena dirinya merasa apa yang dilakukannya bersama teman-temannya bisa membantu oranglain.
"Ibu, Ando udah terlihat tampan kan sekarang?" tanya Ando tiba-tiba yang keluar dari pintu kamar mandi.
Semua orang pun mengalihkan pandangannya kearah Ando yang tersenyum malu-malu karena perhatian mengarah kepadanya. Arnold langsung mendekat kearah Ando yang madih berdiri didepan pintu kamar mandi.
__ADS_1
"Wah... Ando tampan. Tapi ketampanannya belum melebihi Arnold" ucap Arnold dengan bangganya memuji dirinya sendiri.
Semua orang tertawa mendengar ucapan Arnold yang terlalu percaya diri itu. Terlebih Ibu Ando yang kini sudah lebih banyak tertawa karena kehadiran keluarga Arnold. Ia tak marah jika ketampanan anaknya masih dibawah anak lain karena baginya Ando adalah yang paling tampan.
Matanya berkaca-kaca melihat Ando tersenyum bahagia hanya karena memakai baju baru. Selama tinggal dibawah kolong jembatan, ia sama sekali belum pernah membelikan baju untuk anaknya itu. Penghasilannya sebagai pemulung hanya cukup untuk makan sehari-hari, terlebih saat ia sakit maka anaknya yang harus bekerja keras mencari pundi-pundi uang.
"Terimakasih Arnold, Ando senang lho pakai baju kaya gini" ucap Ando dengan tatapan polosnya.
Ando langsung saja menghambur kedalam kaki ibunya yang ia peluk. Ia begitu sayang dengan ibunya yang membesarkan dirinya sendirian sejak ia masih kecil. Padahal ayahnya adalah orang berada namun sama sekali tak pernah beliau mencarinya sehingga ibunya selalu bilang kalau sosok itu sudah meninggal. Yang ada disini hanyalah ibu dan dia saja.
Nadia yang tak kuasa melihat pemandangan itu pun langsung berdiri kemudian memeluk Ando yang masih setia dalam pelukan kaki ibunya. Ando langsung membalikkan badannya dan memeluk Nadia sambil menangis.
"Terimakasih tante sudah mau membantu ibu Ando yang sakit. Semoga setelah ini ibu bisa segera sehat dan menemani Ando sampai bisa sukses juga membahagiakannya kelak. Jika sukses nanti, kalianlah yang akan Ando cari pertama kali" ucap Ando dengan terisak lirih dalam pelukan Nadia.
"Kamu nggak perlu memikirkan apapun. Sekarang saatnya kamu bangkit dan belajar rajin agar bisa sukses seperti yang kamu inginkan. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, jadilah anak yang sholeh dan selalu ingat Tuhan" pesan Nadia membuat bocah kecil itu menganggukkan kepalanya mengerti.
Pemandangan mengharukan itu membuat Mama Anisa dan Ibu Ando menitikkan air matanya haru. Tak menyangka jika mereka dipertemukan oleh orang-orang baik dan bisa saling tolong menolong.
"Kenapa jadi pada nangis disini? Harusnya kita tertawa bahagia" seru Arnold membuat suasana disana langsung mencair begitu saja.
__ADS_1
Akhirnya orang dewasa memutuskan untuk berbincang santai sedangkan anak-anak bermain mobil-mobilan yang dibawa oleh Arnold dan Alan.