
"Bunda nggak ada uang cukup, nak. Ini aja bunda cuma bawa kartu ATM yang papa berikan tapi nggak tahu isinya berapa" ucap Nadia dengan pelan.
Arnold hanya acuh saja mendengar ucapan sang bunda, bahkan dengan percaya dirinya ia meminta penjualnya disana untuk segera membungkuskannya. Nadia hanya bisa pasrah saja, jika nanti uang yang ada di ATM kurang maka ia dengan senang hati akan meminta suaminya untuk mentransfer uang. Lagi pula selama ini Andre selalu protes dengannya karena pengeluarannya hanya sedikit. Terlebih yang dibeli hanyalah keperluan anak-anaknya saja.
"Ini" ucap Arnold menyodorkan sebuah kartu ATM berwarna hitam ditangannya.
Sontak saja Nadia terkejut melihat anaknya mempunyai kartu itu bahkan tangannya yang hendak mengambil ATM dalam tasnya langsung saja terhenti. Ia menatap Arnold dengan pandangan bertanya sedangkan ketiga saudaranya yang lain tentunya bingung dengan apa yang diperdebatkan oleh bunda dan juga Arnold.
"Kamu dapat kartu itu dari siapa?" tanya Nadia sambil berbisik.
"Ini punya nenek, tapi uang yang ada didalamnya punyanya Arnold" ucap Arnold dengan santai.
Nadia semakin dibuat bingung dengan jawaban sang anak, sejak kapan Arnold mempunyai uang sebanyak itu di kartu milik Mama Anisa. Kalaupun ada uang didalamnya dan itu milik Arnold, pastilah jumlahnya hanya beberapa ratus ribu saja.
"Silahkan..." ucap penjual itu sambil mengembalikan kartu milik Arnold.
Bahkan penjual itu juga sudah memberikan tiga bungkusan rapi berisi kalung berlian yang diinginkan oleh Arnold. Sontak saja Nadia yang masih melamun itu tersadar dari lamunannya. Ternyata saat dirinya melamunkan tentang uang yang ada di kartu yang dipegang oleh Arnold itu, semuanya telah selesai dipersiapkan oleh penjual. Bahkan pembayarannya juga sangatlah lancar.
"Ayo bunda..." ajak Arnold kepada sang bunda dan saudara-saudaranya.
Mereka berjalan keluar dari toko perhiasan itu dengan Nadia yang masih terlihat kebingungan. Arnold mengajak mereka ke sebuah foodcourt untuk membeli cemilan yang diinginkannya. Setelah mendapatkan beberapa cemilan dan minuman, akhirnya mereka duduk di kursi yang telah disediakan.
__ADS_1
"Bunda, Kakak Bel, dan Kak Nara... Ini kalung untuk kalian" ucap Arnold.
Arnold segera menyerahkan kalung-kalung itu ke hadapan bundanya dan kedua saudaranya. Mereka bertiga tentunya sangat terkejut dengan apa yang diberikan oleh Arnold. Ternyata kalung berlian yang harganya bahkan hampir ratusan juta itu dibeli untuk para perempuan. Bahkan kini mata Nadia terlihat berkaca-kaca karena Arnold yang begitu manis memperlakukannya padahal dia bukanlah ibu kandungnya.
"Bunda, jangan nangis. Kan ini Arnold kasih kalungnya gratis bukan suruh bayar nyicil" seloroh Arnold dengan mencebikkan bibirnya.
Arnold paling kesal jika bunda dan kedua kakaknya itu menitikkan air mata. Padahal air mata yang keluar itu karena terharu dan bahagia bukanlah akibat sedih. Mendengar selorohan Arnold membuat Nadia terkekeh pelan walaupun matanya kini masih terlihat berkaca-kaca.
"Iya, makasih ya nak. Buat hadiahnya, bunda bahagia sekali lho ini sampai mau nangis rasanya" ucap Nadia sambil tersenyum.
"Makasih adek, kalungnya indah sekali" ucap Abel sambil terus melihat kalung yang ada di kotak perhiasan didepannya.
"Gembul, besok lagi-lagi ya beliin kaya gini" ucap Anara bercanda.
