
Nadia terus berjalan cepat bersama dengan keluarga Mama Anisa sambil menggendong Arnold dan sesekali menengok ke belakang untuk melihat apakah Parno masih mengikutinya atau tidak. Nadia sungguh malas jika harus berurusan dengan Parno itu karena hidupnya akan repot. Nadia masih bertanya-tanya tentang keberadaan Parno yang tiba-tiba ada di kota ini. Jangan sampai Parno itu pindah ke kota ini juga, bisa depresi dia kalau sampai itu terjadi. Namun sayangnya harapan itu sirna karena pada faktanya Parno pindah ke kota juga. Apalagi setelah mengetahui Nadia ada di kota ini, sudah dipastikan Parno akan betah disini.
Setelah berjalan, akhirnya semua sampai di halaman rumah sakit dengan Andre yang segera saja mengambil mobilnya kearah parkiran. Mereka menunggu Andre dengan sabar kecuali Nadia yang sedari tadi was-was emlihat kearah dalam rumah sakit. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya mobil yang dikemudikan oleh Andre datang juga.
Mereka semua masuk kedalam mobil sesuai dengan posisinya saat berangkat tadi. Didalam perjalanan tak ada perbincangan apapun karena semuanya sibuk dengan pikirannya masing-masing. Bahkan ketiga bocah kecil itu hanya terdiam karena mungkin mereka sudah kelelahan.
"Oh ya... Nadia, tadi itu siapa sih sebenarnya?" tanya Mama Anisa memecah keheningan.
"Seperti yang diceritakan ibu kemarin, tante. Dia itu laki-laki yang mau dijodohkan dengan Nadia. Nadia kabur sekitar 2 bulan sebelum pernikahan itu terjadi karena memang nggak punya perasaan sama dia. Lagi pula Nadia nggak suka sama laki-laki yang melambai begitu, terlebih keluarganya sombong karena punya peternakan sapi di desa" cerita Nadia.
"Oh... Pantas saja. Kelihatan sekali kalau ibunya itu sombong, tadi saja pakai perhiasan berlebihan seperti itu. Padahal itu rumah sakit sebagai tempat berobat, bukan tempat untuk ajang pamer perhiasan" ucap Mama Anisa.
Nadia menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Mama Anisa. Memang tadi perhiasan yang dikenakan oleh Ibu Dyah sangat berlebihan untuk dipakai di rumah sakit. Banyaknya gelang emas yang hampir memenuhi pergelangan tangannya dan cincin yang ada disetiap jarinya mampu mengundang perhatian banyak orang, terutama para pelaku kejahatan.
Andre dan Papa Reza yang mendengar percakapan kedua wanita itu hanya terdiam saja dan fokus pada pikirannya masing-masing. Setelah pembicaraan itu, tak ada lagi obrolan yang menghiasi suasana mobil. Setelah beberapa menit di perjalanan, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Andre sampai di rumah mewah miliknya. Mereka semua turun dari mobil kemudian masuk ke rumah mewah itu kecuali Andre dan Papa Reza yang akan langsung pergi bekerja.
***
Nadia bekerja seperti biasanya yaitu menjaga ketiga anak kecil itu sampai sore hari. Namun kali ini ditemani oleh Mama Anisa yang sedang berada dirumah karena tidak ada acara. Mereka kini duduk di ruang keluarga sambil mengawasi ketiga anak kecil yang tengah bermain bersama.
__ADS_1
"Nadia, emang kedua orangtua kamu kenapa pindah kesini? Bukannya lebih nyaman tinggal di desa" tanya Mama Anisa.
Mama Anisa saat ini ingin mengetahui kehidupan Nadia dan keluarganya. Ia sangat penasaran dengan kehidupan mereka di desa yang kata orang-orang jauh lebih nyaman daripada di kota.
"Iya tante, memang secara suasana lebih nyaman di desa. Bahkan disana belum terlalu terkontaminasi polusi atau asap dari kendaraan. Udaranya masih alami, apalagi rumah Nadia itu dekat dengan perkebunan teh. Namun disana tetangganya pada julid, tante. Apalagi kemarin waktu Nadia kabur buat batalin pernikahan. Ayah dan ibu di gosipin sana sini padahal mereka nggak salah apa-apa" ucap Nadia.
