
Aneta datang ke rumah Andre pagi-pagi sekali bahkan ketiga anaknya yang tinggal bersama mantan suaminya itu pun belum bangun. Dan ini merupakan suatu keberuntungan bagi Andre karena anak-anaknya takkan melihat pertengkaran kedua orangtuanya. Terlebih Abel yang masih mengalami trauma dan ketakutan ketika melihat mamanya. Andre ditemani kedua orangtuanya duduk memandang Aneta yang wajah dan sikapnya tampak berbeda.
Biasanya perempuan itu selalu mengangkat dagunya tinggi-tinggi ketika berhadapan dengan banyak orang, namun kini Aneta selalu menundukkan kepalanya. Bahkan wajahnya yang biasanya berbinar cerah dengan riasan make up tebalnya kini tampak pucat tanpa adanya riasan. Terdapat kantung mata yang menghitam dibawah matanya membuatnya seperti orang yang kurang tidur.
Mereka bertanya-tanya mengenai kehadiran Aneta di rumah Andre pagi itu karena hampir 3 tahun setelah perceraian itu terjadi, wanita itu sama sekali tidak pernah menginjakkan kakinya disini.
"Ada urusan apa sampai kamu datang ke rumah kami?" tanya Andre dengan nada datarnya.
"Hmm... Aku ingin kau mencabut laporan atas kasus kekerasan yang terjadi pada Abel" ucap Aneta dengan gugup.
Mama Anisa tertawa sinis saat Aneta mengatakan hal itu, benar dugaannya kalau wanita itu datang ke rumahnya karena ada maksud tertentu. Dia takkan pernah membiarkan Andre mencabut laporan itu. Biar saja Aneta dan keluarga suami barunya itu mendekam di penjara seumur hidup.
"Aku mohon, Ndre. Tolong cabut laporan itu" mohon Aneta.
Tak ada respon sama sekali dari Andre membuat Aneta berlutut dihadapan laki-laki itu seraya memohon agar laporan ke pihak polisi dicabut. Mau berusaha bagaimanapun mereka melawan Andre, sudah dapat dipastikan kalau Aneta dan keluarganya akan dinyatakan bersalah engan bukti-bukti yang ada. Jadi sebisa mungkin mereka melakukan suatu cara agar Andre mencabut laporannya sebelum jadwal pemeriksaan itu terjadi.
"Aku tidak akan mencabut laporan itu" putus Andre kemudian menendang tubuh Aneta hingga terjungkal ke belakang.
"Rasain" gumam Mama Anisa tersenyum penuh kemenangan.
Aneta meringis kesakitan karena bagian belakang kepalanya terkantuk pinggiran meja. Ia mengepalkan kedua tangannya, menahan rasa emosi yang ingin meledak didalam dadanya. Ia segera memutar otaknya demi mendapatkan cara untuk meluluhkan hati Andre walaupun harus merendahkan dirinya.
__ADS_1
"Aku akan melakukan apa saja agar kamu bisa mencabut laporan itu, Ndre. Apapun" ucap Aneta.
Aneta benar-benar merendahkan dirinya demi mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia kini terlihat sangat frustasi dan bingung bagaimana caranya untuk meluluhkan hati Andre dan keluarganya.
"Yakin? Apapun?" tanya Andre.
Aneta menganggukkan kepalanya dengan cepat, sedangkan Mama Anisa sudah memelototi Andre. Ia takut kalau sampai Andre luluh oleh wajah memelas Aneta.
"Pergi dari sini, jangan menampakkan wajahmu didepanku dan keluargaku karena sampai kapanpun saya takkan pernah mencabut laporan itu" ucap Andre dengan tegas.
Aneta yang tadinya mempunyai harapan lebih pada akhirnya menunduk lesu. Namun tiba-tiba dia berdiri dan menatap kearah Andre. Aneta langsung saja duduk di pangkuan Andre kemudian mengelus dada bidang dan rahang tegas laki-laki itu. Hal itu membuat Mama Anisa dan Papa Reza membelalakkan matanya kaget. Mereka tak menyangka kalau Aneta akan melakukan hal serendah ini. Saat adegan tak terduga itu terjadi, tiba-tiba saja...
