Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Duo N


__ADS_3

Setelah menjeda ucapannnya sebentar karena sang dokter melihat keadaan dari keluarga pasien shock, maka ia segera melanjutkan penjelasannya. Penjelasan yang sangat penting bahkan ditunggu-tunggu oleh Andre dan kedua orangtuanya karena hal ini menyangkut rasa penasarannya terhadap reaksi Abel.


"Kami juga sudah melakukan pemeriksaan pada kondisi psikisnya. Mohon maaf tuan dan nyonya, dengan berat hati kami mengatakan bahwa nona Abel mengalami trauma tingkat sedang akibat dari kekerasan yang dia alami" ucap dokter itu.


"Nona Abel akan sering mengalami kegelisahan jika berada di tempat dan lingkungan yang tidak membuatnya merasa aman dan nyaman. Dia takut akan bertemu dengan orang baru bahkan keramaian hingga membuatnya sering berhalusinasi dan gelisah. Jika terjadi halusinasi dan gelisah berlebihan bahkan sampai demam, saya minta untuk segera dibawa ke rumah sakit" lanjutnya.


Andre dan Mama Anisa sudah lemas akibat mendengar penjelasan dokter itu, sedangkan Papa Reza hanya terdiam dengan tatapan datarnya. Mereka tak menyangka, 3 tahun melepas Abel ke wanita itu menjadi petaka untuk gadis kecil itu. Mereka sangat bersalah karena menyerahkan Abel pada wanita tak punya hati itu.


"Apa yang bisa kita lakukan untuk kesembuhan kesehatan fisik dan psikisnya, dok?" tanya Papa Reza.


"Jauhkan nona pada hal-hal yang membuat traumanya kambuh, terutama hindarkan dulu dari orang-orang yang menyebabkan pasien seperti ini. Buatlah lingkungan sekitarnya hangat dan nyaman untuk ditinggali nona Abel. Nanti akan kami berikan beberapa obat dan juga jadwal terapi untuk mempercepat penyembuhan tulang yang retak" jawab dokter itu.


Andre dan kedua orangtuanya menganggukkan kepalanya mengerti. Mereka sudah memikirkan beberapa rencana demi penyembuhan Abel secara fisik maupun psikisnya. Setelah mendapatkan penjelasan dari dokter, ketiganya pamit untuk kembali ke ruangan Abel.


Di sepanjang perjalanan menuju ruang rawat Abel, ketiganya terdiam dengan tatapan datarnya. Bahkan Mama Anisa yang biasanya tersenyum jika ada orang menyapa, kini sudah tak ada lagi senyuman. Bahkan kedua tangannya mengepal sempurna, ingin sekali dirinya menghajar orang-orang yang telah merusak mental cucunya.


Jangan pikir Mama Anisa akan diam saja cucunya diperlakukan seperti ini, dia akan membalas berkali-kali lipat orang-orang tak punya hati itu. Kalau anak dan suaminya akan memberikan pelajaran pada yang laki-laki, dia akan mencabik-cabik muka wanita-wanita ular itu. Dulunya Mama Anisa ini adalah gadis yang bar-bar dan suka tawuran saat remaja namun sikapnya itu mulai berubah saat dirinya mempunyai anak yaitu si Andre. Sehingga baginya adalah hal mudah untuk membuat wanita ular itu bertekuk lutut dihadapannya dengan wajah babak belur.


Didalam otak Mama Nisa sudah memikirkan berbagai rencana untuk membalas mantan menantunya itu. Dia akan menjahili dan menghajar habis-habisan hingga tak bisa bangun lagi.

__ADS_1


***


Sesampainya di ruang rawat Abel, ketiganya segera masuk ke dalam dan terlihatlah Nadia yang tengah seorang diri duduk menonton acara TV. Sedangkan ketiga bocah kecil sudah tertidur pulas diatas kasurnya masing-masing. Mama Anisa segera mendekat kearah Nadia sedangkan Andre dan Papa Reza duduk di sofa tak jauh dari kedua wanita itu.


