Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Nasib Perayaan


__ADS_3

"Unda, papa... Adi ini imana nacib pelayaan lolosna abang Arnold dan kak Ilam macuk cekolah? Tok ndak di ahas agi" tanya Alan mencoba menggali informasi.


Setelah pulang dari rumah Nenek Darmi tadi, mereka langsung masuk kamarnya masing-masing. Mereka segera membersihkan diri kemudian duduk diatas ranjang kamar Nadia dan Andre. Sambil menunggu Anara dan Abel yang belum pulang dari sekolahnya, mereka memutuskan untuk sekedar berbincang disana.


"Kan yang lolos masuk sekolah abang dan kak Nilam, kok yang antuasias dengan perayaan ini malah Alan sih" ucap Andre dengan sedikit menyindir.


"Abisna Alan dalang lho itut peta-peta cepelti itu. Mana ciap uyang taun ndak pelnah dilayain" kesal Alan mengungkapkan unek-uneknya.


Selama ini memang di keluarga Farda jarang sekali mengadakan pesta perayaan ulang tahun atau semacamnya semenjak Nadia koma. Waktu itu terakhir mereka mengadakan perayaan anniversary Andre dan Nadia itu pun hanya kecil-kecilan. Sepertinya Alan memang tidak lah bisa kalau suasana di rumah itu sepi.


"Bagaimana kalau kita liburan saja? Bukannya jauh lebih seru kalau kita liburan satu keluarga. Main di pantai atau naik wahana permainan gitu" ide Nadia sambil tersenyum.


Nadia memang tak terlalu suka dengan adanya pesta atau perayaan sejenis itu. Ia hanya ingin keluarganya bisa berkumpul bersama kemudian menikmati indahnya alam. Itu akan terasa lebih menyenangkan dan suasana kehangatan terasa dibandingkan dengan pesta.


Mendengar ide yang terlontar dari Nadia itu mempunyai ketiga laki-laki berbeda usia itu terdiam. Seketika saja Arnold menganggukkan kepalanya dengan antusias menyetujui apa yang diucapkan oleh Nadia. Pasalnya selama ini keluarga mereka jarang berkumpul karena kesibukan masing-masing. Kalau liburan kan pasti tak mungkin hanya satu hari saja.


"Kalau liburan harus butuh waktu lebih dari satu hari, bunda. Papa harus menyiapkan semuanya dulu biar nanti Bayu nggak keteteran. Tadi aja waktu papa tinggal pergi ke rumah Nenek Darmi, Bayu sampai mengejar dan memintanya untuk tak pergi karena pekerjaan sedang banyak" ucap Andre memberi pengertian.


Mendengar hal itu bahu Arnold seketika meluruh, ia ingin sekali bisa menghabiskan waktunya bersama dengan keluarga. Walaupun di rumah ada sang bunda dan Alan yang selalu menemaninya, namun Arnold merasa jika semuanya terlalu sibuk. Kedua kakaknya yang melakukan persiapan mengikuti olimpiade tentunya akan pulang sore kemudian istirahat dengan cepat. Hal itu membuat Arnold merasa kesepian terlebih kedua kakaknya sudah tak bisa meluangkan waktunya seperti dulu.

__ADS_1


Nadia yang melihat Arnold sedih pun langsung memeluk anaknya itu dari belakang. Ia menciumi pucuk kepala anaknya itu dengan sayang seakan tahu tentang kegundahan hati Arnold. Andre dan Alan saling memandang mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Alan yang biasanya peka pun seakan linglung seperti Andre.


"Coba papa rundingkan ini dengan papa dan Bayu. Mungkin mereka bisa membantumu untuk menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dan kita tentukan kapan liburan itu akan terlaksana. Kita nggak pergi dadakan kok pa, mungkin liburan sekolah anak-anak yang masih beberapa bulan lagi. Jadi bisa mempersiapkan semuanya lebih dulu" ucap Nadia mencoba untuk bernegosiasi dengan suaminya.


"Iya, bunda. Nanti biar papa rundingkan dulu sama mereka" putus Andre sambil tersenyum.


