Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Proses Terapi


__ADS_3

Hari ini Nadia akan menjalani terapi jalan bersama Mama Anisa, Alan, dan Arnold sedangkan yang lainnya harus bekerja dan sekolah. Awalnya Andre tidak akan berangkat bekerja, namun Nadia melarangnya. Ia tak tega pada suaminya yang nantinya harus lembur di lain hari demi menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda. Sedangkan Anara dan Abel terpaksa tidak bisa ikut serta karena ada jadwal Penilaian Tengah Semester.


"Lebih baik kamu tetap berangkat bekerja. Aku tak ingin kedepannya kamu harus lembur-lembur karena pekerjaan yang menumpuk demi menemaniku. Lagi pula ada mama, Arnold, dan Alan yang akan mendampingiku" ucap Nadia dengan lembut semalam.


"Iya, papa ndak usah ikut aja. Ada Arnold dan Alan yang akan jagain bunda. Dijamin bunda berangkat sehat, pulang selamat" ucap Arnold dengan percaya dirinya setelah mendengar pembicaraan kedua orangtuanya.


"Dih... Badan sekecil gitu udah mau jagain orang dewasa" ucap Andre terlihat meremehkan Arnold.


Arnold yang tak terima diremehkan pun langsung mencubiti badan Andre dibantu oleh Alan. Bukannya merasa kesakitan, justru Andre malah tertawa karena merasakan geli. Malam itu mereka habiskan di ruang keluarga dengan mengobrol seru dan bercanda sambil menemani kedua gadis kecil belajar.


***


Mobil yang dikendarai oleh Mama Anisa, Nadia, Arnold, dan Alan telah sampai didepan sebuah rumah sakit yang akan dijadikan tempat untuk wanita itu menjalani terapi. Dibantu oleh satpam dan beberapa petugas medis, Nadia turun kemudian diletakkan di kursi roda setelahnya langsung didorong oleh perawat. Sedangkan Mama Anisa menggendong Alan dan menggandeng Arnold.


"Alan, jalan dong. Jangan digendong terus, manja" ejek Arnold.


Alan yang merasa diejek oleh kakaknya pun langsung menjulurkan lidahnya untuk balas mengejek Arnold. Arnold yang melihat hal itu langsung saja mengacungkan kepalan tangannya keatas kearah Alan. Sedangkan Mama Anisa hanya bisa terkekeh geli mendengar ocehan cucunya.


"Alan kan belum bisa jalan, masa iya disuruh jalan sendiri" ucap Mama Anisa sambil geleng-geleng kepala menanggapi ucapan cucunya.


"Kalau gitu Alan disuruh ikut terapi jalan aja kaya bunda" ucap Arnold asal.

__ADS_1


Mama Anisa tak mau lagi menanggapi ucapan Arnold yang kelewat cerdas itu karena pasti akan menjalar kemana-mana. Sedangkan Arnold yang tak ditanggapi oleh neneknya pun hanya bisa menggerutu sepanjang jalan dengan Alan yang terus menatap julid kearah kakaknya. Sedangkan Nadia dan perawat yang mendengar obrolan itu tentunya hanya bisa tertawa pelan terlebih melihat wajah Mama Anisa yang sudah frustasi.


Tak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga didepan ruang terapi jalan yang akan digunakan oleh Nadia. Semuanya masuk dengan disana sudah ada seorang dokter yang akan mendampingi proses terap istri pengusaha ini. Hal ini Andre sendiri yang menginginkan pasalnya ia ingin semua perkembangan istrinya harus didampingi oleh seorang dokter.


"Mari nyonya, kami bantu untuk pemanasan awal dulu sebelum nanti kita belajar untuk berdiri" ucap salah satu petugas.


Nadia menjawab dengan anggukan kepala sedangkan Mama Anisa, Alan, dan Arnold melihat secara detail prosesnya. Petugas medis segera saja memapah Nadia kemudian didudukkan dalam sebuah kursi khusus untuk membantu dokter dan yang lainnya melakukan pemanasan pada kaki pasien. Setelah dirasa sudah siap, Nadia dipapah oleh seorang petugas medis untuk didekatkan pada sebuah alat bantu jalan.


