Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Lesu


__ADS_3

Anara dan Abel keluar dari gedung seleksi olimpiade dengan wajah begitu sumringah. Bahkan keduanya bergandengan tangan sambil terus mengumbar senyum. Ditangannya ada sebuah piala dan biaya pendidikan yang jumlahnya sungguh fantastis.


Keluarganya sudah menunggu didekat pintu keluar tak terkecuali Alan dan Arnold yang tadi berada ditengah kerumunan peserta. Gea dan Ibu Yuni pun dengan sigap mengamankan mereka keluar karena khawatir kalau nantinya malah hilang ditengah banyak orang.


"Bunda, pa, nenek, kakek... Kami menang" seru Anara yang kemudian memeluk Nadia.


Abel pun langsung memeluk Andre kemudian bergantian dengan yang lainnya. Semua keluarga terus mengumbar senyumnya kecuali Alan. Bahkan Zunai dan Ega dicium pipinya berulangkalu oleh Anara dan Abel agar keduanya tak merasa jika mereka asing disini.


"Selamat ya, nak. Semoga ini awal yang baik untuk perjalananmu nanti" ucap Nadia yang langsung menciumi kening anak gadisnya.


"Terimakasih juga, bunda. Selalu ada dan dampingi kami yang kadang merepotkan ini" ucap Abel dengan mata yang berkaca-kaca.


"Anak-anak bunda nggak ada yang merepotkan kok" ucap Nadia memeluk anaknya.


Semua terharu mendengar ucapan dari ibu dan anak sambung itu. Kedekatan keduanya membuat siapapun takkan menyangka jika mereka hanya sepasang anak dan ibu sambung.


"Iya semua anak bunda memang nggak ada yang merepotkan, kecuali Alan" celetuk Arnold.


Celetukan Arnold itu mengubah suasana haru itu menjadi lebih mencair. Semuanya tertawa menyetujui ucapan Arnold kecuali Alan yang sudah cemberut karena merasa dijatuhkan oleh abangnya itu.


"Wajal... Alan macih tecil tok matana cuka lepotin unda. Becok talo udah becal ya ndak lepotin unda agi. Yang enting, Alan ndak emocian tayak papa yan bica wuwat cemua olang dalah inggi" ucap Alan balik menyindir Andre.


Nadia dan Mama Anisa tertawa paling kencang disana. Mereka seakan puas mendengar sindiran yang dilayangkan untuk Andre itu. Sedangkan Andre langsung menggendong Ega dan membawanya pergi.

__ADS_1


"Sekarang anak bungsu papa itu Ega, bukan Alan lagi. Soalnya Alan ngeselin" ucap Andre dengan acuh.


"Lah... Alan tan cekalang cudah ndak adi nanak bungcu agi. Alan tan udah adi abang, adi ngapain papa plotes tayak ditu? Apa bubunganna engan Alan nebelin?" gumam Alan membuat yang mendengarnya hanya bisa geleng-geleng kepala.


Mereka pun akhirnya segera menyusul semuanya ke parkiran mobil setelah berbincang sebentar dengan Gea dan Ibu Yuni. Disana sudah ada Andre dan Ega yang menunggu kehdairan mereka.


"Ayo te lumah nenek Dalmi" ajak Alan.


Mereka menganggukkan kepalanya setuju kecuali Ega dan Zunai yang memang tak tahu siapa Nenek Darmi itu sebenarnya. Harusnya memang weekend kemarin mereka datang kesana namun harus tertunda karena Anara dan Abel yang sakit. Dua mobil keluar dari area gedung acara dengan kecepatan sedangnya.


***


Sesampainya di rumah Nenek Darmi, ternyata beliau sedang berkumpul di teras dengan anak dan menantunya. Sedangkan kedua cucunya tinggal di sebuah kontrakan yang dekat dengan tempat kerjanya sehingga akan menjenguk keluarganya setiap satu bulan sekali.


"Mamat ciang nenek Dalmi yang tecantitanna tak pelnah memudal" teriak Alan setelah turun dari mobilnya.


"Selamat siang juga cucu nenek yang ketampanannya masih kalah dari Papa Andre" jawab Nenek Darmi sambil terkekeh pelan.


