Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Kembali


__ADS_3

Mama Anisa dan Nadia kembali ke rumah sakit dengan menggunakan kendaraan gerobak motor milik Abang Ucup. Selama perjalanan, keduanya terus tersenyum bahkan orang-orang yang melihatnya di jalan mengira kalau keduanya sudah tidak waras. Apalagi mereka saling berbincang dengan berteriak. Namun Mama Anisa dan Nadia tak mempedulikan pandangan oranglain pada mereka. Setelah beberapa menit berkendara, sampailah mereka di rumah sakit tempat Abel dirawat. Nadia segera mengembalikan kendaraan itu kepada Abang Ucup yang masih setia menunggu di pos satpam. Nadia menurunkan Mama Anisa didekat pintu masuk rumah sakit, sedangkan dirinya membawa kembali kendaraan itu ke pos satpam.


"Ini gerobaknya ya, bang. Pulang dengan aman tanpa lecet. Oh ya... Ini buat beli bensin dan makan siang abang" ucap Nadia sambil menyelipkan beberapa lembar uang ditangan Abang Ucup.


"Makasih banyak ya, neng Nadia" ucap Abang Ucup sambil tersenyum.


Nadia hanya menganggukkan kepalanya kemudian berlalu pergi dari pos satpam kearah Mama Anisa yang masih setia menunggu didepan pintu masuk rumah sakit. Saat sampai disana, Nadia dikagetkan dengan kehadiran Papa Reza yang juga berada disana.


"Lho kok Om bisa ada disini?" tanya Nadia.


"Sejak kalian pergi dari sini, Om sudah mengikuti kalian. Bahkan Om juga melihat bagaimana kalian memberikan pelajaran kepada dua wanita yang menyakiti Abel" ucap Papa Reza.


Mama Anisa dan Nadia yang mendengar itu tentunya sangat kaget dan merasa malu karena aksi bar-bar mereka dilihat oleh Papa Reza. Namun apa boleh buat, mereka melakukan ini agar dua wanita itu juga merasakan penderitaan yang dirasakan oleh Abel.


"Ayo kita masuk kedalam, tadi Andre sudah menghubungi papa untuk segera kembali" ajaknya.


Mama Anisa dan Nadia hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban kemudian mereka bertiga berjalan memasuki rumah sakit dan menuju ke ruang rawat inap Abel. Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya mereka sampai diruang rawat inap Abel. Saat membuka pintu, terdengarlah suara tangisan menggelegar dan seorang laki-laki yang sedang berusaha untuk menenangkannya.


"Mau kak Nadia.... hiks" ucap seorang gadis kecil yang tak lain adalah Anara.


Nadia yang namanya disebut segera saja mendekat kearah anak-anak kecil itu. Ternyata ia melihat Anara tengah menangis dipelukan papanya sedangkan Abel duduk diatas brankar tidurnya dengan menampakkan mata yang berkaca-kaca begitupula dengan Arnold.


"Lho ini kenapa kok nangis?" tanya Nadia.

__ADS_1


Semua orang yang ada disana seketika mengalihkan pandangannya kearah suara seseorang yang mereka kenal. Seketika saja Anara menghentikan tangisannya dan menjulurkan kedua tangannya kearah Nadia pertanda menyuruhnya untuk menggendong dirinya. Nadia yang melihat itu seketika langsung menggendong gadis kecil itu dan mengusap air mata yang jatuh dipipi Anara.


"Kenapa ini kok menangis?" tanya Nadia.


"Kak Nadia kemana saja? Hiks tadi waktu Nara bangun, kak Nadia nggak ada disini" ucap Anara dengan menangis.


"Cieee... Ada yang kangen nih sama kak Nadia" goda Nadia.


Bukannya menenangkan, Nadia langsung saja menggoda Anara. Anara yang mendengar kalau Nadia sedang meggodanya hanya tersenyum malu dan memeluk pengasuhnya itu dengan eratnya untuk menutupi wajahnya yang memerah. Sedangkan Abel yang tadi melihat adiknya menangis dengan mata berkaca-kaca kini ia tersenyum karena Anara sudah tak menangis lagi. Mama Anisa yang melihat itu segera mendekat kearah Abel kemudian memeluknya erat juga. Mama Anisa salut dengan kedewasaan Abel begitupun dengan sifat pekanya.


"Terimakasih nenek" ucap Abel lirih.


