
"Nenek, kalau mereka di penjara nanti waktu keluar akan nyakitin kita nggak?" tanya Fikri dengan nada khawatirnya.
Setelah ruang tamu dibersihkan oleh ART yang ada disana, mereka semua berpindah kedalam ruang makan. Makan bersama sambil berbincang seru. Terutama Nadia yang ingin mencari tahu tentang kelakuan kedua anaknya yang begitu membahayakan. Ia sampai tak bisa membayangkan jika Papa Fikri tadi mengejar keduanya dan melukai mereka karena telah mencelakai istrinya.
"Enggak akan, nenek akan sewa bodyguard buat jaga di rumah dan saat kamu pergi kemanapun" ucap Nenek Hulim dengan keyakinan besar.
Melihat keyakinan besar dalam tatapan mata sang nenek membuat Fikri sedikit lega. Ia sedikit takut jika suatu saat nanti kedua orangtuanya kembali malah akan menyakitinya dan sang nenek. Terlebih semua aset juga masih dikelola mereka membuat Fikri bingung bagaimana dengan sekolah dan kehidupannya. Bahkan tadi neneknya bilang kalau semua harta akan diberikan pada Yayasan amal.
"Nenek nanti bayar bodyguardnya gimana? Kan semua ATM masih dipegang papa dan mama. Bahkan Fikri cuma ada uang 500 ribu saja, apa itu cukup untuk membayarnya?" tanya Fikri dengan polosnya.
Nenek Hulim dan Nadia terkekeh pelan mendengar ucapan Fikri. Tak mungkin juga bodyguard yang disewanya itu hanya akan digaji sebesar 500 ribu, padahal jumlah mereka banyak. Namun ia tahu kekhawatiran cucunya itu karena selama ini hidupnya begitu sederhana hingga Fikri pun tak tahu jika neneknya punya uang banyak.
"Mana bisa bayar bodyguard 500 ribu aja? 500 ribu itu hanya cukup buat beli satu kaleng susu milik Arnlold ya" ucap Arnold sedikit aneh.
"Memang tidak, nak. Bahkan mungkin harga susumu lebih dari 500 ribu" ucap Nenek Hulim dengan terkekeh pelan.
"Kamu nggak usah mikirin hal itu. Yang penting sekarang kamu pikirin aja pendidikan kamu agar kelak bisa jadi orang sukses dan paham agama" lanjutnya menasihati sang cucu.
Fikri menganggukkan kepalanya mengerti kemudian memeluk sang nenek yang berada disampingnya. Kini ia bahagia ada seseorang yang bisa menjadi sandarannya walaupun itu bukan sosok orangtuanya sendiri. Kebahagiaan Fikri benar-benar terasa terlebih sedari dulu memang ia lebih dekat dengan neneknya. Walaupun sempat terpisah beberapa tahun.
"Iya, kak Ikli halus adi olang cukces bial bica eliin ita cucu iap hali" ucap Alan memecah keharuan.
__ADS_1
Hahahaha....
Semua orang tertawa mendengar celotehan Alan yang membuat suasana lebih mencair. Bahkan kini Fikri langsung melepas pelukannya dari sang nenek kemudian menciumi pipi Alan. Alan merasa bahagia karena ternya kini semuanya tertawa tanpa ada masalah aneh-aneh lagi. Terutama kemarin-kemarin yang harus berkutat dengan rasa sedih akibat kisah hidup Fikri.
***
Nadia dan kedua anaknya memilih untuk pulang ke rumah setelah memastikan bahwa Nenek Hulim dan Fikri aman di rumahnya. Terlebih ia sudah meminta satpam untuk tak membukakan pintu gerbang terlebih dahulu kecuali polisi yang nantinya akan olah TKP dan juga keluarga Nadia. Nadia tak mau mengambil resiko jika nantinya ada orang jahat yang tiba-tiba masuk rumah untuk mencelakai Nenek Hulim dan Fikri.
"Gimana hari ini, nak?" tanya Mama Anisa yang memang sudah menunggu kedatangan cucu dan menantunya.
"Huft... Tadi ada kejadian menegangkan di rumah Fikri, ma. Itu mamanya Fikri mau mencelakai ibu mertuanya sendiri dengan melemparkan guci" ucap Nadia sambil geleng-geleng kepala.
