
"Oyyy... Kenapa malah ninggalin David sendirian disini" seru Parno dengan nada paniknya.
Para preman yang tadi bersama Parno sudah mulai menjauh meninggalkan laki-laki itu sendirian dalam menghadapi Andre. Bahkan mereka sama sekali tak mau menengok kearah Parno yang memanggilnya. Parno pun kini semakin panik dengan wajah pucatnya memutar otaknya agar bisa terhindar dari Andre.
"Mau kemana kau? Jangan harap bisa kabur dariku sebelum aku membalaskan rasa sakit anak dan kekasihku kepadamu" ucap Andre dengan nada datarnya.
"Sebenarnya apa salah David? David udah nggak gangguin kalian lho setelah di taman itu" ucap Parno mencoba bernegosiasi.
"Kali ini memang bukan kau yang salah, tetapi orangtuamu. Orangtuamu sudah menghina bahkan menjambak rambut kekasihku, mereka melakukan kekerasan. Akibat kejadian itu, trauma anakku kembali kambuh karena melihat kekerasan itu" sentak Andre.
Suara hening di malam hari membuat sentakan Andre terdengar sangat keras, apalagi disana sedang tak ada suara kendaraan yang lewat. Parno yang mendengar sentakan begitu keras itu seketika badannya merinding. Dia sudah berpikir macam-macam dengan apa yang akan terjadi padanya setelah ini.
"Tapi itu bukan salah David. David nggak tahu apa-apa, kalau begitu biar aku yang bayar biaya rumah sakit untuk memeriksakan kondisi Nadia dan anak kamu" ucap Parno dengan sedikit memohon.
"Saya tak butuh uangmu karena uangku sudah banyak. Bahkan untuk membiayai semua keturunan kami yang ke seratus pun nggak akan habis" ucap Andre dengan nada sombongnya.
Parno yang mendengar ucapan sombong Andre pun hanya menggerutu didalam hatinya, bahkan ia mengumpatinya namun tak berani mengucapkannya secara langsung. Parno sudah mencoba untuk bernegosiasi namun Andre itu memang susah untuk ditaklukkan.
"Saya akan melepaskanmu tetapi dengan satu syarat" ucap Andre.
"Apa itu?" tanya Parno dengan mata berbinar-binar.
"Kalian sekeluarga pindah dari kota ini" ucap Andre.
Parno yang awalnya matanya berbinar cerah seketika saja menunduk lesu, pasalnya akan sulit bagi keluarganya untuk pindah dari kota ini. Kedua orangtuanya berasal dari kota ini bahkan seluruh keluarga besarnya juga ada disini, lalu kemana mereka akan pindah. Kalau kembali ke desa pasti akan menjadi pembicaraan semua orang, namun kini nyawanya berada di ujung tanduk.
"Gimana?" tanya Andre lagi.
__ADS_1
Parno yang masih melamun karena memikirkan beberapa hal pun tersentak kaget saat mendengar pertanyaan dari Andre. Dirinya masih bingung.
"Hah baiklah... Kami akan pindah ke desa lagi" pasrah Parno.
Andre mengangguk-anggukkan kepalanya saat mendengar jawaban dari Parno. Sedangkan Parno sendiri, dia mempunyai rencana lain yaitu mengucapkan akan pindah namun keluarganya tetap akan tinggal di kota ini. Namun kini keluarganya harus waspada, tidak boleh keberadaannya sampai diketahui oleh Andre.
"Pilihan yang sangat bagus. Namun jika kalian membohongiku, akan ku pastikan kalau kalian tinggal nama saja di dunia ini" ancam Andre membuat Parno bergidik ngeri.
Parno pun menganggukkan kepalanya kemudian Andre yang melihat itu segera saja pergi berlalu dari hadapan laki-laki itu. Sedangkan Parno yang ditinggal begitu saja, langsung saja melihat kearah sekitarnya. Bulu kuduknya merinding saat melihat sekelilingnya sangat gelap dan sepi.
"Woyyy... Anterin David pulang" seru Parno.
Parno berteriak memanggil Andre agar mengantarkannya pulang, pasalnya tadi dia kesini karena dijemput oleh teman-teman premannya. Kini dia bingung harus pulang dengan apa karena Andre pun tak menghiraukan teriakannya.
