Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Ketegangan


__ADS_3

Sesampainya di kantor polisi, mobil yang dikendarai oleh Andre itu berhenti di sebuah parkiran yang ada disana. Namun dahi Nenek Hulim mengernyit saat melihat mobil yang terparkir disamping. Ia merasa mengenal dengan mobil yang ada disampingnya ini walaupun sebenarnya banyak orang juga mempunyainya. Namun ada ciri khas tersendiri pada mobil yang dikenalnya ini.


Buru-buru Nenek Hulim keluar dari mobil milik Andre membuat yang lainnya menatap dengan penasaran. Ketiga laki-laki yang ikut kesana pun akhirnya turun dari mobil kemudian melihat Nenek Hulim sedang mengamati plat kendaraan yang ada disebelahnya. Ketiganya segera mendekat kemudian melihat apa yang ditatap intens oleh Nenek Hulim.


"Ada apa, nek?" tanya Andre dengan wajah penasaran.


"Ini kaya kendaraan dari perusahaan nenek deh. Tapi kan biasanya ini dipakai oleh orang tertentu saja dan tadi nenek sudah memastikan tak ada agenda kerja di luar perusahaan selama beberapa hari ini. Apalagi ini ke kantor polisi lho" ucap Nenek Hulim bingung.


Ketiganya juga bingung dengan yang dimaksud oleh Nenek Hulim, namun jika memang benar ada salah satu karyawannya yang menggunakan mobil itu untuk kepentingan pribadi harusnya melaporkan pada atasannya dulu. Terlebih perusahaan yang dikelola anak dan menantunya memang sudah pindah tangan kepadanya sejak kemarin. Bahkan ini hari minggu, mana ada juga karyawan yang masuk bekerja kecuali memang acara dinas ke luar kota.


"Lebih baik kita cari tahu ke dalam" ajak Papa Reza.


Mereka pun menganggukkan kepalanya kemudian Andre menggandeng Nenek Nilam karena memang tak bisa jalan terlalu lama. Kakinya masih lah sakit karena penyakit yang dideritanya beberapa tahun ini. Keempatnya masuk ke dalam ruang petugas untuk melapor kemudian beberapa anggota yang melihat kedatangan Nenek Hulim pun sedikit menundukkan hormatnya.


Hal ini membuat Papa Reza, Andre, dan Papa Nilam tahu kalau pengaruh Nenek Hulim di instansi tersebut begitu besar dan berpengaruh. Semakin percaya diri lah mereka saat ini karena merasa kalau masalah ini akan cepat selesai. Bahkan beberapa anggota polisi yang ada terlihat terkejut dengan kehadiran Nenek Hulim bersama dengan Andre yang notabene sedang berkasus dengan orang yang dilindungi oleh wanita paruh baya itu.


"Siapa yang membawa mobil dari perusahaanku kemari?" tanya Nenek Hulim.


Beberapa orang disana saling memandang seakan sedang berdiskusi. Terlihat sekali jika mereka begitu ragu-ragu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Nenek Hulim. Hal ini membuat Nenek Hulim geram bahkan ingin rasanya menggetok kepala orang-orang didepannya.

__ADS_1


"Siapa?" sentaknya karena tak ada yang mau memberitahunya.


"Bukannya itu mobil yang pakai orang kepercayaan, nyonya? Pak Argio" ucap polisi itu dengan bingung.


Nenek Hulim terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh mereka. Ia tak menyangka jika Gio yang ia percaya telah menyalahgunakan kepercayaannya. Jelas-jelas itu mobil dari perusahaan yang dulu dikelola anak dan menantunya, bukan dari bisnis yang ia kelola. Bahkan bisnis yang dikelola tak mempunyai kantor disini melainkan di kota lain yang tak jauh dari rumah lamanya.


"Sialan..." geram Nenek Hulim.


"Dimana dia?" tanyanya.


"Di ruang pak kepala, nyonya" jawab polisi itu.


Nenek Hulim menganggukkan kepalanya kemudian dengan tergesa-gesa berjalan meuju ruang kepala yang dimakasud. Bahkan langsung diikuti oleh Andre, Papa Reza, dan Papa Nilam walaupun mereka bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


Nenek Hulim mendobrak pintu ruangan kepala polisi yang terbuka sedikit itu dengan kasar. Bukan bermaksud untuk tak sopan, namun kemarahannya begitu menggebu-gebu karena orang kepercayaannya telah mengelabuinya. Bahkan dengan seenaknya dia menggunakan fasilitas perusahaan yang bahkan ia tak bekerja disana.