Kedua anaknya sudah masuk kedalam kamarnya untuk istirahat dan bermain bersama dengan kakak-kakaknya. Sedangkan Nadia memilih untuk berbincang dengan Mama Anisa lebih dahulu di ruang keluarga. Terlebih Mama Anisa begitu penasaran dengan apa yang terjadi, pasalnya tadi Arnold sempat mengucapkan kalimat sehabis melakukan aksi ekstrim.
Mama Anisa bahkan sampai menganga mulutnya karena tak menyangka ada kejadian seperti itu. Terlebih disana ada menantu dan cucunya disana yang bisa saja terluka akibat insiden itu. Dalam keadaan khawatirnya, Mama Anisa segera saja mendekat kearah menantunya kemudian memeriksa seluruh tubuh Nadia. Tak berapa lama, Mama Anisa menghela nafas lega saat tak melihat adanya satu luka pun disana.
"Nadia nggak apa-apa, ma. Ini semua berkat kecerdasan Arnold, Alan, dan Fikri hingga kami tak ada yang terluka. Mereka menembakkan pistol mainan berisi campuran sambal dan air kearah mata mamanya Fikri hingga guci yang sedang diangkatnya itu terjatuh mengenai kakinya sendiri" jelas Nadia.
Mama Anisa begitu takjub dengan kecerdikan cucunya itu. Ia takkan marah dengan mereka walaupun ada rasa khawatir saat cucu-cucunya melakukan hal itu karena membela seseorang. Beruntung cucu-cucunya tak ada yang terluka, kalau mereka sampai ada yang lecet sedikit pun pasti ia yang akan membalasnya langsung.
"Terus gimana?" tanya Mama Anisa penasaran.
__ADS_1
"Bahkan Arnold juga menghubungi kepolisian terdekat untuk melaporkan kejadian ini lewat handphone salah satu ART disana. Sungguh perlu diacungi jempol cucu mama itu" ucap Nadia membanggakan anaknya.
Mama Anisa juga begitu takjub dengan apa yang dilakukan cucunya. Kalau dirinya ada disana tentunya ia akan dengan garangnya membalas perbuatan orang-orang itu dengan tangannya sendir. Mungkin Nadia juga bisa melakukan hal brutal, namun ia lebih memikirkan keselamatan anak-anaknya yang ada disana. Terlebih Arnold yang memang masih trauma dengan kekerasan.
"Mama akan kasih si gembul hadiah karena sudah berani melawan orang jahat" ucap Mama Anisa dengan semangat.
"Hadiah apa, ma?" tanya Nadia dengan bingung.
"Rahasia" seru Mama Anisa yang kemudian pergi berlalu dari ruang keluarga.
Bahkan Nadia yang ditinggalkan begitu saja hanya bisa melongo tak percaya. Sifat Mama Anisa yang tak terduga itu ternyata menurun ke Arnold. Bahkan setiap memberikan hadiah pasti Arnold juga mempunyai ide tersendiri dan paling utama tak bisa ditebak sama sekali.
Nadia pun memilih untuk masuk kedalam kamarnya agar bisa segera membersihkan diri. Rasanya tubuh sangat lelah dan lengket karena kejadian hari ini yang membuat pikiran juga hatinya terkuras habis.
***
"Kak Nala, Kak Bel... Adi ita ain embak-embakan lho di lumah kak Ikli. Becok becalna Alan ngin adi polici bial bica embakin cemua olang ahat" ucap Alan dengan percaya dirinya.
Sedangkan Nara, Abel, dan Arnold menganga tak percaya mendengar ucapan sang adik. Pasalnya dulu Alan ingin seperti papanya yang pengusaha sukses namun sekarang sudah berbeda lagi cita-citanya. Padahal Alan tadi saat menembak juga tak tepat sasaran karena pencetannya begitu lemah. Terlalu berlebihan memang si bungsu ini.
"Gimana mau jadi polisi? Orang kamu tadi nembaknya aja nggak tepat sasaran" ucap Arnold meledek.
__ADS_1
"Ish... Alan macih nak ecil, adi wajal" ucap Alan membela diri.
Sedangkan Anara dan Abel yang mendengar perdebatan itu tentunya kebingungan. Pasalnya mereka belum menceritakan apa yang terjadi namun sudah saling meledek satu sama lain.