
Selama beberapa hari ini Parno dirawat di rumah sakit akibat sesak nafasnya dan kondisi mentalnya yang menurun. Parno sesak nafas akibat dicekik terlalu erat oleh Andre, padahal laki-laki itu juga memiliki asma sehingga untuk beberapa hari ini dia menggunakan bantuan selang oksigen. Untung saja Parno masih bisa diselamatkan, kalau tidak maka sudah dipastikan bahwa Andre akan berurusan dengan pihak yang berwajib.
"Sebenarnya kenapa calon suami Nadia ini selalu membuat masalah dengan anak kita, bu?" tanya Bapak Aden kepada istrinya.
"Ibu juga nggak tahu, pak. Setiap berurusan dengan Nadia, pasti Parno selalu seperti ini. Ditambah lagi ini berurusan dengan calon suaminya yang kaya itu" keluh Ibu Dyah.
Pada akhirnya kedua orangtua Parno hanya bisa menyalahkan Nadia tanpa mau mencari tahu tentang kebenarannya. Keduanya segera saja mendekat kearah brankar Parno kemudian membereskan barang-barang yang akan mereka bawa pulang.
Hari ini adalah hari kepulangan Parno dari rumah sakit karena kondisinya sudah mulai pulih. Bapak Aden segera saja menggandeng lengan anaknya, sedangkan ibu Dyah menarik koper milik Parno. Keduanya berjalan di lorong rumah sakit dan melihat adanya dua orang yang mereka kenali yaitu Ayah Deno dan Ibu Ratmi, kedua orangtua Nadia.
"Bu Ratmi..." seru Ibu Dyah.
Saat berjalan, Ibu Ratmi dan Ayah Deno tengah menundukkan kepala karena fokus dengan ponsel yang ada ditangannya sehingga mereka tak melihat adanya keluarga Parno yang tengah berpapasan dengannya. Saat mendengar ada suara yang dikenalinya memanggil, keduanya seketika saja berhenti dan menegakkan kepalanya.
Deg...
Jantung kedua orangtua Nadia berdegup dengan kencangnya saat melihat orang yang mereka hindari selama ini ada didepan mata keduanya. Keduanya segera saja akan berlari, namun sepertinya dewi fortuna sedang tak berpihak kepada mereka. Ibu Dyah menghadang keduanya kemudian menatap tajam kearah Ibu Ratmi. Tatapan yang seakan-akan ingin memangsa lawannya.
"Gara-gara anak kalian, anak saya jadi seperti ini" seru Ibu Dyah sambil menunjuk Parno yang wajahnya masih tampak pucat dengan tatapan kosongnya.
"Lha kok nyalahin saya? Emang apa hubungannya dengan saya?" tanya Ibu Ratmi heran.
"Calon suaminya Nadia itu ingin membunuh anak saya. Kalian harus tanggungjawab" seru Ibu Dyah.
"Itu salah anak anda sendiri yang mengganggu hubungan Nadia dan Andre. Parno berniat membuat salah paham keduanya, ya jelas dong calon menantu saya marah. Lagi pula Parno itu sudah berjanji kalau dia kalah bertanding dengan Andre maka tidak akan mengganggu hubungan mereka. Namun apa kenyataannya?" ucap Ibu Ratmi sinis.
__ADS_1
Beruntung di lorong rumah sakit itu sepi pengunjung sehingga keributan itu tak mengundang perhatian banyak orang. Untung saja Andre sudah menceritakan semua yang telah terjadi sehingga dia bisa membalas ucapan Ibu Dyah. Sedangkan kini kedua orangtua Parno hanya terdiam karena memang tak mengetahui cerita sebenarnya.
"Saya tidak percaya, pasti Andre itu yang membuat ulah terlebih dahulu" ucap Ibu Dyah tak terima.
"Kalau nggak percaya, bisa tanya sama bodyguard anakmu itu. Kalau tanya Parno, sudah dipastikan kalau dia akan memutarbalikkan fakta" ucap Ibu Ratmi dengan ketus.
Tanpa mempedulikan lagi keberadaan keluarga Parno, kedua orangtua Nadia segera saja berlalu dari sana. Sedangkan keluarga Parno hanya bisa menghela nafasnya lelah terutama kedua orangtuanya. Parno sendiri hanya terdiam dengan menundukkan kepala. Setelah kejadian dicekik Andre di taman waktu itu, Parno menjadi pribadi yang pendiam bahkan kalau tak ditanya, dia takkan berbicara. Akhirnya keluarga Parno melanjutkan perjalanannya kembali setelah tertunda.
