Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Kejutan


__ADS_3

Keesokan harinya, Nadia terbangun dari tidurnya kemudian segera membersihkan dirinya. Setelah mandi, dirinya duduk di tepi kasur kemudian menghubungi kedua orangtuanya menggunakan nomor barunya saat ia baru sampai di kota. Untung saja nomor telefon kedua orangtuanya masih ia simpan. Sebelum menghubungi kedua orangtuanya, Nadia terlihat ragu-ragu bahkan berulang kali menatap layar ponselnya. Sejenak ia menghela nafasnya untuk menenangkan diri dan memantapkan keputusannya.


Setelah beberapa saat, Nadia memantapkan hatinya untuk menghubungi kedua orangtunya. Terlihat Nadia yang berharap-harap cemas saat sudah memencet icon panggilan ke nomor yang ditujunya. Matanya kini terlihat berkaca-kaca saat mendengar suara seseorang yang sangat ia rindukan tengah bersuara menanyakan tentang siapa yang menghubunginya di seberang sana.


Bagaimanapun sikap orangtuanya kepadanya, Nadia tetap menyayangi mereka. Semarah-marahnya Nadia, dia takkan pernah yang namanya membenci kedua orangtuanya.


"Halo, siapa ini?" ucap seseorang diseberang sana.


"Ibu..." seru Nadia.


Nadia sudah tak bisa membendung rasa rindunya hingga menyerukan nama ibunya. Saat Nadia menyerukan itu, suara di seberang telefon mendadak hening. Kemungkinan besar ibu Nadia tengah terkejut dengan siapa yang baru saja menghubunginya.


"Halo... Bu, ini Nadia" seru Nadia lagi.


"Ya Allah, nak. Kamu ini pergi kemana? Terus kabarmu gimana?" tanya Ibu Ratmi.


Sangat terdengar sekali kalau Ibu Ratmi sangat bahagia dan juga khawatir secara bersamaan mengenai kondisi Nadia.


"Nadia baik-baik saja, bu. Nadia pergi ke kota" jawab Nadia.


Mereka pun berbicara panjang lebar dimulai dari menanyakan kabar hingga membahas tentang Parno. Setelah berbicara sekitar 15 menit dengan kedua orangtuanya, akhirnya Nadia memutuskan panggilan dengan mereka karena harus segera ke rumah Mama Anisa.


Kedua orangtuanya akhirnya merasa lega karena Nadia telah menghubungi mereka. Mereka juga bahagia karena anaknya baik-baik saja di kota. Kedua orangtua Nadia pun akhirnya memutuskan akan segera menyusul Nadia agar bisa bertemu dan berkumpul lagi bersama anaknya itu. Walaupun awalnya Nadia tak mengijinkan namun akhirnya anak gadisnya itu hanya pasrah saja dengan sifat keras kepala kedua orangtuanya.

__ADS_1


Tadi kedua orangtuanya juga bilang kalau sudah tidak betah tinggal di desa karena tetangga terutama keluarga Parno selalu meneror mereka. Mereka berharap setelah pindah nanti, tak ada masalah besar yang menimpa keluarganya dan bisa bebas dari keluarga Parno. Lagi pula di desa ini, keduanya sudah tak memiliki pekerjaan gara-gara keluarga Parno yang menghasut orang-orang disana. Hanya rumah yang menjadi harta mereka satu-satunya dan itu masih akan mereka pikirkan bagaimana baiknya.


***


Setelah kangen-kangenan dengan kedua orangtuanya, Nadia memutuskan untuk segera bersiap ke rumah Mama Anisa. Bukan ke rumah sakit karena hari ini Abel sudah diperbolehkan pulang sehingga Mama Anisa menyuruhnya untuk langsung ke rumah saja. Setelah berjalan kaki sekitar setengah jam, Nadia sampai juga di rumah mewah itu.


Sesampainya disana, terlihatlah Mbok Imah yang tengah membersihkan area ruang tamu dengan menyapu dan mengepel. Disana juga sudah disiapkan beberapa perlengkapan yang akan mereka gunakan untuk menyambut kedatangan Abel. Mereka ingin membuat kesan yang sangat istimewa agar Abel merasa senang karena diberi kejutan yang sebelumnya tak pernah ia rasakan.


