
Arnold bermain di sekitaran taman dekat sekolah TK kedua kakaknya itu sendirian. Tadinya Nadia atau Mama Anisa akan menemani namun dengan tegas Arnold menolaknya. Ia mempunyai misi tertentu sehingga tak mau ada orang yang mengikutinya terlebih orangtua ataupun keluarganya. Nadia dan Mama Anisa tentunya khawatir namun dengan cerdasnya Arnold meyakinkan mereka.
"Bunda, nenek... Jangan khawatirin Arnold yang tampan ini ya. Arnold sedang ada misi tertentu yang nggak boleh oranglain tahu. Pokoknya superhero Arnold ini akan baik-baik saja karena aku punya kekuatan untuk melawan segala macam kejahatan. Jadi please... Biarkan Arnold bersemedi sendirian ya" ucap Arnold denga mengedip-ngedipkan matanya berulang kali.
Akhirnya karena tak tahan melihat keimutan Arnold, keduanya memberikan ijin untuk Arnold pergi. Namun mereka berdua tentunya memberikan beberapa pesan untuk bocah kecil itu.
"Pokoknya kalau ada orang jahat atau yang kamu curigai, harus lari ke tempat yang ramai biar ada yang nolongin" pesan Nadia.
Arnold menganggukkan kepalanya mengerti dan akhirnya disinilah ia berada. Taman yang berhadapan langsung dengan TK yang dulunya kedua kakaknya itu bersekolah. Bahkan di sebelahnya juga ada tempat PAUD.
"Huh... Nilam kemana sih? Ya ampun, baru satu tahun ndak ketemu ini udah rindu aja sama dia" gumam Arnold sambil memandang kearah gedung TK itu.
Arnold memang disini karena sebuah misi yaitu mencari keberadan Nilam. Sebenarnya bukan Nilamnya yang menghilang, namun semenjak bundanya koma waktu itu maka Arnold juga jarang sekali menemani kedua kakaknya ke sekolah membuatnya tak bertemu dengan Nilam.
Arnold terus fokus melihat kearah gedung TK itu berharap kalau Nilam akan berada disana. Namun saat semua siswa keluar, tak ada Nilam diantara semuanya. Harapannya pupus hingga dirinya memutuskan untuk pulang saja. Saat dirinya sudah berdiri dan melihat sekali lagi kearah area sekolah itu, tiba-tiba ia terkejut melihat ada seseorang yang sangat mirip dengan orang dicarinya.
Gadis kecil dengan rambut dikuncir dua dengan ikatan berwarna pink itu terlihat sedang melihat kearah jalan sekitarnya. Sepertinya ia sedang bersiap untuk menyeberang jalan, namun Arnold bingung saat melihatnya. Dulunya Nilam selalu ditemani oleh seorang babysitter saat menemani kakaknya sekolah namun saat ini dirinya terlihat sendirian tanpa pengawasan orang dewasa.
Dengan inisiatifnya, Arnold berjalan menuju kearah jalanan itu untuk menemui Nilam. Setelah samapi diseberang jalan Nilam berada, terlihat jelas kalau yang dilihatnya memang gadis yang dicarinya. Bahkan Nilam yang belum berhasil menyeberang jalan pun sudah melihat kearahnya dan tersenyum bahagia. Saking bahagianya, Nilam berlari menyeberang jalan tanpa melihat kanan kiri.
__ADS_1
"Nilam, awas..." teriak Arnold.
Beberapa warga yang mendengar teriakan Arnold itu tentunya langsung mengalihkan perhatiannya. Namun Nilam yang sangat bahagia karena bertemu dengan Arnold pun tak mempedulikan sama sekali teriakannya. Arnold yang khawatir dengan Nilam kenapa-napa karena dari jarak lumayan dekat akan ada sepeda motor yang melintas pun dengan beraninya langsung berlari ke tengah jalan. Ia menarik Nilam agar cepat sampai membuatnya terhindar dari tabrakan.
Semua orang yang melihat kejadian itu hanya bisa menghela nafasnya lega. Mereka tak menyangka jika ada anak kecil seberani itu menyelamatkan temannya.