Arnold masih terlihat sedih bahkan kini langsung membalikkan badannya kemudian memeluk sang bunda. Selama beberapa bulan ini memang Arnold terlihat lebih melow dari biasanya hal ini terkadang membuat Nadia bingung. Sedangkan Andre merasa bersalah karena sangat susah baginya untuk meluangkan waktu bagi anak-anaknya.


"Abang... Angan cedih-cedih agi, tan papa agi mengucahatan agal ita bica libulan belcama. Talo anti ndak bica libulan ya cudah ita kiknik di lalaman belakan lumah. Yan entin ita bica beltumpul cama-cama" ucap Alan dengan bijak.


Bahkan kini mata Alan sudah berkaca-kaca melihat Arnold terlihat sedih dan kecewa dengan apa yang didengarnya. Kini Alan langsung memeluk abangnya dari samping kemudian mengusap punggung Arnold dengan lembut menggunakan tangan kecilnya.


"Adiknya jadi sedih tuh karena abang gini. Papa dan yang lainnya sedang mengusahakan untuk kita bisa liburan. Ayo jangan kaya gini, anak bunda kan orang hebat. Harus bisa menerima keputusan yang nanti didiskusikan bersama" ucap Nadia dengan lembut.


Andre merasa beruntung karena kini anggota keluarganya mau saling melengkapi walaupun banyak kekurangan didalamnya. Terutama dirinya yang belum sempurna dalam mendidik anak dan istrinya. Bahkan kekurangan yang dimilikinya itu disempurnakan oleh istrinya itu.


***


"Assalamu'alaikum..." seru Anara dan Abel saat mereka sudah pulang dari sekolah.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam..." jawab semua orang yang ada di ruang keluarga.


Senja sudah tampak saat keduanya kembali ke rumah. Dengan dijemput oleh sopir pribadi keduanya, mereka kembali pulang setelah menjalani tambahan waktu belajar di sekolahnya. Wajah keduanya tampak sangat lesu sehingga bisa disimpulkan bahwa mereka kelelahan. Bahkan tasnya dibawa dengan diseret hingga menimbulkan bunyi gesekan dengan lantai.


Setelah melihat semua orang ada di ruang keluarga, keduanya segera meletakkan asal tasnya itu. Keduanya langsung duduk disamping kanan dan kiri Nadia kemudian memeluknya dari samping. Nadia begitu terkejut melihat kedua anaknya yang tiba-tiba memeluk dirinya.


"Lho... Badan kalian kok hangat begini?" tanya Nadia dengan nada khawatirnya.


Pasalnya saat Nadia mengelus rambut hingga kening Abel dan Anara, telapak tangannya tak sengaja menangkap keanehan. Ternyata Abel dan Anara demam hingga bersikap manja seperti ini kepadanya. Andre, Mama Anisa, dan Papa Reza langsung saja mendekat kearah mereka. Mama Anisa juga langsung memeriksa kening keduanya yang memang terasa panas.


"Ayo ke rumah sakit" ajak Mama Anisa.


"No... Di rumah saja. Kami hanya kelelahan, nek" ucap Abel menolak.


Para orang dewasa saling menatap seakan berdiskusi untuk menentukan apa yang harus mereka lakukan. Akhirnya mereka menyetujui permintaan anaknya itu. Papa Reza segera mengambil Abel masuk dalam gendongannya sedangkan Andre membawa Anara. Setelah ini mereka akan mencari tahu penyebab anaknya yang sakit ini.


Papa Reza dan Andre membawa kedua gadis kecil itu menuju kamarnya. Sedangkan Nadia dan Mama Anisa segera menyiapkan alat kompres, makanan, dan obat untuk kedua gadis kecil itu. Sedangkan kini Arnold dan Alan yang ditinggalkan di ruang keluarga bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Kakak emam?" tanya Alan dengan polosnya.

__ADS_1


"Mana abang tahu. Ayo kita naik ke kamar, lihat keadaan kakak" ajak Arnold.


Alan menganggukkan kepalanya kemudian Arnold menggandeng tangan adiknya itu untuk membantu naik keatas tangga. Beruntung Mbok Imah melihat kedua bocah kecil itu sehingga mengawasi jalannya mereka karena takut terjadi sesuatu kalau tidak diawasi.


__ADS_2