Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Terapi


__ADS_3

Mama Anisa dan Nadia pulang dengan wajah tampak kelelahan setelah berhasil memberikan pelajaran kepada Parno. Andre dan ketiga anaknya yang berada di ruang keluarga pun mengernyitkan dahinya heran melihat keduanya tampak berjalan dengan lesu. Namun dengan kepekaan yang sangat tinggi, Abel mengambilkan dua gelas air putih yang berada di meja kemudian menyodorkannya kearah nenek dan bundanya itu.


"Terimakasih, sayang" ucap keduanya bersamaan.


Glek... Glek... Glek...


Keduanya mengambil gelas berisi air putih ditangan Abel kemudian meminumnya dengan rakus. Setelah gelas tersebut kosong keduanya segera menaruhnya diatas meja. Mereka segera duduk di sofa sambil memejamkan matanya.


"Nenek sama bunda kenapa? Kok kaya kecapekan kaya gitu" tanya Abel penasaran.


"Terlalu lama diluar dan kepanasan jadinya begini deh. Makasih karena perhatian sama bunda dan nenek, Abel cantik" ucap Nadia sambil tersenyum manis kearah Abel.


Abel membalasnya dengan senyuman manis juga. Ia merasa tersipu malu karena sebelum-sebelumnya tak pernah dipuji oleh orang terdekatnya. Ketika kembali di rumah Andre barulah ia merasakan hal semanis itu.


"Wah... Adi Anol uga lho mau kacih inum cama anya-anya entang nek dan unda. Api uluan akak Bel" ucap Arnold dengan mengerucutkan bibirnya.


Nadia tahu kalau kini Arnold sedang cemburu dan mencari perhatian dari bundanya. Nadia hanya bisa tersenyum saat Arnol ingin merasakan rasanya dipuji oleh dirinya. Anara pun sama, namun anak itu tak terlalu memperlihatkannya karena sudah diwakili oleh Arnold.


"Wah benarkah? Kalau begitu terimakasih adek Arnold yang tampan dan kakak Anara yang cantik" ucap Nadia dengan tersenyum.


Arnold dan Anara seketika saja matanya berbinar cerah mendengar pujian serta ucapan terimakasih dari Nadia itu. Sedangkan Mama Anisa dan Andre hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah ketiga bocah kecil itu. Ketiganya segera dibantu oleh Nadia untuk dibersihkan meninggalkan Mama Anisa dan Andre yang berada di ruang keluarga.

__ADS_1


Mama Anisa menatap lembut kearah Andre yang masih terus memperhatikan kepergian Nadia dan ketiga anaknya sambil tersenyum. Terlihat sekali dari pancaran mata Andre, kalau dia sangat terharu dengan perhatian yang diberikan oleh Nadia kepada ketiga anaknya.


"Kamu beruntung mempunyai Nadia sebagai kekasihmu. Tapi dia juga beruntung langsung bisa merasakan menjadi seorang ibu ketika menjadi kekasihmu. Kalian saling melengkapi kekurangan masing-masing sehingga terlihat seperti pasangan yang sempurna. Berbahagialah dengan Nadia dan ketiga anakmu, Ndre. Mama dan papa akan selalu mendampingi kalian sampai semua kebahagiaan menyertai kalian" ucap Mama Anisa dengan mata berkaca-kaca.


Andre yang mendengar ucapan mamanya pun sudah tak bisa berkata-kata lagi, ia segera memeluk Mama Anisa yang berada disamping kursi rodanya dengan eratnya. Sambil terisak, Andre mengucapkan terimakasih kepada Mama Anisa karena telah mempertemukannya dengan Nadia dan tidak meninggalkannya disaat terendahnya.


***


Hari ini adalah hari sabtu yang dimana Andre mendapatkan jadwal untuk melakukan terapi jalan. Ditemani dengan Mama Anisa dan Nadia beserta ketiga anaknya. Papa Reza tak bisa menemani terapi karena sedang ada pekerjaan di luar kota. Andre selalu dihantui rasa bersalah, akibat dirinya yang belum bisa berjalan membuat Papa Reza jarang di rumah karena harus mengurus pekerjaannya.