Mama Anisa hanya menganggukan kepalanya menyetujui ucapan dari Nadia. Berbeda dengan di kota, terkadang para tetangga bahkan tak saling mengenal karena mereka sibuk dengan pekerjaannya dan jarang berada di rumah. Kalaupun berkumpul kebanyakan dengan teman-teman sosialitanya.
"Bagaimana tentang ucapan Andre tadi di rumah sakit?" tanya Mama Anisa mengalihkan pembicaraan.
"Maksudnya ucapan yang mana, tante?" tanya Nadia bingung.
"Itu lho... Yang tentang kamu jadi calon istrinya Andre" ucap Mama Anisa dengan antusias.
"Sepertinya tante salah paham deh. Itu hanya sandiwara saja agar bisa menghindari Parno, tante" jelas Nadia.
"Enggak, itu bukan sandiwara. Tante bisa melihat dari mata Andre kalau dia mengatakannya dengan serius" ucap Mama Anisa.
Mama Anisa sudah berharap bahwa Nadia akan menjadi menantunya. Apalagi Nadia yang bisa membuat ketiga cucunya itu nyaman berada bersamanya. Nadia hanya menghela nafasnya pasrah karena Mama Anisa tetap kukuh dengan pendapatnya. Dia membiarkan saja biar nanti Andre yang menjelaskannya.
__ADS_1
***
Kini Andre duduk di taman menunggu pesanan rujak dan batagor titipan dari Mama Anisa. Mama Anisa meminta Andre untuk membawakan rujak dan batagor saat dirinya tadi hendak pulang ke rumah. Memang ibunya itu ajaib kalau sudah meminta sesuatu maka harus dituruti langsung. Kalau tidak, maka siap-siap saja akan diomeli panjang lebar selama berjam-jam.
Saat sedang asyik-asyiknya fokus dengan ponselnya, tiba-tiba saja ada seseorang yang berteriak keras dihadapannya. Andre pun mengangkat kepalanya dan melihat siapa orang yang mengganggu kegiatannya itu. Tanpa disangka-sangka, ternyata seseorang itu adalah Parno. Andre yang melihat itu hanya menghela nafasnya kasar.
Dirinya sedang capek dan tak ingin berdebat dengan orang, namun ini ada saja orang yang ingin mencari masalah dengannya. Namun kalau tidak diladeni maka orang seperti Parno ini takkan pernah puas.
"Huh... Kamu yang tadi di rumah sakit kan?" seru Parno.
Andre hanya mendiamkan saja seraya menunggu Parno melanjutkan semua ucapannya karena ia sedang malas menanggapi. Terlihat sekali kalau Parno sedang menahan emosi dan kesalnya karena ucapannya tak dihiraukan oleh Andre.
"Kamu punya mulut atau tidak? Jawab pertanyaan saya" kesal Parno.
"Kalau anda sudah tahu bahwa saya yang ada di rumah sakit, kenapa harus tanya lagi? Dasar bodoh" ketus Andre.
"Saya itu nggak bodoh, cuma memastikan aja biar nggak salah orang" seru Parno.
Andre yang sudah malas melihat wajah Parno pun segera saja berlalu dari hadapan laki-laki itu. Namun seakan tak ada kapoknya mendengar ucapan ketus Andre, Parno mengikuti laki-laki beranak tiga itu hingga ke penjual batagor. Melihat hal itu, Andre kesal bukan main bahkan kini membalikkan badannya dan menatap tajam kearah Parno. Sedangkan Parno yang ditatap tajam oleh Andre seketika menundukkan kepalanya karena takut.
__ADS_1
"Mas, itu adiknya diajak main biar nggak sedih gitu" ucap pedagang batagor membuat Andre memelototkan matanya.
"Amit-amit ya Allah... Punya adik kaya gitu" batin Andre sambil menepuk dahinya pelan.