"Siapa yang... Nyonya Hulim" Ucapan yang tadinya ingin marah kepada orang yang telah membuka pintu ruangannya dengan tak sopan, kini malah kepala polisi itu langsung berdiri kemudian membungkukkan kepalanya sebentar.


Bahkan Argio yang sedari tadi tak peduli dengan apa yang terjadi pun langsung menegakkan kepalanya setelah mendengar nama seseorang diucapkan oleh polisi didepannya. Ia terkejut bahkan heran dengan kedatangan Nenek Hulim di kantor polisi yang bahkan ia tak mengira jika wanita paruh baya itu berada di kota ini.

__ADS_1


Sebelumnya memang ia jarang ke kota ini karena pekerjaannya ada di kota lain. Namun karena meminta ijin kepada Nenek Hulim agar diberikan waktu untuk menyelesaikan masalah anaknya, akhirnya wanita paruh baya itu mengijinkan. Bahkan ia tak menyangka jika Nenek Hulim akan datang ke kota ini tanpa memberitahu dirinya.


Keterkejutannya bukan hanya karena kedatangan Nenek Hulim, namun wanita paruh baya itu ternyata datang bersama dengan lawannya di kasus penganiayaan waktu itu. Argio was-was karena takut jika kini Nenek Hulim akan balik menyerangnya.


"Mobil siapa yang kau pakai kesini, Gio?" tekan Nenek Hulim sambil menatap tajam kearah laki-laki itu.


Argio yang melihat raut kemarahan dari Nenek Hulim begitu gugup. Terlebih memang selama ini ia selalu memakai fasilitas di perusahaan ini dengan mengatasnamakan Nenek Hulim yang memerintahnya jika berada di kota ini. Ia juga menggunakan rumah yang diperuntukkan bagi karyawan luar kota yang bekerja di perusahaan itu.


Kalau sampai semua yang ia sembunyikan selama ini diketahui oleh Nenek Hulim, sudah dipastikan kalau karirnya berada di ujung tanduk. Pasalnya ia selama ini merasa berada diatas angin karena mendapatkan dukungan dari Nenek Hulim. Seorang wanita paruh baya yang mempunyai kekuasaan dalam bidang energi terbesar ini membuat beberapa orang yang berurusan dengannya takkan pernah bisa tenang. Terlebih jika membuat masalah dengannya.


Bahkan dalam kepemimpinannya setelah sang suami meninggal, usaha yang dibangun oleh beliau malah bertambah pesat. Digadang-gadang ia akan mewariskan semua itu untuk cucunya sendiri. Sedangkan perusahaan juga semua orang tahu kalau ia lah pemiliknya.


"Emmm... Saya tadi pagi sudah dapat ijin dari anak nyonya kalau saya diperbolehkan memakai mobil itu" ucap Argio memberi alasan dengan gugup.


Nenek Hulim tertawa terkekeh mendengar ucapan dari Argio. Sepertinya laki-laki itu lupa jika Nenek Hulim tak suka ada anak buahnya yang berbohong bahkan mengkambinghitamkan seseorang. Kegugupan Argio sudah menandakan kalau laki-laki itu berbohong.


"Ah... Masa anak saya yang memberi ijin sih? Bukannya mereka kini ada di penjara, jadi anak saya yang mana ini mengijinkanmu memakai mobil?" tanya Nenek Hulim dengan meledek.


Argio malu karena tak update mengenai berita ini. Kedua tangannya mengepal erat agar emosi yang ada pada dirinya itu tak membuanta menonjok atasannya. Masih dengan senyuman manisnya, Nenek Hulim berjalan mendekat kearah Argio yamg badannya gemetaran.

__ADS_1


"Wah... Kok baru didekati gini udah gemeteran sih, ngompol nggak nih di celanan?" ledeknya.


Malu... Itu yang dirasakan Argio saat mulut manis atasannya itu berucap. Ia tak menyangka Nenek Hulim yang sangat baik dan bertutur kata lembut biaa mengucapkan hal seperti itu.


__ADS_2