"Papa.." seru gadis kecil yang baru saja turun dari lantai 2.
Andre sedikit melirik kearah Nadia yang tengah menggendong Arnold. Tampak sekali dari wajahnya kalau dia tak mau melihat kearah Andre. Andre tengah berpikir apa kesalahannya sehingga kekasihnya ini sedari tadi bersikap cuek padanya. Dengan mengangkat bahunya acuh, Andre kemudian memeluk Anara dan Abel dengan eratnya.
Abel sedari tadi melirik kearah ruang tamu dan mengernyitkan dahinya heran saat merasa kalau tamu yang datang itu seperti mirip seseorang yang dikenalnya. Aneta mengarahkan pandangannya kearah Andre dan Nadia yang sedang bersama ketiga anaknya. Ketika Aneta melihat kearahnya, sontak saja Abel ketakutan dan memeluk Andre dengan eratnya.
"Ada orang jahat... Pergi... Ayo Anara, Arnold kita pergi. Ada orang jahat disini" teriak Abel di pelukan Andre.
Andre segera menggendong Abel yang masih memberontak kemudian memberi kode kepada Nadia untuk mengikutinya. Nadia pun masuk kedalam ruang makan membawa Arnold dan Anara, sedangkan Abel masih berteriak histeris di gendongan Andre.
__ADS_1
"Jahat... Ayo pergi, jangan dekat-dekat dia" seru Abel dengan terus menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Enggak, dia nggak akan ngapa-ngapain Abel selama Abel ada bersama papa" bisik Andre sambil mengelus punggung anaknya.
Andre mencoba terus menenangkan Abel di ruang makan, sedangkan Nadia memeluk Anara dan Arnold yang tampak ketakutan saat melihat saudaranya kembali histeris.
***
Sedangkan di ruang tamu...
Mama Anisa mendekat kearah Aneta setelah melihat Abel dibawa pergi oleh Andre. Dia segera menarik kerah baju Aneta bagian belakang kemudian menggeretnya dengan kasar keluar dari rumahnya. Walaupun harus bersusah payah karena Aneta memberontak namun dengan kekuatan penuhnya mampu membawa wanita itu sampai di pintu rumah. Aneta memberontak karena merasa sesak nafas akibat kerahnya tertarik ke belakang. Mama Anisa menarik tubuh Aneta seperti tak punya perasaan karena dia sudah sangat kesal dengan tingkah laku mantan menantunya itu.
Mama Anisa yakin kalau Abel kembali ketakutan akibat melihat Aneta dan Nadia salah paham kepada Andre gara-gara wanita itu duduk dipangkuan anaknya.
"Pergi dari kehidupan keluargaku, pengganggu" ucap Mama Anisa setelah sampai didepan pintu rumah.
Brakkk...
Mama Anisa menutup pintu rumahnya dengan kasar membuat Aneta yang masih terduduk dibawah berjengit kaget. Aneta mengambil nafasnya dalam-dalam setelah Mama Anisa melepaskan tarikannya pada kerah bajunya.
"Lihat saja akan ku balas perlakuan kalian terhadapku hari ini. Aku tak terima direndahkan seperti ini. Kalau saja aku tak disuruh Lian dan mama seperti ini, aku juga takkan mau" gumam Aneta sambil mengepalkan kedua tangannya dengan menatap pintu rumah yang telah tertutup.
__ADS_1
Aneta ke rumah ini memang atas ide dari suami dan mertuanya yang meminta dia untuk merayu Andre dan keluarganya agar mencabut laporan itu. Lian dan mertuanya tak mungkin menemui Andre dan keluarganya karena sudah dipastikan kalau mereka akan langsung diusir.
Akhirnya Aneta segera saja berdiri kemudian berjalan tertatih menuju mobilnya sambil membenahi pakaiannya yang sudah sangat kusut. Ia masuk kedalam mobilnya dengan keadaan emosi kemudian menyalakan mobilnya dan mengegasnya dengan kecepatan tinggi keluar dari halaman rumah Andre. Untung saja pintu gerbang rumah Andre sudah terbuka lebar.