"Ogah... Pulang aja sana diantar sama mbak kunti terbang" seru Andre.
***
Keesokan harinya...
Nadia datang ke rumah mewah Andre dengan wajah cerianya bahkan langkahnya penuh semangat seakan-akan kejadian kemarin tak pernah ada. Nadia segera memasuki halaman rumah besar itu setelah dibukakan pintu gerbang oleh satpam yang berjaga.
"Nadia..." seru seorang wanita paruh baya dengan hebohnya.
Wanita paruh baya itu adalah Mama Anisa. Saat akan ke halaman depan, dirinya melihat Nadia yang tengah masuk kedalam rumah sehingga dirinya berteriak heboh. Dirinya tak menyangka kalau Nadia akan kembali ke rumahnya setelah kejadian kemarin.
"Hai tante..." sapa Nadia dengan canggung.
__ADS_1
Mama Anisa segera mendekat kearah Nadia kemudian memeluknya dengan erat, namun pelukan itu harus terlepas saat mereka mendengar teriakan anak-anak kecil memanggil nama gadis itu.
"Bunda.... Unda..." panggil Anara, Abel, dan Arnold.
Ketiganya segera berlari menuju kearah Nadia dan memeluknya secara bersamaan. Nadia pun mensejajarkan tubuhnya kemudian membalas pelukan ketiganya. Nadia menciumi dahi dan pipi ketiganya dengan gemas. Ia merasa terharu dengan ketiga bocah kecil itu yang masih mengharapkan kehadirannya disisi mereka.
"Bunda, jangan pergi-pergi lagi. Kalau mau pulang harus pamit dan kita maunya tidur berempat" ucap Anara dengan lucunya.
"Angan elgi, unda. Alau ada ang akal ama unda, ilang ama Anol. Bial Anol endang antatnya" ucap Arnold dengan wajah seriusnya.
Nadia melepaskan pelukannya dari ketiga bocah kecil itu kemudian tersenyum lembut kearah mereka, sedangkan Mama Anisa dan Papa Reza sangat terharu dengan moment yang terjadi. Mereka kemudian tertawa bersama melihat wajah Arnold yang tampak banyak cemongan bedak tak rata. Arnold yang ditertawakan pun ikut tertawa walaupun tahu bahwa dirinya yang menjadi bahan tertawaan.
Disisi lain, ada seorang laki-laki dewasa tengah mengintip dari kejauhan. Dia adalah Andre, yang melihat kedua orangtuanya, ketiga anaknya, dan Nadia sedang tertawa bahagia tanpa kehadirannya. Setelah melihat ini, Andre merasa kalau Nadia adalah orang yang tepat untuk menjadi ibu dari ketiga anaknya.
"Maafkan aku, Nadia. Sudah membuatmu sakit hati dengan ucapan yang keluar dari mulutku. Aku baru sadar kalau memang kamulah yang pantas untuk menjadi istri dan ibu dari ketiga anakku. Aku akan memulai semuanya kembali dari awal dengan mengembalikan kepercayaanmu padaku" gumam Andre dengan tersenyum tipis.
Plukkk...
"Astaga..." seru Andre.
Andre seketika saja berjengit kaget dan berteriak saat ada seseorang yang menepuk pundaknya saat ia tengah mengamati apa yang dilakukan oleh keluarganya bersama Nadia. Mendengar seruan dari Andre, seketika saja Nadia dan yang lainnya segera mengalihkan pandangannya kearah suara itu berasal.
"Maaf, Den Andre. Saya hanya ingin menyadarkan Den Andre dari lamunannya" ucap Mbok Imah yang ternyata adalah pelaku yang menepuk punggung Andre.
"Udah nggak papa, Mbok Imah. Biar kita tahu kalau ada yang ngintip" seru Mama Anisa.
Mbok Imah hanya menganggukkan kepalanya kemudian pamit untuk kembali ke dapur, sedangkan Andre yang sudah ketahuan pun hanya bisa tersenyum canggung. Ia segera berlalu dari sana meninggalkan semua orang yang tertawa melihat tingkahnya itu.
__ADS_1