Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Kedatangan Andre


__ADS_3

Nadia kebingungan mencari jawaban dari pertanyaan Arnold. Sedangkan bocah laki-laki itu menatap begitu penasaran kearah Nadia. Ibu-ibu yang mendengar ucapan Arnold seketika langsung saja menutup mulut mereka. Seharusnya mereka tak lancang mengucapkan sesuatu yang mungkin saja sensitif bagi anak kecil.


"Unda..." panggil Arnold menuntut jawaban.


"Papa nggak luka kok. Papa baik-baik saja dan pasti akan segera kembali. Arnod terus berdo'a ya sama Tuhan biar Papa Andre segera pulang ke rumah" ucap Nadia dengan menahan tangisnya.


"Ukanna papa ulang hali ni?" tanya Arnold dengan mengernyit heran.


"Papa belum pasti pulangnya kapan karena masih banyak pekerjaan. Kalau pekerjaannya sudah selesai, pasti papa akan segera pulang. Jadi Arnold harus sabar dan terus berdo'a ya untuk papa" ucap Nadia dengan tersenyum lembut.


Arnold menganggukkan kepalanya kemudian memeluk Nadia dengan erat. Arnold merasa ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh bundanya itu dan untuk sementara anak kecil itu tak boleh mengetahuinya. Namun ia sudah mengerti kalau bundanya itu menyembunyikan sesuatu untuk kebaikan semua orang.


Nadia memberikan kode kepada ibu-ibu wali murid untuk tak membahas tentang kecelakaan yang menimpa Andre dengan berkata tanpa suara. Semua pun akhirnya menganggukkan kepalanya mengerti dan membahas hal lainnya.


***


Setelah mendapatkan surat persetujuan dari rumah sakit dan kepolisian. Papa Reza segera mengurus segala administrasi mengenai kepindahan Andre ke rumah sakit yang ada di kota tempat tinggalnya. Beruntungnya semua biaya perawatan Andre tercover oleh asuransi kecelakaan. Papa Reza kembali ke ruang ICU untuk menemui istrinya yang ternyata masih duduk sambil memandang pintu ruangan itu.


"Ma..." panggil Papa Reza membuat terkejut Mama Anisa.


"Gimana, pa?" tanya Mama Anisa dengan cepat.

__ADS_1


"Jangan melamun. Kita usahakan malam ini juga untuk memindahkan Andre ke rumah sakit yang ada didekat rumah" ucap Papa Reza.


Mama Anisa hanya menyunggingkan senyum tipisnya menanggapi ucapan Papa Reza. Dia kembali mengalihkan pandangannya kearah pintu ruang ICU dengan sendu. Papa Reza yang melihat itu hanya bisa memeluk istrinya yang kembali menangis didalam pelukannya.


"Andre pasti baik-baik saja, ma. Kita terus berdo'a agar Andre kuat menghadapi ujian ini dan kita sekeluarga diberikan kesabaran untuk merawat anak kita nanti" ucap Papa Reza.


Mama Anisa menganggukkan kepalanya sambil terus memeluk suaminya. Dirinya sungguh rapuh saat ini melihat kondisi anaknya yang seperti ini. Dia masih belum bisa membayangkan jika nanti bertemu dengan ketiga cucunya.


***


Menjelang malam hari, pihak rumah sakit menginformasikan bahwa Andre sudah bisa dipindahkan segera. Kedua orangtuanya pun sudah bersiap, mobil mereka akan mengikuti dari belakang ambuance dengan dikawal dua polisi. Saat dikeluarkan dari ruang ICU, Mama Anisa hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena bisa melihat Andre lebih jelas lagi. Ternyata jika dilihat dari dekat, luka yang Andre dapatkan sangatlah banyak terutama di bagian perut dan wajah. Papa Reza belum memberitahukan tentang penjelasan dokter tadi siang kepada istrinya.


"Nanti papa jelasin kalau sudah sampai di rumah sakit yang ada di kota kita, ma. Sekalian kita bicarakan dengan Nadia juga" ucap Papa Reza.


