
"Napa dicini tita matan telus ya? Biacana tan tita matan tuma catu tali" ucap Ega dengan ucapan polosnya.
Ega bertanya kepada kakaknya yang duduk disampingnya itu. Namun ternyata ucapan polosnya itu tak hanya sampai pada Zunai saja namun menggetarkan hati orang dewasa yang ada disana. Zunai juga merasa bersyukur dalam hatinya karena bisa makan dua kali dalam sehari ini. Bahkan ia juga bisa makan cemilan kue dan jus yang membuat badannya lebih bertenaga.
"Kalau gitu Ega bilang apa kalau dikasih rezeki sama Allah gini?" tanya Zunai mencoba memancing adiknya.
"Hamdulillah" ucap Ega sambil menengadahkan kedua tangannya dan meraup ke wajahnya.
Zunai tersenyum melihat adiknya itu yang kini begitu paham kalau diajak bicara. Mungkin karena makanan bergizi dan orang-orang disini yang membuatnya nyaman membuat mereka bisa santai dalam berbicara. Tak ada tekanan dalam berbincang membuat mereka tak takut untuk mengungkapkan semuanya.
"Yalhamdulillah... Makacih Ya Allah cudah kacih Alan dan cemua kelualga matanan yang cehat. Olong kacih papa dan tatek lejeki yang salal bial tami cemua adi endut-endut. Amin" ucap Rion menimpali.
"Harusnya biar semuanya sehat dan berkah. Bukan malah bikin semuanya gendut" protes Arnold.
"Tuka-tuka Alan don. Toba abang Anol berldo'a cendili-cendili aja" ucap Alan acuh tak acuh.
Mereka hanya bisa tertawa mendengar perdebatan dari Alan dan Arnold yang selalu meramaikan meja makan itu. Mereka pun akhirnya makan dengan seksama kecuali Alan dan Ega yang memang disuapi oleh Nadia. Terkadang Nadia juga disuapi oleh Arnold yang kebetulan duduk disebelahnya.
"Terimakasih abang" ucap Nadia sambil tersenyum kearah Arnold.
"Sama-sama bunda" ucap Arnold sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Unda, makacih uga don cama abang Alan. Inat ya, anggil atu abang Alan mulai cekalang coalna cudah ada dedek Eda" ucap Alan dengan penuh peringatan.
Orang dewasa hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar peringatan dari Alan itu. Terlebih saat ini Alan sudah mengklaim bahwa Ega adalah adiknya. Kalau sampai Zunai dan Ega tak tinggal disini, pasti akan ada drama yang dibuat oleh Alan sehingga membuat ribut semua orang nantinya.
"Baiklah abang Alan dan adek Ega" ucap Nadia dengan pasrah.
Tak disangka, hanya panggilan itu saja yang diucapkan oleh Nadia bisa membuat dua bocah kecil itu tersenyum. Alan yang memang giginya sudah tumbuh semua membuat senyumnya langsung memperlihatkan gigi. Sedangkan Ega juga memperlihatkan giginya yang belum tumbuh semua. Senyum keduanya menular pada semua orang disana membuat suasana meja makan itu begitu bertambah hangat.
***
"Zunai, bagaimana keputusan kamu?" tanya Papa Reza.
Sebenarnya Papa Reza dan yang lainnya kasihan pada Zunai yang harus memutuskan segala sesuatunya sendiri tanpa didampingi orangtua. Bahkan untuk anak seusia Zunai yang bahkan belum bisa dikatakan dewasa namun harus gerak cepat dalam berpikir untuk masa depannya dan adiknya sendiri. Tapi Papa Reza harus melakukan ini agar bisa segera membantu Zunai dan adiknya itu.
"Kalau kita tinggal disini, apa kami nggak ngrepotin dan nambah pusing kalian cari uang? Baru satu hari kita disini saja makanan dan cemilan sudah banyak yang kita habiskan berdua" ucap Zunai dengan polosnya.
