Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Pukulan


__ADS_3

Fikri, Arnold, dan Alan berteriak panik saat melihat dua orang pasangan orangtua itu hendak memukul Nadia. Bahkan ketiganya langsung menutup mata karena takut jika apa yang mereka lihat sangat menyakitkan. Terutama saat melihat tangan dari kedua orangtua Fikri sudah mengepal keatas bahkan siap dipukulkan kearah wajah Nadia.


Arrghhhhh...


"Sialan kau wanita bar-bar" teriak Mama Fikri sambil meringis kesakiran.


Sontak saja Fikri, Alan, dan Arnold membuka matanya. Mereka terkejut karena ternyata apa yang ada dipikiran ketiganya tak terjadi sama sekali. Justru malah kini mereka diperlihatkan oleh rupa-rupa kesakitan di wajah orangtua Fikri.


Kedua orangtua Fikri bahkan kini tengah menunduk dengan memegang kakinya masing-masing sambil meringis kesakitan. Ternyata saat tadi kedua orangtua Fikri hendak memukul Nadia, wanita empat anak itu dengan refleks menendang kedua kaki pasangan itu secara bergantian. Gerakan Nadia yang begitu cepat membuat kedua orangtua Fikri tak bisa mengelak atau menghindar.


"Wow... Bunda memang hebat" seru Arnold menyadarkan Fikri dan Alan dari keterkejutannya.


Prok... Prok... Prok...


Bahkan Fikri dan Alan langsung bertepuk tangan dengan semangat karena bisa menendang dua orang sekaligus. Mereka begitu bangga punya sosok wanita yang mampu melindungi diri dan menjaga anak-anaknya. Nadia yang dipuji seperti itu langsung membusungkan dadanya kemudian menepuknya dengan tangan sambil menampilkan wajah tengilnya.


"Jelas dong hebat... Bunda siapa dulu?" seru Nadia sambil bertanya.


"Bundanya kita semua" teriak Fikri, Alan, dan Arnold secara bersamaan.


Mereka bertiga tertawa karena bisa mengucapkan kalimat yang kompak tanpa harus berjanjian lebih dulu sebelumnya. Nadia juga begitu bahagia jika ketiga anak kecil itu bisa tersenyum seperti ini tanpa memikirkan masalah orang dewasa yang tak ada habisnya. Sedangkan kedua orangtua Fikri sudah menatap tajam kearah anaknya yang sama sekali tak membela mereka.

__ADS_1


"Fikri, kenapa kau tak membela kami? Harusnya kau menanyakan kesakitan orangtuamu dan memarahi dia" ketus Mama Fikri.


"Fikri saja yang semalam sedang kesakitan didiamkan saja bahkan ditinggal adu debat sama kalian. Jadi buat apa sekarang Fikri menanyakan bagaimana tentang kesakitan kalian? Untung ada Om Andre yang kembali dan menolongku" ucap Fikri menatap kedua orangtuanya dengan tatapan kecewa.


Hatinya kecewa dengan perlakuan orangtuanya yang sama sekali tak mempedulikannya. Padahal semalam ia sudah meminta tolong dengan suara lirih kepada kedua orangtuanya namun mereka malah sibuk bertengkar. Hal ini lah yang membuat Fikri kini bisa menyimpulkan bahwa kedua orangtuanya tak menyayanginya.


Fikri semalam terlalu antusias saat mendengar suara mobil kedua orangtuanya. Tak biasanya kedua orangtuanya itu pulang di saat ia belum tidur. Biasanya mereka selalu pulang larut bahkan terkadang tak kembali ke rumah kalau sudah begitu malam. Saking antusiasnya, Fikri yang baru saja naik keatas tangga langsung turun dengan berlari.


Naasnya... Kakinya seperti tersandung tangga sehingga ia terjatuh bergulingan tepat saat kedua orangtuanya membuka pintu rumah. Namun bukannya segera menolong, mereka malah saling menyalahkan dan bertengkar didepan Fikri yang tergeletak di lantai.


"Wohhhh... Alian ahat cama kak Ikli" ucap Alan sambil geleng-geleng kepala.


"Kalian itu orangtuanya tapi membiarkan anaknya kesakitan. Saya saja kalau anak saya sakit malah meminta sama Tuhan agar dipindahkan sakitnya ke tubuh saya. Ini kok kalian begitu tega" ucap Nadia dengan melihat Fikri dengan tatapan ibanya.