Mama Anisa hanya menganggukkan kepalanya mengerti walaupun kini hatinya menjadi tak tenang. Sepertinya ada sesuatu yang membuatnya shock nantinya jika dia mengetahuinya. Keduanya mengikuti brankar milik Andre yang didorong oleh beberapa perawat. Kemudian memasukkannya ke dalam mobil ambulance. Setelah semuanya siap, mereka semua berangkat dengan kecepatan sedang agar tak terjadi lagi kecelakaan.


***


Setelah menempuh perjalanan selama hampir 6 jam lamanya, akhirnya mereka tiba di rumah sakit tujuan. Mereka tiba tepat pukul 1 dini hari. Papa Reza segera mengurus semuanya dengan Mama Anisa yang langsung menuju sebuah ruangan ICU yang memang sudah dipersiapkan sebelum kedatangan mereka.


Tak berapa lama duduk di depan ruang ICU, Nadia datang bersamaan dengan datangnya Papa Reza. Memang Papa Reza memutuskan untuk menghubungi gadis itu yang ternyata Nadia langsung bergegas ke rumah sakit setelah mendapatkan kabar dari pria paruh baya itu. Untuk ketiga bocah kecil itu saat ini tengah tidur di kontrakan Nadia ditemani oleh kedua orangtua gadis itu.

__ADS_1


"Nadia..." seru Mama Anisa.


Keduanya saling memeluk dan menangis bersama mengingat kondisi Andre. Jika didepan Anara, Abel, dan Arnold mereka berusaha kuat, namun disini keduanya menunjukkan sisi lemahnya. Nadia melepaskan pelukannya kemudian berjalan kearah pintu ruang ICU. Dia mengintip sekilas bagaimana Andre terbaring lemah disana membuat air mata terus berjatuhan di pipinya.


Papa Reza menjelaskan tentang kondisi Andre sesuai dengan ucapan dokter tadi siang. Kedua wanita berbeda usia itu hanya bisa terduduk lesu dengan tatapan kosongnya saat mendengar apa yang diucapkan oleh Papa Reza. Ketiganya terdiam setelah selesai menceritakan dan mendengarkan tentang kondisi Andre, hanya isakan tangis irih saja yang masih terdengar.


"Nadia, setelah kamu mengetahui tentang kondisi Andre. Apakah kamu masih mau mendampinginya?" tanya Papa Reza.


"Wajah yang sebagian buruk rupa jika tak melakukan bedah plastik, pergelangan tangan yang mungkin saja tidak kuat untuk menggendongmu, dan kedua kaki yang mungkin saja tak bisa berjalan normal seperti laki-laki lainnya. Apa kamu masih mau dengan laki-laki tidak sempurna seperti anakku?" lanjutnya.


Mama Anisa yang mendengar pertanyaan dari Papa Reza tentunya hanya bisa menahan isak tangisnya. Sepertinya dia juga sudah pasrah jika nanti Nadia akan meninggalkan anak dan ketiga cucunya. Nadia terdiam sebentar karena terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Papa Reza.


"Jawab saja dengan jujur, Nad. Kalau kamu memang ingin meninggalkan Andre, kami memaklumi hal itu karena dia tak mungkin bisa hidup normal seperti kemarin" ucap Mama Anisa dengan mata berkaca-kaca.


"Sampai kapanpun saya tidak akan meninggalkan Andre dan ketiga anaknya. Saya mencintainya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, sampai kapanpun akan seperti itu. Saya tak peduli dengan omongan orang yang nantinya menilai saya bodoh karena bertahan dengan Andre. Mereka saja yang tak tahu bahwa dibalik kekurangannya, Andre memiliki banyak kelebihan yang membuatku jatuh cinta. Hati yang tulus itu adalah kelebihannya yang jarang oranglain punya" ucap Nadia dengan penuh ketulusan.


"Terimakasih... Terimakasih sudah mau bertahan disisi anak tante. Semoga kekuatan cinta kalian setelah ujian ini akan semakin kuat" ucap Mama Anisa kemudian memeluk suaminya yang ada disampingnya.


Nadia hanya menganggukkan kepalanya kemudian kembali menatap kearah dalam ruang ICU.


"Aku akan menjadi tangan dan kakimu dalam setiap langkah yang kau pijak. Aku malah beruntung dengan bentuk wajahmu yang sekarang karena mungkin setelah ini tak ada seorang wanita pun yang akan mengagumimu dan mengambilmu dari sisiku" batin Nadia sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2