Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Akhir


__ADS_3

Waktu terus berlalu, tak terasa sudah 2 bulan Tina dan Lukman tinggal bersama dengan keluarga Farda. Kondisi keduanya sudah perlahan membaik bahkan dengan melakukan terapi di rumah. Terpaksa Papa Reza meminta beberapa dokter dan perawat datang ke rumah untuk melakukan terapi pada keduanya.


Hal ini dikarenakan Tina yang akan selalu histeris jika bertemu dengan orang banyak dan hanya tenang apabila ada Alan juga saudara-saudaranya. Beruntung anak-anak tak ketakutan dengan sikap Tina yang kadang histeris dan mengoceh sendiri. Bahkan Alan selalu menanggapi ocehan Tina sehingga keduanya malah seperti orang adu debat.


Saat ini mereka sudah bersiap untuk melaksanakan liburan karena memang anak-anak sudah libur sekolah. Mereka akan libur 2 minggu untuk Anara dan Abel sedangkan Arnold nanti harus masuk 2 hari lebih awal untuk masa pengenalan sekolah.


"Hole libulan... Athilna ndak tuma liyat embok dan lumput di lumah. Bocan uga talo yang liyat-liyat tuma ada lumput yang belgoyang nini" seru Alan sambil melompat-lompat kegirangan.


"Hole... Eda uga cenang mawu libulan, ndak tuma liyat bang Alan telus. Bocan Eda mah..." seru Ega dengan senang.


Tentunya orang dewasa yang mendengar seruan Ega itu tertawa apalagi tahu kalau Alan kini dinistakan oleh adiknya sendiri. Tentunya Alan langsung memberengut kesal mendengar ocehan dari adiknya kemudian memukul paha Ega.


Plakk...


Alan mendengus kesal melihat semua orang menatapnya dengan tajam karena tingkahnya itu. Ia kan hanya memberi peringatan kepada adiknya itu agar tak menistakan dirinya. Tentunya ia kesal karena kini ada yang berani meledeknya padahal dulunya semua saudara atau keluarganya tak ada yang bisa menandingi kehebatan berbicaranya. Mungkin hanya Arnold yang bisa mengimbanginya namun bocah itu sekarang malas untuk berbincang dengannya.


"Alan, jangan suka main tangan. Peluk dan dielus gini kan lebih baik daripada memukul saudaranya" peringat Nadia dengan mempraktikkannya pada Ega.


"Iya unda" pasrah Alan membuat Andre memeletkan lidahnya saat bocah kecil itu menatap papanya.


"Ayo kita berangkat" ajak Papa Reza dengan sudah membawa kopernya dan sang istri.


Semalam semuanya sudah menyiapkan segala keperluannya untuk liburan kali ini. Bahkan Fikri dan Nenek Hulim juga akan ikut namun bertemu di bandara. Nenek Darmi dengan anak, menantu, dan kedua cucunya nanti akan dijemput oleh sopir keluarga Andre. Bahkan Ibu Ratmi dan Ayah Deno nantinya juga akan menyusul ke tempat liburan yang sudah mereka janjikan yaitu Pulau Bali.

__ADS_1


Semuanya kini naik mobil dengan sopir yang mengemudinya. Perlahan tapi pasti mobil melaju dengan kecepatan sedang. Semuanya begitu bahagia karena akan menikmati libur panjang bersama dengan anggota keluarga yang lengkap. Walaupun Gracia dan Nilam yang notabene sahabat dari Alan juga Arnold tak bisa ikut karena sudah ada janji dengan keluarga yang lain.


"Ditini tenang, ditana tenang... Mana-mana hatitu tenang. Di lumah bocan, cekolah bocan, mana-mana Alan tuka bocan" seru Alan sambil bernyanyi dengan mengganti liriknya.


Semua orang dewasa hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar nyanyian dari Alan itu. Apalagi liriknya sudah diganti oleh bocah laki-laki itu. Ega pun sama, selalu menirukan apa yang dilakukan oleh Alan. Hal ini bisa saja malah membuat semuanya pusing karena ternyata Ega merupakan titisan Alan yang baru.


***


Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya mereka sampai di bandara tujuan. Disana sudah ada Nenek Darmi dan keluarganya beserta Fikri juga Nenek Hulim. Mereka secara bersamaan naik keatas pesawat setelah melewati beberapa pengecekan. Beberapa petugas langsung membantu membawa Lukman masuk dalam pesawat dengan menggunakan kursi roda.