Mama Anisa paham dengan apa yang dimaksud kata terimakasih dari cucunya itu, ia hanya menganggukkan kepalanya sembari terus memeluknya erat.


Arnold menggerutu pelan namun masih bisa terdengar oleh semua orang yang ada diruangan itu karena suara bocah laki-laki itu sangat keras. Mereka semua kini tengah menahan tawanya akibat gerutuan Arnold dengan mencebikkan bibirnya. Apalagi melihat wajah cemberut Arnold yang begitu menggemaskan. Andre segera saja mendekat kearah anak laki-lakinya itu kemudian menggendongnya kemudian menciumi perut bulat Arnold. Hal itu membuat Arnold tertawa karena kegelian saat perutnya diciumi oleh sang ayah. Tawa yang begitu merdu keluar dari bibir bayi laki-laki itu seakan menular ke semua orang yang berada disana.


Semua orang yang melihat itu tentunya akan berpikir kalau mereka adalah keluarga harmonis dan bahagia. Begitupun dengan Papa Reza yang sedari tadi mengamati kejadian itu, ia berharap di keluarganya hanya akan ada tawa bahagia.


***


Sedangkan di rumah Aneta dan keluarga Sukra...


Lian dan ayahnya, Rudi berjalan tergesa-gesa memasuki rumah saat tadi dikantor mereka mendapatkan kabar bahwa istri mereka telah dianiaya oleh orang tak dikenal. Mereka akhirnya pulang mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Saat sampai dirumah, mereka segera masuk kedalam kamar tamu yang digunakan Aneta dan Sukma istirahat. Saat melihat keadaan istrinya, mereka hanya meringis ngilu terlebih saat melirik kearah kaki keduanya yang sudah banyak lebam-lebam. Kedua wanita itu masih belum sadarkan diri setelah dokter memeriksa dan mengobati luka-luka mereka.

__ADS_1


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Lian.


Lian menatap tak percaya dengan kejadian yang menimpa mama dan istrinya itu. Dalam hati ia berjanji akan membalas perbuatan orang-orang yang melukai kedua wanita tercintanya.


Lian dan Rudi mengumpulkan semua bodyguard dan maid di ruang tamu. Mereka berdua menatap nyalang pada semua pekerja dirumahnya. Rumah yang dijaga oleh bodyguard bisa-bisanya kecolongan yang mengakibatkan kedua nyonya rumah terluka.


"Siapa yang melakukan ini?" tanya Rudi.


"Ada dua orang yang menjadi provokasi dari kejadian ini, tuan. Dua orang wanita yang salah satunya mengaku kalau Abel adalah cucunya. Kalau tadi tidak salah mendengar, nyonya Sukma memanggilnya Nisa. Untuk yang membantu kedua wanita itu adalah ibu-ibu tetangga sekitar sini" ucap salah satu bodyguard.


Deg...


Detak jantung Lian dan Rudi seketika memacu dengan kencangnya saat mendengar nama yang disebutkan. Keduanya saling menatap seakan mengisyaratkan kalau mereka tengah memikirkan satu orang yang sama. Dengan sigap keduanya memutuskan pandangan kemudian membuka ponsel masing-masing. Mereka memeriksa CCTV yang ada dihalaman rumah.


Keduanya memelototkan matanya tajam saat apa yang mereka pikirkan ternyata memang benar adanya. Dia adalah orang yang selama ini mereka hindari. Namun mengapa mereka sampai datang ke rumah dan menghajar Aneta dan Sukma? Padahal mereka sudah ada perjanjian kalau pihak dari Andre tidak boleh menemui Abel. Melihat adegan demi adegan yang dilakukan oleh dua wanita yang ada di video membuat mereka bergidik ngeri. Kini mereka tak bisa membayangkan bagaimana reaksi istrinya ketika bangun nanti apalagi jika efek obat nyerinya sudah menghilang.


"Bagaimana ini, pa?" tanya Lian sedikit panik.


"Ada apa sebenarnya sampai mereka datang kesini? Pasti ada sesuatu yang membuatnya kemari dan berlaku seperti itu" ucap Rudi.


"Kita akan tanyakan ini pada mama dan istrimu setelah mereka sadar" lanjutnya.


Lian mengangguki ucapan papanya kemudian keduanya membubarkan para pekerja untuk kembali fokus pada pekerjaannya masing-masing. Sedangkan Lian dan Rudi kembali ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri.

__ADS_1


__ADS_2