Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Andre


__ADS_3

Satu bulan berlalu semenjak Andre meninggalkan negara kelahirannya untuk menjalankan operasi bedah plastik di luar negeri. Awalnya berat meninggalkan ketiga anaknya yang selama ini dalam pengasuhannya terutama Abel yang baru sebentar saja bersama dengannya. Namun ini harus dilakukannya agar bisa beraktifitas dengan normal.


Ia juga harus menahan rindu dengan kekasih dan ketiga anaknya itu, pasalnya selama satu bulan disini jarang sekali berkomunikasi. Perbedaan waktulah yang membuat dia harus menahan rasa ingin bertemu dengan empat orang yang sangat ia sayangi itu.


Awal saat dirinya tiba disini, ia segera saja melakukan banyak pemeriksaan untuk persiapan dalam melakukan operasi bedah plastik. Ternyata banyak sekali tahapan yang harus ia lakukan karena ada beberapa kali operasi yang akan dijalankan. Kondisi kaki Andre pun sudah membaik dan bisa dikatakan sembuh sehingga bisa berjalan normal seperti biasanya. Walaupun kadang Andre masih merasakan ngilu jika berjalan terlalu lama.


Setelah satu bulan berlalu, semua tahapan operasi yang dilakukan oleh Andre selesai juga dan hari ini adalah jadwal pembukaan perban. Andre begitu gugup dan takut jika hasil yang ia usahakan selama ini tak seperti apa yang diharapkannya. Mama Anisa yang selalu ada disampingnya selama satu bulan ini pun tak kalah gugupnya, namun ia berhasil menyembunyikannya karena tak ingin Andre kepikiran.


"Kita sudah melakukan yang terbaik selama ini. Cukup sekarang berdo'a saja semoga hasil yang kita usahakan berhasil sesuai dengan apa yang kita harapkan" ucap Mama Anisa dengan mengelus punggung tangan Andre.


Andre menganggukkan kepalanya sembari memegang erat telapak tangan mamanya. Keduanya sama-sama terdiam sampai seorang dokter dan perawat masuk kedalam ruangan itu. Dokter itu dibantu perawat segera saja membuka perban yang melilit di wajah Andre. Mama Anisa segera menjauh dari brankar tempat tidur Andre untuk memberikan ruang bagi dokter dan perawat.


Saat perban yang ada di wajah Andre dibuka, Mama Anisa selalu saja menundukkan kepalanya. Ia tak berani melihat bentuk perubahan wajah anaknya itu. Setelah beberapa menit, akhirnya dokter dan perawat itu selesai membuka perban yang ada di wajah Andre.


Perawat menyodorkan sebuah kaca didepan wajah Andre. Dengan ragu-ragu, Andre menatap wajahnya yang berada di cermin. Matanya membulat dan kedua tangannya segera meraba kearah wajahnya itu. Ia menatap tak percaya dengan perubahan yang terjadi pada wajahnya itu.


"Mama, ini nggak mimpi kan? Mama..." seru Andre dengan suara bergetarnya terus memanggil Mama Anisa yang masih menundukkan kepalanya.


Mendengar seruan Andre, segera saja Mama Anisa menegakkan kepalanya kemudian menatap kearah anaknya itu. Alangkah terkejutnya Mama Anisa saat melihat wajah Andre. Dia segera mendekat kearah anaknya itu kemudian meraba wajah Andre.


"Astaga... Wajah kamu kenapa tambah ganteng begini? Ya Allah... Wajah anakku yang burik jadi kinclong begini. Kalau begini hasilnya, mama juga mau dong di operasi plastik" seru Mama Anisa dengan antusiasnya.

__ADS_1


Andre yang mendengar ucapan mamanya yang mengatakan bahwa dirinya burik pun dibuat kesal bukan main. Tadinya dia sedang melongo tak percaya dengan perubahan wajahnya, namun seketika saja semuanya buyar karena ucapan mamanya.


"Mama..." kesal Andre.


"Ya maaf, habisnya kamu tambah ganteng. Padahal sebelumnya burik lho, Ndre" ucap Mama Anisa tanpa rasa bersalah.