Nadia memegang sebuah pagar besi yang digunakan untuk menahan tubuhnya. Nadia mencoba berdiri lebih lama disana dengan memegang erat pagar besi itu walaupun ia merasa bahwa kakinya terasa sangat sakit. Berulangkali Nadia menundukkan kepalanya karena menahan rasa sakit yang teramat.


"Bunda, duduk aja kalau nggak kuat" seru Arnold yang merasa kasihan melihat bundanya terlihat kesakitan.


Nadia menegakkan kepalanya kemudian menyunggingkan senyum manisnya kearah Arnold agar anaknya itu tak merasa khawatir dengannya. Nadia mencoba menggerakkan kakinya perlahan sesuai instruksi namun ia hanya bisa menggelengkan kepala karena tak kuat.


Sontak saja Nadia tertawa mendengar seruan anaknya dan langsung lupa dengan rasa sakitnya. Mana bisa dia disuruh balapan dengan Alan yang belum bisa jalan karena memang pertumbuhan dan perkembangannya yang berbeda. Sedangkan dirinya tak bisa berjalan karena memang keadaan. Alan juga langsung memberkan tepuk tangan hebohnya demi menyemangati bundanya.


Nadia terus mencoba belajar berjalan dengan ditemani seruan dari Arnold yang membangkitkan semangatnya. Bahkan rasa sakit sama sekali tak ia rasakan demi melihat anak-anaknya bahagia karena bisa berjalan normal. Setelah kurang lebih dua jam melakukan terapi, akhirnya semuanya selesai.


"Terapi kedua minggu depan, nyonya" ucap dokter itu memberitahu.


"Terimakasih dok" ucap Nadia dengan tersenyum tipis.

__ADS_1


Setelah berpamitan, mereka semua akhirnya keluar dari ruang terapi. Mereka segera berjalan menuju keluar rumah sakit untuk pulang dengan Nadia yang didorong oleh salah satu petugas medis. Sesampainya diluar, mereka segera masuk kedalam mobil. Mama Anisa segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Kita jemput Anara dan Abel yuk" ajak Mama Anisa memberi ide.


"Ah... Iya, Nadia juga ingin melihat bagaimana sekolah mereka" jawab Nadia dengan antusias.


Sedangkan Arnold dan Alan hanya menganggukkan kepalanya setuju. Nadia segera menghubungi sopir keluarganya untuk tak menjemput kedua anaknya itu. Tak berapa lama, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Mama Anisa sampai juga didepan sebuah sekolah dasar bertaraf Internasional.


Terlihat sekali jika bangunan sekolahnya sangatlah mewah bahkan fasilitas yang tersedia juga lengkap. Sekolah ini lebih mengunggulkan bakat daripada nilai akademik sehingga banyak pengusaha dan artis menyekolahkan anaknya di sekolah ini.


"Wah... Sekolah kakak besar sekali" ucap Arnold takjub.


"Besok kalau Arnold udah sekolah, disini saja ya bunda" lanjutnya.


Nadia menganggukkan kepalanya setuju. Dia akan berusaha mewujudkan apapun keinginan anaknya asalkan bisa bertanggungjawab dengan pilihannya. Terlebih Nadia juga ingin yang terbaik untuk anaknya terutama pendidikannya. Setelah berbncang cukup lama, mereka mulai mencari keberadaan Anara dan Abel yang sama sekali belum keluar padahal bel pulang sudah berbunyi sejak 10 menit yang lalu.


"Itu kakak" seru Arnold sambil menunjuk kearah lantai dua.


Mereka menunggu didalam mobil pada tempat khusus tunggu bagi yang menjemput murid yang bersekolah disana. Walaupun menunggu didalam mobil, mereka tetap bisa dengan leluasa melihat kearah dalam sekolah. Semuanya mengalihkan pandangan kearah lantai dua dan terlihatlah Anara dan Abel tengah berdiri berhadapan dengan empat siswi perempuan.


Namun menurut Nadia ada yang aneh, mereka tak terlihat seperti sedang berbincang pasalnya empat siswi perempuan itu sedang menunjukkan tangan kearah Anara dan Abel. Bahkan bisa dilihat kalau empat siswi itu tengah marah-marah dari raut wajahnya. Seketika saja Nadia dan Mama Anisa langsung khawatir dengan apa yang terjadi oleh kedua gadis kecil itu.

__ADS_1


********************


Authornya lagi flu guys, maaf kalau cuma update 1 bab dulu hehe


__ADS_2