Alan yang tadinya sudah bahagia karena merasa dipuji oleh Nenek Darmi pun akhirnya meluruhkan bahunya lesu. Ia kesal karena neneknya malah membandingkan ketampanan dirinya dengan sang papa. Padahal jelas-jelas ketampanannya itu melebihi papa dan semua cowok-cowok yanh ada di luaran sana.


Andre langsung saja menggendong Alan yang terlihat lesu itu. Sedangkan yang lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar ucapan kedua orang itu. Mereka segera saja mengikuti Andre dan Alan yang sudah berjalan lebih dulu.


"Kalian apa kabar?" tanya Nenek Darmi yang sekarang badannya kelihatan lebih berisi.

__ADS_1


Mungkin karena bahagia dan keperluannya semua dicukupi oleh anaknya tanpa harus memikirkan apapun sehingga wanita tua itu badannya tampak berisi. Mama Anisa dan Nadia langsung memeluk wanita itu kemudian diikuti oleh yang lainnya.


"Baik. Kami sehat semua, nek. Nenek gimana nih kabarnya? Kayanya bahagia dan sehat banget" ucap Nadia sambil terkekeh.


"Alhamdulillah... Bahagia karena ada yang menemani di rumah, nggak kesepian lagi. Oh ya... Ini siapa?" tanya Nenek Darmi yang sedikit bingung dengan kehadiran dua anak kecil yang belum ia kenali itu.


"Oh ini Ega dan Zunai, mereka anak kami. Lebih tepatnya anak angkat" ucap Nadia sambil tersenyum.


Nenek Darmi menganggukkan kepalanya mengerti walaupun masih ada sedikit kebingungan di wajahnya. Keluarga Andre sudah mempunyai banyak anak sehingga Nenek Darmi bingung alasan sampai mengangkat anak lagi. Namun ia juga tak mau terlalu ikut campur masalah itu yang penting semuanya kini tampak rukun.


Ega dan Zunai langsung mencium tangan Nenek Darmi yang membuat wanita tua itu tersenyum. Sama seperti yang lainnya, Nenek Darmi segera mencium kening mereka berdua dengan sayang. Namun saat melihat wajah Zunai, wanita tua itu sedikit tertegun pasalnya ada sedikit kemiripan dengan orang yang dulu ia kenal.


"Ah... Mungkin hanya mirip saja. Toh di dunia ini kan ada banyak orang yang mirip. Apalagi anak kecil wajahnya masih bisa berubah-ubah" batin Nenek Darmi.


Sedangkan kebingungan yang Nenek Darmi perlihatkan itu sangat tampak di mata Papa Reza. Kini Papa Reza malah semakin berpikir tentang kemiripan Zunai dengan seseorang namun entah dimana ia lupa. Akhirnya mereka semua duduk dan bercengkerama satu sama lain.


"Bu, kalau lihat wajah Zunai kaya lihat siapa gitu. Reza kaya pernah lihat wajah-wajah itu" bisik Papa Reza tepat pada telinga Nenek Darmi.


Nenek Darmi terkejut mendengar bisikan dari Papa Reza membuatnya langsung menatap Zunai dengan seksama. Ia juga sedikit ingat tentang kemiripan wajah itu dengan seseorang namun ia tak berani membicarakan ini secara gamblang.


"Iya, nenek juga berpikir seperti itu. Tapi kan nanti wajah anak kecil bisa berubah seiring berjalannya waktu" ucap Nenek Darmi mencoba meyakinkan dia dan Papa Reza.


Apalagi ia berpikir kalau seseorang itu dulunya sudah menghilang sejak remaja. Bahkan sampai saat ini orang itu sudah tak pernah muncul lagi jadi takut nanti malah salah.

__ADS_1


"Coba kamu tanya nama ibunya" usul Nenek Darmi.


Papa Reza menganggukkan kepalanya mengerti. Nanti saat pulang ke rumah, ia akan menanyakan ini pada Zunai. Mungkin saja ada petunjuk tentang orangtua atau silsilah keluarganya. Hal ini tentu akan berpengaruh pada surat-surat yang segera diurusnya nanti.


__ADS_2