Andre hanya mendengus kesal dan tak menanggapi ocehan mamanya. Kini dirinya sudah percaya bahwa yang berada didalam cermin itu adalah wajah dia yang baru. Ia sangat bersyukur karena operasi yang dijalankannya ternyata berhasil.


Dokter dan perawat itu segera saja pamit sesudah selesai membereskan peralatannya. Bahkan dokter juga bilang kalau Andre sudah bisa pulang 3 hari lagi untuk melihat efek samping dari operasi ini. Jika tidak ada efek samping yang berarti tentunya Andre akan bisa langsung pulang ke negaranya.


"Ma, nggak usah bilang papa dan yang lainnya kalau kita akan segera pulang. Biar ini jadi kejutan untuk mereka" ucap Andre memberikan ide.


"Iya, ma. Tapi ada untungnya juga nggak komunikasi sama mereka. Mereka nggak tahu kalau Andre udah sembuh dan kita bisa lancar buat kejutan untuk semuanya" ucap Andre dengan tersenyum.


Mama Anisa hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Keduanya segera saja menyusun rencana untuk pembelian tiket agar tak diketahui oleh Papa Reza.


***


Tiga hari berlalu, Andre sudah diperbolehkan pulang ke negara kelahirannya. Sebelum pulang, Andre dan Mama Anisa akan membeli beberapa oleh-oleh untuk dibagikan pada keluarga serta para tetangga. Mama Anisa lah yang paling semangat untuk urusan belanja seperti ini.


"Ndre, beli ini dan itu saja ya. Wah ini juga cocok dipakai sama si gembul, pasti kelihatan kaya boneka panda deh ntar" ucap Mama Anisa dengan antusiasnya memilih baju di sebuah toko pakaian.

__ADS_1


"Terserah mama saja" ucap Andre dengan pasrah.


Sudah 2 jam mereka berkeliling untuk membeli oleh-oleh, namun Mama Anisa masih belum ada tanda-tanda untuk menyudahi kegiatannya. Andre sudah sangat lelah berjalan, apalagi kedua tangannya sudah penuh dengan tas belanja dan paper bag. Dirinya sudah bagaikan tempat penitipan barang bagi Mama Anisa.


"Ma, udahan yuk. Ini udah banyak lho, kaya mama kenal saja dengan tetangga kita" ucap Andre setelah dia dan mamanya keluar dari toko pakaian.


"Satu lagi, Ndre. Masih kurang, kita belum beli makanan atau kue khas negara ini lho" ucap Mama Anisa.


Andre pun dengan pasrah berjalan mengikuti mamanya dari belakang. Mereka berjalan hingga sampailah ke sebuah ruko-ruko yang menjual makanan khas negara itu. Tak butuh waktu lama, Mama Anisa segera memborong banyak sekali makanan yang ada. Bahkan ketika di packing, ada 3 tas belanja besar hanya untuk oleh-oleh makanan saja.


Andre hanya bisa geleng-geleng kepala melihat itu. Akhirnya mereka lebih memilih menyewa beberapa orang untuk mengangkut barang belanjaan Mama Anisa. Tak mungkin juga Andre yang membawa semuanya, terlebih laki-laki itu baru saja sembuh.


"Udah ya, ma. Kaki Andre udah ngilu nih" keluh Andre sambil menahan rasa sakitnya.


"Astaga... Maafkan mama ya, Ndre. Mama terlalu antusias berbelanja oleh-oleh jadi lupa kalau kamu baru saja sembuh" ucap Mama Anisa dengan tatapan bersalahnya.


Andre hanya menganggukkan kepalanya kemudian menggandeng mamanya untuk segera pulang ke hunian mereka. Setelah sampai dihunian selama ini mereka tinggal, keduanya segera membereskan beberapa barang yang akan mereka bawa pulang. Untuk urusan tiket, sudah dipersiapkan Andre tanpa ada yang bisa mengetahui tentang kedatangan keduanya.


********************


Authornya lagi ulang tahun lho, ada yang mau ngucapin nggak? 😊😊

__ADS_1


__ADS_2