Kedua orangtua Fikri memelototkan matanya tak terima dengan saran yang diberikan oleh Arnold. Ternyata mereka baru sadar kalau orang-orang disana yang membela Fikri adalah manusia bermulut pedas. Apalagi kecerdasan yang ditampilkan dua anak kecil yang seakan sudah tahu tentang masalah hukum.


"Lebih baik papa dan mama pergi saja dari sini. Lagi pula sudah ada tante Nadia yang akan menjaga Fikri. Bukankah pekerjaan kalian lebih penting? Nanti kalian akan kehilangan uang ratusan juta lho jika menghabiskan waktu denganku" ucap Fikri sendu.


Kalimat yang selalu diucapkan oleh kedua orangtuanya begitu membekas dalam hati dan ingatan Fikri. Ketika diajak Fikri bermain alasannya selalu saja jika pekerjaan mereka lebih penting bahkan keduanya akan kehilangan ratusan juta jika menemani bocah laki-laki itu main. Semenjak itu Fikri sama sekali tak menuntut kedua orangtuanya bermain dengannya.


"Baru juga ratusan juta hilang, papaku kehilangan milyaran rupiah biasa aja. Bahkan dia masih sempat menemani kami main dan menunggu di rumah sakit saat Arnold sedang tak sehat" ucap Arnold membandingkan.

__ADS_1


"Kalna kelualga dalah cegalana" seru Alan menimpali ucapan kakaknya.


Nadia begitu terkejut dengan ucapan Arnold begitu pula Andre yang baru saja keluar dari kamar mandi. Andre tak menyangka jika Arnold membandingkan dirinya dengan orangtua Fikri. Orangtua Fikri juga tak percaya pada ucapan Arnold terutama tentang Andre yang kehilangan uang milyaran rupiah namun ditanggapi santai.


"Memang benar, keluarga adalah segalanya. Bahkan uang milyaran yang keluar atau hilang itu tak penting daripada kehilangan keluarga. Percuma kita punya uang banyak jika suatu saat akan habis tapi cinta dan kasih sayang antar keluarga takkan pernah hilang bahkan saat kita jatuh miskin" ucap Andre tiba-tiba.


Kedua orangtua Fikri terdiam mencerna ucapan dari orang-orang yang ada disana. Walaupun terkesan pedas dan kasar, namun ucapan mereka itu ada benarnya. Bahkan mereka yang dewasa saja jarang punya pemikiran sedewasa anak-anak kecil itu.


Entah karena malu atau apa, namun kedua orangtua Fikri langsung buru-buru keluar dari ruang rawat anaknya tanpa berpamitan. Fikri yang melihat itu tentunya sedih karena orangtuanya masih tak sadar juga dengan perbuatannya yang menyakiti dirinya. Nadia mengelus pipi Fikri dengan lembut sambul menyunggingkan senyum manisnya agar bocah laki-laki itu biaa merasakan bahwa disini banyak orang yang menyayanginya.


"Jangan takut... Kamu disini akan menemanimu dengan segala rasa sayang untukmu. Kalau orangtuamu tak menerimamu lagi, kamu dengan senang hati akan merawatmu" ucap Nadia menenangkan.


Fikri memandang mata Nadia yang memancarkan ketulusan membuatnya merasa nyaman dan aman. Sedangkan Alan dan Arnold kini sudah duduk di atas brankar milik Fikri kemudian memeluk bocah laki-laki itu secara bersamaan.


"Terimakasih" ucap Fikri dengan mata berkaca-kaca.


Fikri pun tertawa bahagia karena Alan dan Arnold sedari tadi memeluknya hingga menggelitikinya. Tawa renyah itu tentu menular ke semua orang yang ada disana. Nadia berdiri kemudian mendekat kearah sang suami yang langsung merengkuh pinggangnya.


"Terimakasih sudah mendidik anak-anak menjadi orang yang bersimpati antar sesama. Bahkan kepeduliannya pada oranglain begitu membanggakan" ucap Andre berbisik.


"Ini juga adanya peran kamu" ucap Nadia sedikit tak terima jika semua ini karena dirinya saja.

__ADS_1


"Iya sayang" ucap Andre sambil menjawil hidung mungil istrinya membuat Nadia sedikit malu-malu.


__ADS_2