"Lain kali kalau mau menyeberang jalan hati-hati ya, nak. Minta bantuan sama orang dewasa untuk menyeberangkan jalannya" pesan salah satu ibu-ibu yang langsung mendekat kearah dua bocah kecil itu.
"Iya, bu" ucap Arnold dan Nilam dengan senyuman manisnya.
Setelah ibu-ibu itu pergi, Arnold langsung menggandeng tangan Nilam agar pergi mencari tempat duduk di taman. Setelah menemukan kursi yang kosong, keduanya segera duduk disana.
"Nilam, tadi itu bahaya lho main menyeberang sembarangan. Mana ada sepeda motor lagi, besok kalau menyeberang harus tunggu pangeran Arnold datang menjemput dulu" ucap Arnold sedikit menegur dan menggombali gadis cilik itu.
"Jangan menangis, Arnold nggak marah kok sama Nilam. Tapi lain kali hati-hati ya" ucapnya menenangkan.
"Iya. Nilam cuma bahagia karena bertemu dengan Arnold lagi. Arnold kemana aja? Kok nggak pernah kelihatan lagi di sekolah" tanya Nilam sambil mengusap air mata yang tiba-tiba saja jatuh pada kedua pipinya.
"Arold sibuk kerja. Beberapa hari yang lalu baru aja Arnold gajian" jawab Arnold membanggakan diri.
__ADS_1
Nilam yang mendengar jawaban Arnold pun bertepuk tangan ceria, hal ini membuat bocah laki-laki itu menampilkan wajah tengilnya. Bahkan Arnold langsung saja mengambil uang dalam sakunya kemudian memberikan satu lembar uang kepada Nilam. Nilam yang melihatnya tentunya langsung menatap Arnold dengan tatapan bingungnya.
"Ini uang nafkah untuk kamu. Gunakan ini untuk jajan satu bulan ya" ucap Arnold dengan tersenyum.
Ia pernah mendengar papanya memberikan uang kepada bundanya yang diberikan sebutan nafkah makanya ia langsung meniru dan mempraktikannya pada Nilam. Nilam pun menerimanya dengan senyum lebar kemudian memperhatikan uang yang ada di tangannya itu.
"Ini mana cukup untuk jajan satu bulan, Arnold" protes Nilam pada Arnold dengan mencebikkan bibirnya kesal.
"Kamu harus bersyukur. Masih banyak orang di luaran sana bahkan tak mendapatkan uang sama sekali untuk jajan" ucap Arnold dengan bijaknya membuat Nilam hanya menganggukkan kepalanya pasrah.
Uang yang diberikan oleh Arnold adalah berupa satu lembar uang dengan nominal dua ribu. Nilam berpikir realistis jika diberi uang 2 ribu untuk jajan satu bulan tentunya gadis polos itu bingung akan jajan apa. Kemungkinan hanya permen yang bisa dibelinya untuk satu bulan kedepan.
"Ayo Arnold antar Nilam pulang" ajak Arnold.
Arnold ingin mengetahui dimana letak rumah Nilam yang nantinya bisa membuatnya tak kelimpungan mencari gadis itu. Dengan menggandeng tangan Nilam, keduanya berjalan dengan penuh semangat. Bahkan wajah keduanya sangat ceria seakan rindu yang selama mereka pendam sudah tersalurkan.
"Arnold sekolah dimana?" tanya Nilam sambil berjalan disamping Arnold.
"Arnold enggak sekolah. Arnold udah kerja, buktinya aku bisa kasih kamu uang" jawab Arnold dengan santai.
__ADS_1
Nilam hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu. Pasalnya dia bingung dengan ucapan Arnold yang terkadang belum bisa ia pahami dengan otak kecilnya ini. Ucapan Arnold sudah seperti orang dewasa. Memang bocah laki-laki itu sudah didewasakan oleh keadaan saat bundanya koma dan harus menjaga adik juga kedua kakaknya disaat sang papa sibuk dengan urusannya.
Tanpa menanggapi ucapan Arnold, keduanya terdiam dengan pikirannya masing-masing. Tak berapa lama, Nilam menunjukkan sebuah rumah berlantai 2 yang memang jaraknya tak jauh dari tempat PAUD itu. Keduanya langsung saja masuk kedalam rumah itu setelah dibukakan pintunya oleh satpam.