Setelah selesai dibersihkan, Nadia segera memasang pernak-pernik di ruang tamu dan menghiasnya menjadi lebih indah khas anak kecil yang sedang berulang tahun.


"Huh capeknya..." gumam Nadia.


Setelah 2 jam berkutat dengan pernak-pernik pesta, Nadia segera mengistirahatkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Badannya pegal-pegal karena harus mengerjakan semuanya sendiri, sedangkan Mbok Imah sibuk dengan makanan untuk menyambut kedatangan Abel.


***


"Horeee... Akhirnya pulang ke rumah" seru Anara.


"Ayo kak Abel, pasti kak Nadia udah nungguin didalam" ajaknya.


Kedua gadis perempuan itu pun saling bergandengan tangan dan berlari kecil menuju pintu masuk rumah diikuti oleh Papa Reza yang menggendong Arnold. Andre dan Mama Anisa hanya tersenyum saat melihat semuanya tersenyum bahagia karena sudah bisa pulang ke rumah. Saat Anara dan Abel membuka pintu...


Duarrrr...

__ADS_1


"Welcome home, Kakak Abel" seru Nadia dan Mbok Imah bersamaan.


Mereka semua yang baru saja datang tentunya kaget dengan suara letusan party popper yang dibawa oleh Nadia. Mama Anisa yang mempunyai ide itu pun juga terkejut karena tak menyangka kalau ada adegan ini. Awalnya Mama Anisa hanya mendiskusikan ini dengan Nadia dan Mbok Imah saja, itu pun ia berencana membuat kejutan di ruang tamu bukan di depan pintu rumah seperti ini. Namun melihat wajah bahagia Abel, ia merasa rencananya dengan Nadia sangatlah berhasil. Terlihat sekali kalau mata Abel berkaca-kaca karena terharu mendapatkan kejutan untuk pertama kalinya. Bagaimana mama Anisa tahu kalau ini adalah kejutan pertama kalinya? Ya jelas karena tak mungkin orang-orang yang menyiksa Abel mau membuatkan kejutan seperti ini.


"Selamat datang kembali ke rumah, kak Abel" ucap Anara.


"Amat atang, kak Bel" seru Arnold.


"Terimakasih" ucap Abel.


Semua tertawa saat mendengar ucapan dari Arnold yang tak jelas itu, namun Abel tersenyum manis kemudian memeluk semua orang yang ada disana sambil mengucapkan terimakasih. Setelah acara peluk-pelukan berakhir, mereka masuk kedalam rumah dan langsung menuju ruang tamu. Mereka terkejut dengan berbagai hiasan yang menempel bak pesta ulang tahun. Bahkan di meja sudah tersedia banyak kue manis dan snack cemilan khusus anak-anak. Mama Anisa menepukkan dahinya pelan, sepertinya ia dan Nadia salah memesan perlengkapan kejutan sehingga semuanya menjadi seperti pesta ulangtahun.


"Astaga... Ini pasti kerjaan Mama" ucap Papa Reza.


"Sama Nadia ya, pa. Jangan cuma mama yang disalahin dong" gerutu Mama Anisa.


Nadia yang namanya disangkut pautkan hanya meringis pelan, dia tahu kalau dirinya dan Mama Nadia salah memesan barang dan konsep yang mereka rundingkan belum matang. Padahal awalnya mereka hanya ingin ada bentuk tulisan selamat datang Abel saja dan makan-makan namun ini malah terdapat banyak balon-balon. Tadi karena terlalu bersemangat, Nadia tak memikirkan kalau konsepnya bukan untuk pesta ulang tahun. Jadinya ia segera meniup balon banyak dan memasangnya. Ia pun baru sadar saat semuanya sudah selesai.


"Udah nggak papa, yang penting Abel, Anara, dan Arnold bahagia" ucap Andre menengahi.


Setelah selesai dengan keributan itu, mereka akhirnya tersadar kalau Anara, Abel, dan Arnold telah berada di dekat meja kue. Dengan polosnya, mereka memakan kue itu hingga belepotan kemana-mana bahkan wajahnya sudah cemong coklat. Semua orang dewasa disana hanya tertawa melihat tingkah dan wajah lucu dari ketiga bocah itu.


"Terimakasih Tuhan, aku harap kebahagiaan ini selamanya" batin Andre.

__ADS_1


__ADS_2