
"Apa kita langsung menuju ke alamat yang ada di KTP tante Dewi ini, pa? Biar kita tanya tetangga sebelah dimana tempat Budhe Ana yang dimaksud itu. Soalnya kan kita nggak tahu alamat tempat tinggal beliau" ucap Andre memberikan usulan.
Papa Reza sudah menceritakan semuanya kepada Andre tentang siapa Budhe Ana yang dimaksud itu. Andre hanya bisa geleng-geleng kepala melihat semua fakta masa lalu sang papa yang tak pernah ia tahu. Bahkan Andre masih tak percaya jika mempunyai seorang tante dan keponakan yang kini berada dalam asuhannya.
"Iya. Besok pagi kita langsung ke alamat itu, ajak Zunai saja. Mungkin tetangga sekitar akan lebih kenal sama Zunai agar kita mudah nantinya saat bertanya" ucap Papa Reza.
Andre menganggukkan kepalanya mengerti. Ia tadi memang sengaja mengikuti papanya masuk dalam kamar orangtuanya setelah meminta ijin. Setelah masuk, ia lihat papanya berdiri di balkon kamarnya sambil memandang lurus ke depan. Bahkan air matanya terus mengalir di pipi yang sudah menampakkan keriput itu. Bahkan baru kali ini Andre melihat bagaimana rapuhnya sang papa.
"Salah apa papa sama mereka, Ndre? Padahal mereka mempunyai contact dan alamat rumah ini jika sewaktu-waktu membutuhkan bantuan juga memberikan informasi tentang Dewi. Namun ternyata mereka malah memilih pindah tempat tinggal dan berhenti berkomunikasi dengan papa" ucap Papa Reza mengeluarkan segala keluh kesahnya.
"Jangan berpikir negatif dulu, pa. Siapa tahu mereka ada alasan lain, mungkin contact nomor ponsel papa hilang atau ada alasan lain. Kita harus mencari tahunya dulu" ucap Andre mencoba menenangkan papanya.
Biasanya papanya yang akan selalu menenangkannya ketika ada masalah, namun sekarang sebagai anak ia harus berusaha membuat pikiran Papa Reza tetap lurus. Tak ingin juga papanya itu kebanyakan pikiran dan malah membuatnya jatuh sakit. Apalagi mereka juga belum mendapatkan penjelasan dari saudara jauh kakeknya itu.
Walaupun sebenarnya dari penjelasan Zunai sudah terlihat jelas bahwa orang disebut dengan Budhe Ana itu adalah orang yang tak punya simpati pada kedua anak Dewi. Namun yang membuat Budhe Ana seperti ini itu lah yang perlu diselidiki lebih dalam.
"Tolong temani papa, besok. Biar nanti papa yang jelaskan pada mama dan istrimu" ucap Papa Reza.
Andre menganggukkan kepalanya kemudian keluar dari kamar orangtuanya. Ia akan menemani anak-anak untuk makan malam bersama. Sedangkan Papa Reza memilih menenangkan dirinya sebentar agar keluar kamar dengan keadaan yang lebih tenang.
__ADS_1
***
"Kak Jun, becok dicanana bental caja ya. Talo diminta wuwat inggal dicana, angan mau. Meleta tu pati unya niat mamanpatin kak Jun kalna cudah taya cekalang" ucap Alan memperingatkan.
Tadi Alan sempat mendengar ucapan papa dan bundanya membujuk Zunai untuk kembali ke kampung halaman juga menunjukkan dimana tempat tinggalnya waktu itu. Zunai menolaknya karena takut nanti akan diusir dan dikatai merepotkan orang banyak. Namun Andre dan Nadia berhasil meyakinkannya.
Kini Alan yang tengah berada di kamar Anara yang dijadikan satu dengan Zunai pun langsung memberi pesan kepadanya. Ia tak ingin keluarganya berpisah-pisah terlebih Zunai dan Ega yang baru saja dekat dengannya.
