
Setelah acara peluk-pelukan dan kangen-kangenan didalam kamar Mama Anisa, akhirnya semua memutuskan untuk membersihkan diri kecuali Nadia yang kini sedang memesan makanan. Tak adanya bahan makanan yang tersedia membuat mereka harus memesan makanan dari luar, hal ini dikarenakan Mbok Imah tak tahu jika majikannya akan pulang hari ini.
Setelah satu jam mereka membersihkan diri dan makanan sudah tersedia di meja makan, akhirnya semuanya memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Ruang makan kali ini hening karena semua begitu menikmati moment berkumpulnya kembali anggota keluarga Farda ditambah dengan Nadia. Nadia pun masih bertugas untuk menyuapi si kecil Arnold, sedangkan Abel dan Anara memilih untuk makan sendiri.
"Kita berkumpul di ruang keluarga dulu untuk ngobrol" titah Papa Reza.
"Nadia bereskan ini dulu, setelahnya aku akan menyusul" ijin Nadia.
Papa Reza menganggukkan kepalanya mengerti. Akhirnya Papa Reza, Andre. Anara, Abel, dan Arnold beranjak pergi ke ruang keluarga sedangkan Nadia dibantu Mama Anisa membereskan meja makan.
***
Setelah menyelesaikan kegiatannya, kedua wanita beda usia itu segera menyusul semua keluarganya yang sudah berkumpul di ruang keluarga. Terlihatlah disana Andre dan Papa Reza yang tengah berbincang mengenai bisnis sedangkan ketiga bocah kecil duduk dengan santai sambil menonton acara kartun.
Kedua wanita itu segera mendekat kearah mereka sambil terus menyunggingkan senyum lembutnya. Mama Anisa duduk didekat suaminya sedangkan Nadia memilih mendekati ketiga anak Andre. Andre yang melihat itu tentunya mendengus kesal, dia juga ingin bermanja-manjaan dengan kekasihnya itu.
"Nad, sinilah duduk dekatku. Aku kan kangen banget sama kamu, masa kamu malah jauh-jauh sih duduknya" ucap Andre dengan manja.
Mama Anisa dan Papa Reza yang melihat hal itu tentunya merasa jijik karena Andre tak pernah yang namanya mengucapkan sesuatu dengan manja seperti itu. Menurur mereka berdua sangat menggelikan apalagi dulu sewaktu menikah pun keduanya tak pernah melihat Andre manja dengan Aneta.
"Unda dicini aja cama Anol. Angan ekat-ekat papa coalna papa malin celingkuh cama bule antik dan cekcoy dilual negli tata enek" ucap Arnold mengompori.
__ADS_1
"Astaga... Mana ada begitu? Jangan ngomong sembarangan ya gembul" kesal Andre.
"Lho... Anol benelkan? Tata enek lho, enek ndak ungkin ohong cama Anol" ucap Arnold membela neneknya.
Mama Anisa memang tadi saat membantu memandikan Arnold sempat bercerita tentang perselingkuhan papanya dengan bule di luar negeri. Sebenarnya itu hanya bualan Mama Anisa saja karena jelas Andre tak ada waktu dan kesempatan untuk itu. Dan sekarang saat mendengar ucapan Arnold tentunya membuat Mama Anisa terkikik geli karena berhasil menjahili anaknya.
Nadia yang tahu kalau itu hanya candaan pun mengikuti sandiwara dari Mama Anisa agar Arnold senang. Sedangkan Papa Reza hanya bisa geleng-geleng kepala dengan tingkah istri dan calon menantunya yang sama-sama jahil.
"Benarkah? Papa kenapa jahat banget sih sama Bunda? Kurang apa bunda ini sampai papa lirik-lirik bule di luar negeri" ucap Nadia dengan wajah yang disedih-sedihkan.
"Iya, mang papa ahat. Ending unda cama Anol aja, ndak usah ekat-ekat papa" ucap Arnold dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Unda, angan cedih ya. Ada Anol yan cetia cama unda dicini. Anti bial Anol malahin papana" lanjutnya sambil menenangkan Nadia.
