
Hari kedua Anara dan Abel tidak masuk sekolah, kondisinya sudah sangat membaik. Komunikasi dengan pembimbing olimpiade juga lancar bahkan hari ini rencananya Gea akan datang ke rumah untuk menjelaskan beberapa hal yang tak dipahami oleh Anara dan Abel.
Kedua siswa lainnya juga sangat bahagia dengan keputusan yang diambil pihak sekolah. Mereka juga ikut belajar di rumah masing-masing kadang video call dengan Gea jika tak paham dengan soal yang akan dikerjakan. Untuk Ibu Nengsih dan Ibu Laili sudah dicopot jabatannya sebagai penanggungjawab olimpiade digantikan Ibu Yuni sendiri dalam pengawasannya.
"Kakak kalau mau belajar pelan-pelan aja. Jangan anggap belajar atau olimpiade ini sebagai beban. Anggap aja kuis cerdas cermat biasa biar pikirannya nggak tertekan" pesan Nadia pada kedua anaknya saat mulai malas untuk belajar.
Akhirnya setelah mendengar beberapa penjelasan dari Nadia membuat keduanya mau belajar kembali. Bahkan mereka begitu senang karena tak harus pergi ke sekolah untuk belajar. Setidaknya jika belajar di rumah itu tekanannya tak terlalu kuat saat di sekolah.
"Kakak nanti mau belajar sama ibu gurunya. Kalian jangan ganggu dulu ya" peringat Nadia pada Alan dan Arnold.
Tentunya rasa ingin tahu yang tinggi dari kedua anak laki-lakinya itu yang perlu Nadia was-was agar nanti saat kakaknya belajar mereka tak mengganggu. Terlebih Alan yang selalu ngoceh malah bisa membuat konsentrasi belajar Anara dan Abel bisa saja terganggu.
"Alan ndak pelnah danggu tok. Olang cemuana malah cenang talo belajal ada Alan" ucap Alan dengan percaya dirinya.
"Alan jangan bicara terus, kalau mau ikut belajar ya diam saja" ucap Arnold memperingati adiknya.
"Yayaya" ucap Alan sambil menganggukkan kepalanya dengan acuh.
Tak berapa lama Mbok Imah datang dengan seorang gadis cantik yang bernama Gea, pembimbing olimpiade Anara dan Abel. Sontak saja Alan yang duduk di ruang keluarga bersama dengan Arnold dan bundanya langsung berdiri.
"Tantikna... Ada bidadali yan abis tulun dali tayangan" ucap Alan sambil matanya mengedip-ngedip lucu.
Gea yang baru pertama kali bertemu dengan Alan hanya bisa tertawa mendengar apa yang diucapkan oleh balita kecil itu. Sedangkan Nadia sudah menepuk keningnya karena Alan mulai berulah kembali.
"Ibu Gea ya? Perkenalkan saya Nadia, bundanya Anara dan Abel. Saya panggilkan mereka sebentar" ucap Nadia sambil mengulurkan tangannya kearah Gea.
__ADS_1
"Wooo... Undana Alan cama abang Anol uga don. Tenapa tuma undana akak" protes Alan.
Nadia tak menggubris ucapan Alan yang cemberut itu sedangkan Gea langsung menjabat balik tangan wanita beranak empat itu. Setelah Nadia pergi memanggil Anara dan Abel yang ada di kamarnya sedangkan Gea ikut duduk di ruang keluarga.
"Kalian namanya siapa?" tanya Gea sambil tersenyum ramah.
"Alan yan aling anteng. Talo itu abang Anol yan aling tu cayang" ucap Alan memperkenalkan diri.
Gea hanya bisa tertawa mendengar perkenalan dari Alan ini. Sepertinya baru datang saja ia sudah disuguhi dengan lawakan dan celotehan seru dari Alan membuatnya betah berada disini. Ia kira nantinya dia akan belajar serius dengan Anara dan Abel namun adanya kehadiran kedua bocah laki-laki ini tentunya akan lebih seru.
"Alan jangan lebay deh. Itu namanya Alan kalau aku Arnold, bu" ucap Arnold membenarkan perkenalan mereka.
