Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Kesepakatan


__ADS_3

Setelah pulang dari mall, Andre dan Nadia duduk di ruang keluarga bersama dengan Mama Anisa dan Papa Reza setelah mereka membawa ketiga bocah kecil itu ke kamarnya untuk ditidurkan. Semua barang belanjaan mereka juga sudah tertata rapi di kamar karena sudah diatur oleh Mbok Imah. Hari sudah menjelang sore, namun sedari tadi Nadia masih tertahan di rumah besar itu karena Andre ingin membicarakan sesuatu kepadanya dan orangtuanya.


"Ma, pa... Andre mau memindahkan sekolah Anara dan Abel" ucap Andre.


"Lho... Kenapa?" tanya Mama Anisa.


Mama Anisa terkejut mendengar ucapan Andre itu, pasalnya sekolah yang ia pilihkan itu sudah paling bagus diantara yang lainnya dengan fasilitas yang sangat mendukung perkembangan cucu-cucunya. Lagi pula mereka berdua baru 1 hari saja bersekolah disana kemudian libur karena Abel sakit.


"Aku tak ingin Abel bertemu dulu dengan Aneta. Aneta dan Lian masih mengincar Abel agar bisa kembali ke keluarga mereka. Tadi saja di mall kami bertemu Aneta dan Lian lalu mereka menarik Abel untuk dibawa pergi. Abel yang melihat mereka sampai ketakutan dan menangis. Untungnya ada salah satu pengunjung yang membantu kami dengan menyiramkan air ke wajah Lian jadinya dia lengah lalu Abel bisa melepaskan diri. Coba kalau nggak dan saat itu berada ditempat sepi, Andre nggak bisa bayangin kalau Abel samapai dibawa mereka. Apalagi kami tadi juga harus menjaga Arnold dan Anara. Jadi Andre ingin cari sekolah yang Aneta tak mudah untuk mengetahui keberadaan Abel" ucap Andre.


Papa Reza dan Mama Anisa benar-benar kaget dengan apa yang menimpa cucunya di mall. Mereka tak menyangka kalau Aneta tak juga jera padahal sudah diberikan pelajaran oleh Mama Anisa dan Nadia dengan begitu sadisnya. Mama Anisa melirik kearah Nadia yang terlihat terdiam dengan pikirannya. Sepertinya Mama Anisa akan berdiskusi dengan Nadia agar bisa segera membuat Aneta itu jera. Jika dengan kekerasan tak ampuh membuat mereka jera, tentunya dengan cara licik nan cantik akan menjadi pilihan keduanya.


"Ndre, bagaimana perkembangan tentang pelaporanmu atas kekerasan yang dialami Abel?" tanya Mama Anisa.


Dua hari setelah Abel masuk rumah sakit, Andre menghubungi pengacara keluarganya untuk mengurus berkas-berkas agar bisa melaporkan Aneta dan keluarga suaminya ke kantor polisi. Semua bukti berupa foto dan hasil visum sudah disertakan hanya tinggal menunggu polisi mengusut kasus ini. Namun karena pelaporan belum naik ke penyidikan membuat polisi belum memberikan surat pemanggilan pada terlapor. Mereka masih memeriksa kelengkapan berkas dan bukti yang mereka terima. Jadi Aneta dan keluarganya belum mengetahui jika Andre telah melaporkan mereka ke polisi.


"Pihak polisi masih melakukan pemeriksaan berkas dan bukti, ma. Setelahnya nanti akan memberikan surat panggilan kepada terlapor dan segera mengambil rekaman CCTV yang ada dirumah itu setelah dinyatakan cukup bukti" ucap Andre.

__ADS_1


"Jangan sampai itu rekaman CCTV hilang atau direkayasa kaya yang kasus menghebohkan kemarin. Bisa nggak kelar-kelar urusannya nanti" ucap Mama Anisa.


Ucapan Mama Anisa memang benar, mereka harus waspada dan mempunyai taktik lain untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan dari kelicikan mereka.


"Jadi gimana tentang sekolah Anara dan Abel?" tanya Andre mengalihkan pembicaraan.