Semuanya tertawa mendengar ucapan dari Arnold yang begitu lucu menurut mereka namun dalam hati mengaminkannya. Entah mengapa Arnold itu seperti moodbooster diantara kekacauan yang ada didalam hidup mereka. Bahkan kini Arnold dengan sigapnya memakaikan kalung itu kepada Nadia, Anara, dan Abel. Ketiganya begitu bahagia saat kalung itu tersemat pada leher masing-masing.
"Bang, unya Alan ana?" tanya Alan dengan tatapan polosnya.
Ternyata Alan begitu iri dengan ketiga perempuan yang ada disana karena mendapatkan hadiah dari abang tersayangnya itu. Arnold yang melihat jika Alan menengadahkan tangannya seperti kode meminta sesuatu darinya pun tentu langsung saja mengetuk-ngetuk jari telunjuknya pada dagunya.
"Alan cowok, ndak pakai kalung. Hadiah buat Alan besok-besok aja, abang belum mikirin" ucap Arnold dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
Alan yang mendengar jawaban dari abangnya pun mencebikkan bibirnya kesal. Sepertinya abangnya itu tak berniat memberinya hadiah sehingga harus memikirkannya dahulu.
"Gimana kalau Alan kasih abang hadiah dulu baru nanti aku berikan juga. Jadi kita tukaran hadiah gitu" lanjutnya.
"Alan ndak unya ide" balas Alan menggoda sang kakak.
Arnold memelototkan matanya kesal karena adiknya itu membalas kejahilannya tadi. Bahkan kini Nadia, Anara, dan Abel terlihat tertawa karena melihat perdebatan mengasyikkan itu. Perdebatan keduanya itu memang membuat suasanan disana begitu hangat. Terlebih wajah Arnold dan Alan yang terlihat kesal membuat mereka gemas bukan main.
Mereka pun akhirnya memutuskan untuk makan setelah mendengar perdebatan tak penting antara Alan dan Arnold. Bahkan saking fokusnya dengan kegiatan mereka membuat semuanya lupa jika di seberang sana ada yang kalang kabut karena tiba-tiba saja dalam ponselnya ada notifikasi penggunaan kartu yang mencapai ratusan juta.
***
"Gembul, astaga... Aku kira kemarin minta kartu untuk beli cilok, ternyata buat belanja ratusan juta" seru Mama Anisa terkejut.
Bahkan Papa Reza yang ada disebelahnya langsung saja mengalihkan pandangannya kearah sang istri yang terlihat panik dan kalang kabut saat melihat ponselnya. Terlebih saat ini istrinya itu sedang menemaninya bekerja membuatnya terkejut dan takut terjadi sesuatu dengan Mama Anisa.
"Ini lho, pa. Kemarin kan Arnold meminta uang sisa dan bayaran dari Andre karena berhasil meminta saudaranya tak mengganggu moment papanya itu. Nah mama kasih tuh kartu ATM, ku kira kan buat beli cilok atau dawet kan ya, ternyata ini buat belanja ratusan juta" seru Mama Anisa menjelaskan.
Papa Reza sontak menatap istrinya itu dengan tatapan tak percayanya. Pasalnya tak mungkin jika cucunya itu berani belanja hingga ratusan juta dan bagaimana dengan pemikiran istrinya itu kalau beli cilok juga dawet pakai kartu ATM. Dia hanya bisa mengelus dadanya sabar karena mempunyai dua orang aneh dalam kehidupannya.
"Biarin aja lah, ma. Yakin deh kalau memang Arnold yang menggunakan kartu itu pastinya adalah kebutuhan penting" ucap Papa Reza mencoba berpikir positif.
__ADS_1
"Hish... Jangan percaya dengan si gembul deh. Pasti tuh anak pakai uang ini buat belanjain pacarnya" kesal Mama Anisa mulai berpikiran negatif.
Papa Reza hanya bisa geleng-geleng kepala dengan pemikiran istrinya itu. Padahal menurutnya Arnold mempunyai pacar itu hanya sekedar guyonan dan candaan anak kecil saja bukan serius. Namun ternyata sang istri itu menganggapnya serius dan sekarang berpikir yang tidak-tidak. Mama Anisa nantinya sudah siap jika akan memarahi cucunya yang kelewat jahil dan usil itu saat bertemu.