Keenam orang itu berangkat menggunakan mobil dengan Mama Anisa yang mengemudikannya. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menembus jalanan yang terlihat lumayan ramai karena banyaknya orang yang berpergian di akhir pekan. Suasana dalam mobil terdengar sangat riuh dengan nyanyian yang terlontar dari mulut Anara dan Arnold.


"Naik delman istimewa ku duduk di muka..." nyanyi Anara menyanyikan lagu anak-anak.


"Itu kan hanya lagu, bukan beneran" seru Anara kesal karena nyanyiannya terpotong oleh seruan Arnold.


"Ndak oleh ya, ni aik obil. Yanyi halus aik obil ukan deman" ucap Arnold lagi.


Mobil yang dikemudikan oleh Mama Anisa berhenti di tempat parkir yang berada tepat pada halaman rumah sakit. Mama Anisa yang melihat kedua cucunya itu masih berdebat pun hanya bisa menghela nafasnya pasrah.


"Ini sudah sampai, Anara dan Arnold lanjutin berdebatnya nanti aja ya" tegur Nadia.

__ADS_1


Kedua orang yang masih berdebat itu pun segera menghentikan perdebatannya kemudian menyengir lucu mengarah ke Nadia. Akhirnya Nadia keluar lebih dahulu kemudian membantu Andre untuk duduk di kursi rodanya, sedangkan Mama Anisa menurunkan ketiga cucunya.


"Terimakasih" ucap Andre dengan tersenyum lembut kepada Nadia setelah ia berhasil duduk di kursi rodanya.


"Sama-sama" jawab Nadia dengan senyumnya.


Mama Anisa sangat senang melihat pemandangan yang begitu manis itu. Nadia segera mendorong kursi roda Andre sedangkan Mama Anisa mengawasi ketiga cucunya yang tengah berjalan didepannya. Setelah beberapa menit berjalan di lobby rumah sakit, sampailah mereka didepan sebuah ruangan khusus untuk terapi jalan. Mereka memasuki ruangan itu setelah nama Andre dipanggil.


"Selamat pagi, tuan. Saya akan memeriksa kaki anda dan memberikan sedikit pemanasan terlebih dahulu agar otot-otot kaki anda tidak kaget" ucap dokter itu.


Andre hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Dibantu dengan dokter dan perawat, Andre dibaringkan diatas brankar tempat tidur. Kakinya diperiksa bahkan beberapa kali ditekan untuk mengetahui titik-titik syaraf yang masih hidup. Beberapa kali juga Andre berteriak kesakitan karena tekanan yang dilakukan itu membuat Arnold marah-marah.


"Om doktel, atanya mau nembuhin papa. Kok Papa teliak kecakitan? Om doktel mau nakitin papa ya?" tuduh Arnold.


Bahkan Arnold dengan beraninya mendekat kearah dokter dan Andre sambil berkacak pinggang. Tentunya dokter itu mengalihkan perhatiannya dan melepaskan pegangannya pada kaki Andre. Dokter itu hanya tersenyum melihat anak kecil yang tengah menatapnya dengan tajam sambil berkacak pinggang.


"Tenang saja, om dokter beneran mau nyembuhin papa kok. Jadi adek kecil duduk disana sama yang lainnya ya biar papanya cepat sembuh" ucap dokter itu memberi pengertian.


"Aiklah... Aiklah... Wawas aja ampe nakitin papa, Anol endang antat om doktel" ancam Arnold.


Mama Anisa dan Nadia yang mendengar ucapan Arnold hanya bisa meringis pelan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Mereka merasa tak enak hati dengan ucapan dan sikap Arnold itu. Nadia memberi kode kepada dokter itu seraya meminta maaf dan beliaupun hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Arnold kembali berjalan menuju kearah Nadia, nenek, dan saudaranya yang lain kemudian duduk dengan tenang.

__ADS_1


Sedangkan sang dokter langsung saja melanjutkan apa yang harus dilakukannya. Anara dan Abel hanya melihat saja semua tindakan dokter itu bahkan terkadang meniru gerakan tangannya. Kedua bocah kecil itu sangat antusias dengan apa yang dilakukan oleh dokter itu hingga berpikiran untuk ikut membantu menyembuhkan kaki papanya agar bisa segera berjalan.


__ADS_2