"Alan, jangan suudzon kamu itu. Kan belum tentu besok Zunai ditinggal disana. Apalagi papa dan kakek sudah sayang sama Zunai juga Ega" ucap Anara memberi pesan.
"Ukan sudzon Alan mah, api pakta. Biacana talo liat olang tudah taya itu banak olang lancung ekat-ekat. Tita halus ati-ati, angan mau di mamanpatin" ucap Alan kekeh dengan pendapatnya.
"Sudah sana bobok di kamarmu. Malam-malam begini kelayapan ke kamar orang, dimarahin bunda nanti kalau ketahuan" ucap Anara mengusir adiknya itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam yang seharusnya Alan telah tertidur bersama dengan Ega dan Arnold. Bahkan kedua saudara laki-lakinya itu sudah tertidur pulas namun Alan malah pergi menuju kamar Anara dan Zunai.
"Main ucil-ucil caja. Anti talo ndak ada Alan pada tangen we" ucap Alan dengan percaya dirinya.
Kini Alan langsung saja turun dari kasur kakaknya itu dengan posisi tengkurap. Setelah berhasil turun dari kasur, ia segera saja keluar dari kamar milik kakaknya. Anara hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah adiknya yang begitu aktif itu. Anara segera mengajak Zunai untuk tidur karena esok hari dirinya juga harus berangkat sekolah.
__ADS_1
***
Keesokan harinya semua sudah siap berada di ruang makan untuk melaksanakan sarapan. Alan dan Ega bahkan sudah disuapi makanan oleh Nadia sedangkan yang lainnya makan dengan begitu hikmatnya. Tak berapa lama, Anara dan Abel berangkat sekolah diantar dengan sopir sedangkan Papa Reza juga Andre bersiap-siap untuk pergi ke desa tempat tinggal Zunai.
"Tolong siapkan beberapa pakaian ganti ya untuk Zunai. Nanti takutnya kalau ada apa-apa disana dan terpaksa harus menginap atau yang lainnya" pesan Andre pada istrinya.
Nadia menganggukkan kepalanya kemudian meminta Arnold dan Alan membawa Ega ke ruang keluarga. Nadia segera menyiapkan semua keperluan Zunai yang akan dibawa bersama gadis kecil itu.
"Bawanya nggak usah banyak-banyak. Lagian paling lama cuma sehari disana" ucap Nadia saat mencoba memilih beberapa pakaian yang nyaman untuk Zunai.
Awalnya Zunai ingin membawa pakaian lumayan banyak karena takut jika nanti ditahan disana. Namun Nadia meyakinkan gadis kecil itu kalau Papa Reza dan Andre takkan membiarkan hal itu terjadi. Lagi pula Nadia sudah sayang dengan Zunai jadi ia juga rak rela jika gadis kecil itu dibawa jauh darinya.
"Zunai nggak perlu takut karena nanti pasti kakek dan papa akan melindungi kamu. Nggak akan membiarkan kamu tinggal disana. Kamu akan tinggal bersama dengan kami selamanya" ucap Nadia meyakinkan kemudian menggandeng tangan Zunai keluar dari kamar.
Tak lupa juga Nadia membawakan beberapa air mineral, cemilan, biskuit, permen, dan kopi untuk menemani perjalanan mereka ke sana. Dari google maps yang dilihat, butuh waktu 4 jam untuk mencapai desa itu. Akhirnya setelah melihat maps itu Papa Reza dan Andre sadar kalau Zunai dan Ega bisa sampai disini itu menggunakan apa.
"Kamu kesini naik apa? Kan jaraknya saja sudah jauh sekali" tanya Papa Reza.
"Ikut mobil angkut sayur yang ada di pasar, kek. Kita kira sampai di kota bisa bertemu dengan ayah, eh faktanya malah nyasar. Itu pun kita baru disini beberapa bulan ini saja kok" ucap Zunai dengan polosnya.
__ADS_1