
Alan dan Fikri mengalihkan pandangannya kearah seseorang yang sepertinya berbicara pada mereka. Keduanya menatap kearah pelayan dengan pakaian rapinya khas seorang SPG itu dengan tatapan aneh. Mereka hanya melihat dan ingin memastikan apakah barangnya cocok atau tidak namun suara seperti merendahkan ternyata didapat.
"Ada apa ya, mbak?" tanya Fikri dengan sopan.
"Ngapain kalian disini? Itu tas mahal lho, nanti tasnya kena air liur adiknya yang masih pakai popok itu kan jadi rusak" tegur pelayan itu.
Memang benar jika didekat bibir Alan itu ada air liur karena tadi setelah makan dan minum. Hal ini menurut mereka wajar lagi pula usia Alan masih dibwah 2 tahun. Akhirnya Fikri mengambil tisue yang ada di saku celananya kemudian mengelap pipi dan area sekitar bibir Alan. Setelah dipastikan bersih dan kering, Alan ingin segera melihatnya karena menurutnya tas itu sangat menarik perhatiannya.
"Eitss... Jangan pegang-pegang" sentaknya.
Fikri memejamkan matanya karena lagi-lagi harus mendapatkan bentakan dari pelayan itu. Sedangkan Alan bingung karena melihat Fikri yang terdiam sambil mengepalkan kedua tangannya. Padahal niat Alan akan membeli tas itu dan wajahnya sudah bersih juga namun tetap juga tak boleh memegangnya.
"Napa cih? Alan tu au eli tas ni akana cebelum eli halus di tek ulu" seru Alan tak terima karena sedari tadi ditahan-tahan terus.
Pelayan itu menatap Alan dengan tatapan menilai. Ia menelisik penampilan Alan juga Fikri dari atas ke bawah secara bergantian. Memang mereka tak menggunakan pakaian branded seperti anak pengusaha lain karena bagi keluarganya adalah yang penting nyaman.
Hal ini tentu membuat Fikri marah karena ia merasa direndahkan oleh pelayan didepannya ini. Apalagi tingkah pelayan itu yang memundurkan langkahnya karena Alan yang sepertinya berbicara dengan mengeluarkan air liur. Alan menatap sinis kearah pelayan itu dan beruntungnya disana sedang posisi tak ramai pengunjung.
__ADS_1
"Jangan mimpi, dek. Mending uangnya buat beli popok aja daripada beli tas" ledek pelayan itu.
Alan kesal karena merasa diledek oleh pelayan itu karena masih menggunakan popok. Padahal pakai dan beli popok juga bukan urusan pelayan itu namun tak menyangka jika akan menjadi ledekan orang yang tak dikenalnya. Alan mengedarkan pandangannya kearah seluruh toko ini namun ia tak melihat neneknya dan yang lain. Toko ini memang luas jadi walaupun mereka berada dalam satu ruangan bisa saja tak melihat adanya seseorang yang dikenal jika berpisah.
"Jangan meledek adik saya. Kami kesini bersama orangtua dan saudara juga berniat untuk membeli beberapa tas. Namun ternyata pelayanan disini tak baik. Ayo kita cari nenek dan bunda, biar nggak usah jadi aja beli disini" ajak Fikri kemudian menarik tangan Alan.
Alan yang ditarik pun langsung mengikuti kakaknya namun sebelum pergi ia melayangkan tatapan sinisnya kearah pelayan itu. Pelayan itu acuh tak acuh dengan respons Fikri dan Alan karena berpikir bahwa mereka hanya lah anak-anak yang tersesat hingga masuk kesini. Pelayan itu bahkan langsung memeriksa tas yang tadi mau dipegang oleh Alan agar memastikan kalau benda itu tak rusak.
***
"Nek, ndak ucah adi eli tas dicini. Yo ulang" teriak Alan dengan wajah kesalnya.
"Lho... Tadi katanya mau beli tas, mana tasnya? Biar sekalian nenek bayar" ucap Mama Anisa heran.
"Ndak adi. Tu uga ndak ucah adi eli dicini, olang-olangnya ahat. Au egang dan ihat aja ndak oleh huaaaaa" seru Alan yang akhirnya menangis histeris.
Alan sudah memendam kekesalannya sejak tadi sehingga saat semua orang menanyakan tentang kejadian itu membuatnya langsung menangis. Hal ini membuat Mama Anisa, Nenek Hulim, dan Nadia panik. Nadia pun langsung menggendong Alan yang masih terus menangis walaupun sudah ditenangkan oleh bundanya.
__ADS_1
"Fikri, apa yang terjadi dengan Alan?" tanya Nenek Hulim dengan penasaran.
"Tadi Alan ingin memeriksa tas yang ingin dibelinya. Belum sempat memeriksanya eh sama pelayan langsung ditegur nggak boleh memegangnya. Alasannya takut kalau nanti tasnya rusak karena kena air liur yang menetes di bibir Alan. Fikri udah bersihin pakai tisue tapi tetap nggak boleh megang karena takut nggak bisa bayar. Suruh beli popok aja daripada tas" ucap Fikri dengan mata berkaca-kaca.
Sebenarnya ia ingin sekali membela Alan agar tak terus dimaki oleh pelayan itu, namun ia melihat jika kaki wanita itu sudah bersiap akan menendangnya. Itu seperti sebuah perintah agar dia tak melakukan sesuatu atau melawan akhirnya Fikri memilih diam kemudian mengajak Alan pergi. Ia tak mau jika nanti ketika melawan malah akan membuat Alan terluka.
Semua yang mendengarnya tentu melebarkan matanya. Bahkan pelayan lain yang ada di toko itu juga terkejut dengan pernyataan dari Fikri. Bahkan disana ada pemilik tokonya juga yang langsung ketar-ketir pasalnya Nenek Hulim dan Mama Anisa ini adalah pelanggan setianya. Kalau sampai toko bermasalah dengan kedua orang disitu tentunya akan berdampak pada reputasi tempat.
"Mungkin ini salah paham saja. Biar saya panggilkan pelayan yang tadi akan melayani mereka untuk menjelaskannya" ucap pemilik toko itu menyela dengan nada panik.
"Adik dan kakak saya tak mungkin berbohong. Ini bukan kesalahpahaman sepertinya tapi memang pelayanan disini kurang baik. Bisa kok kita cek CCTV di toko ini untuk membuktikannya karena mulut manusia bisa saja berbohong" ucap Arnold dengan tegas.
Mama Anisa kesal cucunya diperlakukan seperti ini hanya karena takut jika air liurnya menetes. Nadia sudah membawa Alan keluar dari toko begitu pun dengan Fikri dan Nilam. Arnold ingin ikut Nenek Hulim dan Mama Anisa dalam menyelesaikan masalah ini.
"Jangan sok tahu" sentak pemilik toko itu tiba-tiba.
Tentu saja hal ini membuat mereka terkejut dengan sentakan bernada tinggi itu. Bahkan pemilik toko itu langsung menutup mulutnya, sepertinya ia kelepasan melakukan ini karena merasa terpojokkan. Mama Anisa dan Nenek Hulim menatap tajam kearah pemilik toko itu bahkan keduanya langsung berkacak pinggang.
__ADS_1
"Arnold, kamu keluar dulu dari toko. Biar ini menjadi urusan nenek" ucap Mama Anisa.
Namun Arnold menggelengkan kepalanya. Dengan kejadian ini ia ingin bisa menyembuhkan traumanya dengan tak takut akan bentakan atau yang berhubungan dengan kekerasan. Demi bisa membela saudara dan keluarganya. ia harus berani melawan rasa trauma dan takutnya.