"Alan, kakak rindu lho" seru Fikri yang kini duduk berdampingan dengan Alan.


"Alan ndak tuh. Tacian... Lindu tu beltepuk cebelah tangan" ucap Alan meledek Fikri.


Para pramugari yang sedang membantu hanya bisa menahan tawanya mendengar ocehan dari Alan itu. Mereka tak menyangka anak seusia Alan sudah pintar dalam mengucapkan hal seperti itu. Sedangkan Nadia yang sedari tadi memperhatikan sikap Alan hanya bisa geleng-geleng kepala saja.


Tentunya para pramugari itu tertawa mendengar godaan yang keluar dari mulut anak laki-laki itu. Sedangkan Fikri langsung menutup wajahnya dengan bantal yang memang dibawanya agar tak malu. Harusnya tadi dia duduk dengan Arnold tetapi ternyata bocah laki-laki itu harus menjaga Ega yang ketakutan karena baru pertama kali naik pesawat.


"Sama-sama bocah tampan" ucap pramugari itu kemudian berlalu pergi meninggalkan Alan yang begitu sombong karena dipuji tampan.


"Inat ya kak Fikli, Alan itu ampan. Buktina tu wewek-wewek muji atu" ucap Alan sambil menepuk bahu Fikri.


"Iye... Iye... Kayanya kau ini bukan tampan, tapi nampan" kesal Fikri.

__ADS_1


"Dih... Cyilik" ucap Alan dengan acuh.


Mereka semua menikmati pemandangan yang disuguhkan diatas langit melalui jendela pesawat. Bahkan Ega tak ketakutan sama sekali saat pesawat sudah mulai terbang. Setelah sekitar satu jam berada didalam pesawat, akhirnya mereka sampai juga di bandara tujuan.


Mereka semua segera menuju ke area tunggu karena disana sudah ada Ibu Ratmi dan Ayah Deno. Melihat semua keluarganya sudah datang, Ibu Ratmi segera memeluk semua orang yang ada disana.


"Akhirnya kita bisa berkumpul seperti ini dengan suasana lengkap" ucap Ibu Ratmi pada Mama Anisa.


Mama Anisa menganggukkan kepalanya. Ia juga merasa bahagia karena ternyata kini semuanya bisa berkumpul dalam keadaan sehat. Mereka seemua akhirnya menuju hotel yang telah dipesan. Semuanya istirahat dalam kamar karena nanti sore akan pergi ke pantai untuk menikmati sunset.


***


Sore hari tiba, semua segera bergegas menuju pantai untuk menikmati keindahan matahari terbenam. Bahkan anak-anak juga langsung berlarian di pinggir pantai dengan tertawa bahagia. Anara, Abel, dan Zunai memilih untuk bermain pasir sedangkan Alan, Arnold, Ega, dan Fikri kejar-kejaran dengan Andre.


"Terimakasih Nadia, sudah memberikan warna pada kehidupan kami yang dulunya suram itu. Bahkan kamu juga yang mengajari kami untuk bersabar dalam menghadapi semua masalah yang silih berganti datang menghampiri" ucap Mama Anisa dengan tulus kemudian mengecup dahi menantunya singkat.


"Sama-sama, ma. Terimakasih juga sudah memilih Nadia yang petakilan ini jadi menantu mama. Bahkan mama baik baik nggak kaya mertua-mertua di sinetron itu" ucap Nadia kemudian memeluk Mama Anisa.


Nadia pun kini berjalan mendekat kearah anak-anak juga suaminya yang sudah duduk didekat istana pasir yang dibuat oleh Anara, Abel, dan Zunai. Andre langsung memeluk istrinya itu dari samping sambil melihat bocah yang laki-laki mengganggu Anara, Abel, dan Zunai.


"Aku bahagia. Terimakasih tak meninggalkanku disaat sedih dan kacaunya hidupku. Maafkan aku yang selama ini jauh dari kata sempurna, aku bahagia memilikimu dan anak-anak. I love you" bisik Andre tepat pada telinga istrinya.


"I love you too, my husband" ucap Nadia.

__ADS_1


Tepat saat matahari terbenam itu, semuanya bersuka cita menyambut kebahagiaan yang selama ini mereka upayakan bersama. Setelah banyaknya masalah yang terus datang silih berganti, akhirnya kini mereka bisa menemukan arti bahagia sesungguhnya. Berkumpul dengan keluarga dan selalu bersama dalam menghadapi segala masalah yang ada, itu lah sesuatu yang sederhana namun membahagiakan.


END


__ADS_2