Ia sepertinya merasa bersalah karena sudah makan cemilan dan makanan banyak hari ini. Bahkan cemilan yang ada di ruang keluarga pun keduanya habiskan satu toples. Itu mungkin yang membuat Zunai tak enah hati.
"Woh... Temilan yang ada di luang kelualga tu yang abistan talian toh? Nenang jaja, papa dan tatek bica tok talo tuma beli temilan anyak-anyak. Cetalian pablikna uga bica. Dicini caja ote inggalna?" ucap Alan dengan sombongnya kemudian membujuk mereka.
Setelah makan malam tadi, mereka langsung berkumpul di ruang keluarga untuk mendengarkan jawaban dari Zunai. Zunai dan Alan bahkan kini langsung membulatkan matanya tak percaya mendengar penuturan dari Alan itu. Papa Reza dan Andre yang disebut pun hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka yang bekerja namun Alan yang sombong.
__ADS_1
"Memangnya bisa kakek beli pabrik cemilan? Tapi buat apa beli pabriknya kalau makan saja sehari cuma satu toples" tanya Zunai dengan polosnya.
Papa Reza yang ditanyai pun hanya bisa tertawa mendengar pertanyaan polos dari Zunai itu. Papa Reza segera menggendong Zunai kemudian dipangkunya gadis kecil yang sudah menggetarkan hatinya itu kemudian mengelus rambutnya. Entah mengapa ia seperti melihat sosok yang pernah dikenalnya namun ia lupa dimana.
"Jangan percaya sama ucapan Alan itu. Kakek dan yang lainnya bisa memberikan kalian fasilitas dan makanan yang cukup kalau tinggal disini. Jadi bagaimana? Kita udah sayang lho sama kalian berdua" ucap Papa Reza.
"Oke, Zunai dan Ega mau tinggal disini. Nanti kalau kakek nggak punya uang buat biayain kami, bilang sama Zunai. Biar kami cari kerja buat bantuin kakek dan yang lainnya" ucap Zunai dengan penuh keyakinan.
Mama Anisa yang mendengar hal itu tentunya langsung memalingkan wajahnya. Matanya sudah berkaca-kaca bahkan ia ingin sekali menangis karena terharu. Anak sekecil Zunai sudah berani dan mau membantu mereka dengan bekerja agar tak menyusahkan orang yang mengangkatnya.
Bahkan Nadia juga langsung memeluk Alan dan Ega untuk menyembunyikan air matanya. Ia mengucap syukur dalam hati karena anak-anaknya banyak yang sayang dan cukup dalam semua kebutuhannya. Anara dan Abel sendiri begitu salut dengan bagaimana Zunai mau bekerja demi adiknya.
"Alan duga mau kelja wuwat antu papa dan tatek" celetuk Alan tiba-tiba.
"Kerja apa?" tanya Anara dengan tatapan penasaran.
"Namen di lumah ini. Anti uga wuwangna anyak tan papa dan tatek pati kacih uwit ke tita" ucap Alan dengan tengilnya.
Astaga... Disaat suasana sedang terharu malah Alan membuat semuanya jadi kesal. Terlebih Alan malah mau mengamen dengan target papa dan kakeknya sendiri. Ini sepertinya bukan mengamen tapi meminta.
"Baiklah... Besok kita cari rumahnya budhemu itu dan warga sekitar yang dulu tinggal dekat rumah. Soalnya kakek mau cari informasi tentang kalian buat urus surat-surat" ucap Papa Reza.
__ADS_1
Zunai menganggukkan kepalanya mengerti kemudian memeluk Mama Anisa dan Nadia yang ada disana. Gadis cilik itu mengucapkan terimakasih bertubi-tubi karena sudah mau menampung dia dan adiknya. Sedangkan Ega yanh tahu akan tingal di rumahnya Alan tentunya kini semakin manja dengan abang tengilnya itu.