"Abang ndak acik" gerutu Alan sambil mencebikkan bibirnya kesal.
"Perkenalkan namaku Gea, kalian bisa panggil ibu atau kakak Gea" ucap Gea memperkenalkan diri.
Tentunya Gea hanya bisa tertawa sedangkan Arnold geleng-geleng kepala mendengar ucapan Alan yang menggelikan itu. Sungguh Alan itu versi dirinya dulu waktu kecil namun lebih terkesan berani adiknya itu. Ia juga tak tahu darimana adiknya bisa menemukan kosa kata gombalan yang seperti itu.
Tak berapa lama Nadia datang bersama dengan Anara dan Abel di belakangnya. Anara dan Abel yang sudah lebih fresh wajahnya itu menyambut kehadiran Gea dengan senyum cerianya. Beruntung Anara dan Abel tak takut serta tidak mempunyai pengalaman yang tak mengenakkan tentang Gea.
"Kak Gea, ayo belajar di belakang aja" ajak Anara dengan senyumannya.
"Baiklah" ucap Gea yang kemudian beranjak dari duduknya.
"Itut..." seru Alan yang kemudian berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Nadia yang akan protes dan mencegah anaknya itu ikut dengan mereka pun hanya bisa pasrah saat Alan malah lari menghindar darinya. Ia menatap tak enak hati pada Gea, sedangkan Arnold memilih untuk mengikuti Alan agar adiknya itu tak berbuat ulah.
"Maafkan jika nanti Alan mengganggu kegiatan belajar kalian" ucap Nadia dengan tatapan bersalahnya.
"Tak apa, bu. Lagi pula dengan adanya Alan dan Arnold malah kegiatan belajar ini nantinya jadi seru" ucap Ibu Gea sambil terkekeh.
Nadia yakin jika Gea ini seperti sedang menyindir tingkah Alan tadi saat dirinya sedang memanggil Anara dan Abel. Entah apa yang dilakukan anaknya itu, semoga saja tak mengganggu kakaknya. Gea langsung pergi mengikuti Anara dan Abel ke halaman belakang rumah sedangkan Nadi ke dapur untuk menyiapkan minum juga cemilan.
***
Anara dan Abel belajar dengan serius, mereka menanyakan beberapa hal tentang materi yang belum keduanya pahami. Sedangkan Arnold dan Alan diberikan kertas dengan bolpoint untuk menulis yang dia mau. Mereka semua begitu anteng dengan kegiatannya masing-masing membuat Nadia heran. Pasalnya tak biasanya Alan akan diam saja saat seperti ini.
"Ini bisa kalian minum dan makan dulu" ucap Nadia mengalihkan pandangan semuanya.
"Terimakasih, bu. Malah merepotkan" ucap Ibu Gea tak enak hati.
"Tidak merepotkan kok, hanya cemilan dan minuman saja" ucap Nadia sambil tersenyum.
Setelah meletakkan nampan berisi cemilan dan minuman itu, segera saja ia duduk bergabung dengan Arnold dan Alan. Ia ingin tahu tentang kegiatan apa yang dilakukan oleh kedua anaknya yang membuat mereka diam itu. Namun saat Nadia mendekat, keduanya dengan kompaknya langsung mengambil kertas itu kemudian disembunyikannya.
"Hei... Bunda ingin lihat" ucap Nadia protes pada kedua anaknya yang main rahasia-rahasiaan.
"Nggak boleh, bunda. Ini rahasia anak cowok" ucap Arnold dengan tegasnya.
"Iya, ini lahacia nanak wowok. Unda wewek, adi ndak oleh liat" ucap Alan sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Nadia kesal karena kedua anaknya tak mau memberitahu dirinya. Namun dengan segera Nadia memilih pergi saja sedangkan Gea dan kedua kakaknya tertawa melihat perdebatan antara anak dan bundanya itu. Mereka bertiga memilh istirahat terlebih dulu dari belajar dengan makan cemilan dan minum.
"Bu Dea, tenapa tita halus cekolah? Dahal belajal bica dimana aja, buktina nih talian di lumah bica" tanya Alan dengan tatapan penasarannya.