"Bagaimana kalau dipindahkan ke sekolah biasa saja. Bukan sekolah yang elit atau Internasional begitu. Contoh sekolah yang dekat dengan perumahan ini, itu kan hanya sekolah TK biasa yang dikelola pemerintah kota dan tempatnya pun tak terlalu mencolok. Jadi kemungkinan besar Aneta takkan menemukannya dengan cepat, apalagi kalian adalah keluarga terpandang yang pasti dia mikirnya kalau Anara dan Abel akan sekolah ditempat khusus orang kaya" saran Nadia.


Mama Anisa, Papa Reza, dan Andre terdiam memikirkan saran dari Nadia. Memang benar adanya kalau kedua bocah itu bersekolah di tempat biasa tentunya takkan mencolok perhatian Aneta, namun mereka juga memikirkan fasilitas dan keamanan Anara dan Abel.


"Kalau kalian memikirkan tentang keamanannya, aku pastikan di sekolah itu aman karena ada satpam dan juga Nadia yang siap menjaga mereka selama aktifitas sekolah atau bisa kalian menyewa jasa bodyguard untuk menjaga kami" lanjutnya.


***


Setelah perbincangan itu, kini Andre berada didalam mobil untuk mengantar Nadia ke rumah kontrakannya. Hal ini menjadi kewajibannya karena tadi dia lah yang menahan gadis itu untuk tak pulang terlebih dahulu. Sepanjang perjalanan, hanya ada keheningan dalam mobil itu karena sepertinya mereka sudah kelelahan akibat kejadian di mall tadi.


Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Andre sampailah didepan rumah kontrakan Nadia. Saat Nadia akan membuka pintu mobil, tangan sebelah kirinya ditahan oleh Andre. Nadia mengalihkan perhatiannya untuk menghadap kearah laki-laki itu sambil mengernyitkan dahinya heran.

__ADS_1


"Terimakasih untuk hari ini. Harusnya hari ini kamu libur tetapi malah menemani kami jalan-jalan. Terimakasih juga karena sudah membantuku menjaga anak-anak terutama Abel. Maaf kalau selama ini saya terlihat cuek dan dingin terhadapmu dan terkesan menghinamu" ucap Andre dengan lembut.


Nadia yang mendengar ucapan itu tertegun terutama pada kalimat yang diucapkan oleh Andre. Apalagi dengan suara Andre yang begitu lembut. Baru pertama kalinya dia mendengar Andre berbicara begitu lembut terhadapnya, ia benar-benar melihat sosok lain dari duda beranak tiga itu. Bahkan kini Nadia menatap mata Andre yang memancarkan ketulusan dan kejujuran. Beberapa saat dia terpesona dengan keindahan wajah nan rupawan dan bola mata hitam tajam yang selalu menatapnya penuh permusuhan kini menatapnya begitu lembut.


Deg... Deg... Deg...


Jantung Nadia berdetak begitu kencangnya saat kedua bola mata keduanya saling menatap dengan intens. Bahkan Nadia tiba-tiba saja tersenyum dengan manisnya saat Andre menyunggingkan senyuman kepadanya. Namun moment itu tiba-tiba saja rusak karena ucapan Andre.


"Jangan terlalu lama memandang wajah tampanku, nanti kau bisa jatuh cinta" ucap Andre tiba-tiba.


Nadia yang masih terpesona dengan ketampanan wajah Andre seketika saja sadar dengan apa yang dilakukannya membuat ia segera memalingkan wajahnya karena mukanya kini memerah dan terlihat salah tingkah. Apalagi Andre melihatnya tengah terpesona kepadanya.


"Tuan Andre yang terhormat, coba sini pak" ucap Nadia setelah menetralkan raut wajahnya.


Dengan patuh Andre mendekat kearah Nadia. Nadia mengarahkan wajah Andre untuk berkaca pada spion yang berada diatasnya. Saat Andre tengah berada didepan kaca, Nadia mengucapkan sesuatu yang membuat laki-laki itu kesal.


"Cieee... Yang lagi ngaca, mukanya kaya pantat monyet" ucap Nadia.

__ADS_1


"Kaburrrr..." serunya.


Dengan tregesa-gesa Nadia membuka pintu mobil kemudian berlari memasuki halaman rumah kontrakannya meninggalkan Andre yang sudah kesal dan jengkel. Sedangkan Nadia berlari sambil tertawa terbahak-bahak karena bisa mengerjai Andre. Akhirnya Andre menyalakan mobilnya kemudian pulang menuju ke rumahnya dengan keadaan menggerutu.


__ADS_2