***
Hari ini Andre dan Nadia memutuskan untuk memberi pengertian kepada ketiga anaknya tentang seorang ibu, terutama pada Abel. Keduanya memutuskan untuk pelan-pelan memberikan pengertian agar hubungan mereka juga tidak di tahap itu-itu saja sehingga bisa berlanjut ke jenjang yang lebih serius.
Mereka semua kini ada di gazebo belakang rumah dengan ketiga anak kecil yang tengah bermain ular tangga. Semuanya larut dalam permainan itu walaupun kedua orang dewasa disana hanya mengawasi saja.
"Anara, Abel, Arnold... Papa mau bicara sebentar dong" pinta Andre.
"Bicala pa?" tanya Arnold dengan tatapan bertanya.
"Iya, pa. Mau bicara apa?" tanya Anara dan Abel bersamaan.
"Hmm... Kalian merasa nggak sih kalau kita tinggal di rumah ini tuh kaya nggak lengkap. Cuma ada nenek, kakek, papa, Mbok Imah, dan Kak Nadia aja. Padahal didalam sebuah keluarga yang lengkap itu harus ada seorang mama untuk melengkapinya" ucap Andre dengan menjeda kalimatnya.
Andre dan Nadia melihat respons dan reaksi dari ketiga anak kecil itu yang terlihat berpikir. Terutama reaksi dari Abel yang kini terlihat sudah mulai agak berbeda, bahkan dari matanya terlihat sebuah kegelisahan.
"Tidak semua mama itu jahat lho. Ada juga yang baik, contohnya mamanya papa yang tak lain adalah nenek kalian. Faktanya nenek adalah orang baik dan sangat perhatian. Kira-kira nih kalian mau nggak kalau di rumah ini ada mama baru?" timpa Nadia.
__ADS_1
"Anol mau unya mama" ucap Arnold.
Mungkin Arnold sendiri belum terlalu paham dengan apa yang terjadi, namun nalurinya sebagai seorang anak kecil yang butuh kasih sayang dari sosok ibu membuatnya mengucapkan hal itu. Anara pun dengan antusias menyetujui ucapan Arnold, sedangkan Abel masih terlihat ragu-ragu.
"Anara juga mau ada mama di rumah ini. Yang bisa diajakin main, antar sekolah, siapin sarapan, dan temani tidur" ucap Anara dengan antusias.
"Tapi mama barunya nanti suka pukul dan bentak Abel dan adik-adik nggak?" tanya Abel dengan lirih.
"Enggak dong, nanti mama baru kalian akan sangat menyayangi kalian. Bahkan kalian boleh minta antar jemput sekolah setiap hari, makan disuapin, main bersama, dan tidur ditemani" ucap Nadia dengan antusias.
"Akak Bel enang aja. Alau da yang ukul-ukul akak, Anol endang antatnya. Anol kan again akak Bel dan akak Nala" ucap Arnold dengan percaya dirinya.
Nadia dan Andre yang mendengar hal itu tentunya hanya bisa tertawa, apalagi melihat wajah serius Arnold yang dibuat seperti orang dewasa. Sungguh menggemaskan.
"Napa alian etawa?" ucap Arnold dengan nada galaknya.
Andre dan Nadia seketika saja langsung mengatupkan bibirnya dan menahan tawanya agar tak mengundang kegalakan Arnold lagi. Apalagi tatapan bocah laki-laki itu yang menyipit seakan memperingatkan keduanya agar tak tertawa.
"Agus... Agus... Nak aik" ucap Arnold dengan mengangguk-anggukkan kepalanya saat melihat Andre dan Nadia terdiam.
"Jadi kalian setuju ya kalau di rumah ini akan ada mama baru?" tanya Andre mengembalikan pertanyaan awal.
"Uju..." seru Arnold.
Sedangkan Anara dan Abel hanya menganggukkan kepalanya. Walaupun Abel masih terlihat ada sedikit ketakutan dan keraguan, namun Nadia dan Andre akan terus meyakinkan gadis kecil itu bahwa mama barunya kali ini tidak akan berbuat jahat. Keduanya segera memeluk ketiga bocah kecil itu dengan erat. Setelah tak berapa lama keduanya melepaskan pelukannya saat mendengar pertanyaan Arnold.
__ADS_1
"Adi, ana mama balunya?" tanya Arnold sembari menengadahkan kedua tangannya.
"Jadi mama barunya ada..."