Tiba-tiba saja Arnold berdiri kemudian berkacak pinggang didepan papanya dengan menunjukkan raut wajah seperti orang sedang marah. Andre yang melihat itupun pura-pura takut dan menundukkan kepalanya.
"Papa, angan cakiti unda dan ikin unda cedih-cedih agi. Angan cuka lilik-lilik ule cekcoy anti atanya intitan" ucap Arnold.
"Unda, angan cedih-cedih agi ya. Ada Anol dicini yan celalu ada uat unda. Agi Anol, unda dalah wewek aling antik di unia ini. Anol cayang unda" lanjutnya sambil menenangkan Nadia.
Nadia begitu terharu dengan apa yang diucapkan oleh Arnold. Dia tak menyangka bahwa Arnold begitu manis dan sangat sayang kepada dirinya. Padahal dulunya anak laki-laki itu yang paling menentang adanya dirinya namun sekarang ia tak menyangka jika Arnold lah yang paling peka diantara ketiga anak Andre lainnya.
__ADS_1
Suasana yang tadinya dibangun untuk menjahili Andre pun kini berubah menjadi haru setelah mendengar ucapan Arnold. Mama Anisa juga tak menyangka cucu laki-lakinya yang dulunya cuek namun sekarang menjadi orang yang paling peka perasaannya.
Andre segera menarik Arnold kedalam pelukannya kemudian mencium lama pucuk kepala anak laki-lakinya itu. Ia yakin suatu saat nanti Arnold akan menjadi pelindung bagi kedua kakaknya dan adik-adiknya kelak. Bahkan laki-laki itu pasti akan menjadi orang yang paling mengerti perasaan semua orang yang ada didekatnya.
"Maafin papa ya, dek. Papa nggak suka kok lirik-lirik bule di luar negeri. Papa sayang sekali sama bunda, adek, Abel, dan Anara. Jadi adek tenang saja ya" ucap Andre dengan lembut.
"Angan ohong ya papa, Anol ndak mau unda cedih" ucap Arnold.
"Janji" ucap Andre.
Keduanya saling mengaitkan jari kelingkingnya sebagai ucapan janji. Walaupun tadi awalnya hanya bercanda, namun karena Arnold menganggapnya serius membuat Andre jadi ikut terbawa suasana. Mama Anisa pun merasa bersalah karena sudah membohongi cucunya itu.
"Ayo kita peluk bunda sama-sama" seru Andre.
Arnold segera melepaskan pelukannya dari Andre kemudian berjalan mendekat kearah Nadia dan memeluknya. Begitupun dengan Anara, Abel, dan Andre yang ikut masuk kedalam pelukan gadis itu. Andre mengeratkan pelukannya pada keempat orang yang ada didepannya.
Dalam hatinya, ia sangat bersyukur mendapatkan Nadia yang selalu ada untuknya disaat senang dan sedihnya. Bahkan disaat titik terendah dalam hidupnya pun, dia tak meninggalkannya sama sekali. Nadia juga yang telah membantunya untuk lebih dekat dengan anak-anak. Poin utama yang paling Andre kagumi dari gadis itu adalah cara merawat ketiga anaknya. Sungguh rasa kagumnya dulu menjadi rasa cinta yang besar untuk gadis itu.
"Tunggu sebentar lagi, Nad. Aku akan segera mengesahkanmu sebagai istriku lalu kita bisa tinggal bersama dengan anak-anak" batin Andre sambil tersenyum lembut menatap Nadia yang tengah menciumi pucuk kepala ketiga anaknya.
Papa Reza dan Mama Anisa yang melihat pemandangan itu begitu terharu bahkan matanya sudah berkaca-kaca. Mama Anisa semakin mnengeratkan pelukannya pada suaminya itu karena begitu bahagia dengan apa yang didapatkan Andre saat ini.
__ADS_1
"Kita berhasil mengantarkan Andre menemukan perempuan yang baik, ma" bisik Papa Reza dan Mama Anisa hanya mengangukkan kepalanya setuju.