Andre mulai bercerita tentang apa saja yang terjadi pada Abel kepada kedua orangtuanya. Cerita itu tentu saja sesuai dengan yang diceritakan oleh Abel. Semuanya ia ceritakan tanpa mengurangi atau melebihkan. Bahkan Andre juga menceritakan bagaimana pertemuannya dengan mantan istrinya. Mama Anisa dan Papa Reza benar-benar geram dengan kelakuan biadab dari keluarga itu yang sama sekali tak punya perasaan. Pantas saja kondisi fisik dan psikis Abel terguncang, siksaan mereka sungguh tak manusiawi untuk anak kecil. Terlebih ibu kandungnya tak mempedulikannya disaat ia disakiti, ini membuat rasa kepercayaan Abel kepada orang terdekatnya semakin turun.


"Nadia, kau mau membantuku untuk memberikan pelajaran pada manusia-manusia tak berhati itu?" tanya Mama Anisa dengan nada datarnya.


"Tentu, tante" seru Nadia dengan semangat.


Nadia dan Mama Anisa seketika menggulung lengan bajunya keatas seakan-akan sudah bersiap akan berperang melawan manusia-manusia seperti hewan itu. Nadia juga tak rela anak semanis dan sepintar Abel mendapatkan kekerasan seperti itu. Mata Nadia dan Mama Anisa seketika berkilat marah, terlebih kini keduanya memang sefrekuensi membuat aura di sekitarnya menjadi sangat mengerikan. Nadia yang bar-bar begitu pula dengan Mama Anisa, sungguh kombinasi yang sangat bagus.


"Andre, Papa... Titip cucu-cucu mama. Nadia dan mama akan melakukan misi dulu" ucap Mama Anisa.


Mama Anisa dan Nadia berdiri dengan lengan baju yang masih digulung keatas, keduanya melipat kedua tangan di depan dadanya.


"Duo N siap beraksi" seru Mama Anisa.


Seruan mama Anisa itu benar-benar membuat Andre dan Papa Reza kaget, beruntungnya ketiga bocah kecil yang tertidur pulas itu sama sekali tak terganggu.

__ADS_1


"Duo N apa, ma?" tanya Papa Reza heran.


"Hiss... Singkatan nama Nisa dan Nadia. Gimana sih papa ini? Nggak gaul" gerutu Mama Anisa.


Papa Reza hanya bisa geleng-geleng kepala melihat sikap bar-bar istrinya kembali lagi, bahkan ia sampai heran dan penasaran dengan misi apa yang akan dilakukan keduanya.


"Mama ini mau kemana? Misi apa lagi?" tanya Papa Reza.


"Rahasia, ini urusan wanita. Kalau papa mau tahu, papa harus jadi wanita dulu" ucap Mama Anisa asal.


Andre dan Nadia hanya bisa menahan tawa melihat kekalahan Papa Reza menghadapi ucapan Mama Anisa. Sedangkan Papa Reza hanya mengelus dadanya pelan karena merasa ternistakan oleh istrinya sendiri.


"Ayo, Nadia kita berangkat" ajak Mama Anisa.


Nadia yang tahu kalau Mama Anisa sedang mengode dirinya pun segera bersiap-siap dengan mengambil tasnya. Mama Anisa mengambil tasnya kemudian menggandeng tangan Nadia dan pergi dari ruang rawat Abel meninggalkan Papa Reza dan Andre yang masih menatap kepergian mereka tak percaya.


"Lebih baik papa susul mereka berdua. Papa takut terjadi apa-apa dengan kedua wanita itu, kamu jagalah ketiga cucu papa" pamit Papa Reza.


Setelah Papa Reza pergi, Andre hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah keluarganya. Namun ia beruntung berada di keluarga yang saling melindungi satu sama lain seperti ini.

__ADS_1


"Papa mah nggak tahu aja gimana bar-bar nya Nadia kalau udah berantem. Kalau udah tahu pasti juga cuma bisa cengo" gumam Andre.


__ADS_2