
Andre kini tengah berada di ruangannya. Ia telah menyeleksi beberapa kandidat karyawan terpilih yang akan menempati jabatan penting di perusahaannya. Ia sudah menemukan orang-orang yang akan menjadi karyawannya itu mulai hari ini. Salah satu orang terpilih itu adalah Alice yang akan mengisi bagian staff keuangan karena sesuai dengan jurusan kuliah gadis itu. Bukan hanya syarat jurusan kuliah saja, namun dari pengalaman kerja juga surat rekomendasi dari perusahaan lain membuatnya menjadi salah satu yang terpilih.
Andre juga masih membatasi diri berinteraksi dengan Alice sesuai dengan peringatan dari istrinya malam itu. Ia hanya tak ingin ada salah paham antara dia dan istrinya yang nantinya akan menjadi boomerang bagi rumah tangganya. Lagi pula di perusahaan, dia takkan berinteraksi terlalu banyak karena hanya kepala keuangan yang selalu mengahadapnya secara langsung. Sebisa mungkin, Andre akan bekerja secara profesional dan menindak tegas Alice jika suatu saat berbuat kesalahan.
"Bagaimana dengan proses penyambutan untuk karyawan baru?" tanya Andre kepada asistennya, Bayu.
"Semua terlaksana dengan lancar, tuan. Mereka juga langsung dibimbing oleh para senior untuk jobdesc dan peraturan di perusahaan ini" ucap Bayu.
Andre mengangguk puas dengan kinerja karyawan-karyawan di perusahaannya sekarang. Semenjak dirombak habis-habisan oleh Andre dan Papa Reza, hanya karyawan terpilihlah yang dipertahankan oleh keduanya. Bahkan Andre mengadakan seleksi ulang sehingga banyak karyawan yang berguguran. Memang hari ini diadakan penyambutan karyawan baru oleh para petinggi perusahaan, namun dia dan papanya tak mengikuti hal itu karena adanya meeting penting di luar.
***
Andre dan Papa Reza pulang ke rumah dengan wajah lelahnya. Saat sampai di halaman rumah, keduanya bingung dengan adanya dua sepeda motor yang terparkir disana. Mereka berdua merasa tak pernah melihat sepeda motor itu sebelumnya. Akhirnya keduanya turun dari mobil kemudian masuk kedalam rumah. Terdengar suara beberapa orang yang tengah berbicara seru dari ruang tamu.
Mereka terus berjalan masuk dan terlihatlah ada tiga orang tamu dengan salah satunya sangat keduanya kenali. Dia adalah Alice yang datang entah dengan siapa. Akhirnya keduanya memutuskan untuk bergabung disana.
"Assalamu'alaikum..." salam Andre dan Papa Reza.
"Wa'alaikumsalam..." jawab semua orang yang ada di ruang tamu.
Semua yang ada di ruang tamu langsung mengalihkan perhatiannya kearah dua orang pria yang baru saja datang. Hal ini membuat Papa Reza dan Andre mengetahui kalau tamu yang datang adalah kedua orangtua Alice dan gadis itu. Sejenak Papa Reza menampilkan tatapan tak sukanya begitupun dengan Andre namun dengan cepat mereka mengubahnya.
"Lho Alice kok sudah sampai disini saja?" tanya Papa Reza heran.
"Iya, om. Kebetulan untuk karyawan baru hari pertama kerja hanya setengah hari. Tadi aku contact an sama Mama Nisa karena orangtuaku mau silaturahmi kepada beliau, makanya habis dari kantor langsung kesini" jelas Alice.
__ADS_1
Papa Reza hanya menganggukkan kepalanya mengerti karena yang mengurus tentang karyawan baru adalah Andre dan Bayu jadi ia tak tahu menahu tentang ini. Papa Reza dan Andre menjabat tangan orangtua Alice kemudian pamit undur diri untuk pergi membersihkan diri.
"Hati-hati sama keluarganya Alice, terutama orangtuanya. Kelihatan banget tuh kalau ibunya matre" bisik Papa Reza pada anaknya saat berjalan berdampingan di tangga.
"Jangan suka suudzon" ucap Andre acuh tak acuh.
"Dibilangin ngeyel, kita lihat saja nanti apa yang papa ucapkan benar atau tidak" kesal Papa Reza yang kemudian berlalu pergi ke kamarnya.
Sedangkan Andre hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah papanya itu. Ia juga tahu harus waspada pada kedua orangtua gadis itu, namun yang perlu diwaspadai adalah Alice sendiri. Andre segera saja masuk ke dalam kamar anaknya terlebih dahulu untuk melihat ketiganya.
"Wow... Anak-anak papa udah pada mandi ternyata" ucap Andre dengan antusias.
"Iya dong, kita udah wangi papa. Ndak kaya papa belum mandi, bau" ucap Anara sambil tertawa cekikikan.
"Papa ending andi ulu, adan papa anyak umanna" suruh Arnold.
"Kalau ada apa-apa langsung masuk ke kamar bunda dan papa ya" pesan Nadia pada ketiga anaknya saat dia akan menyiapkan perlengkapan mandi untuk suaminya.
Beruntung ketiganya adalah anak yang penurut dan pengertian sehingga tidak susah jika ditinggal sebentar. Kecuali kalau kondisi mereka sedang tak memungkinkan untuk itu.
"Kok nggak main di ruang keluarga? Biasanya setelah mandi pada disana" tanya Andre.
Memang benar, sedari dia dan papanya masuk ke rumah sebenarnya mereka heran karena istri juga anak-anaknya tak kelihatan. Biasanya setiap ia pulang dari kerja pasti mereka sudah berkumpul di ruang keluarga.
"Nanti tanya sama anak-anak saja, mas" jawab Nadia sekenanya.
__ADS_1
Nadia segera menyiapkan perlengkapan untuk Andre mandi. Sedangkan laki-laki itu segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
Mereka berlima turun menuju ruang makan setelah tadi berkumpul sebentar. Namun saat Andre menanyakan tentang tidak bermain di ruang keluarga, semuanya memilih diam tak mau menjawab sama sekali. Hal ini membuat Andre bingung.
Saat sampai di ruang makan, kelimanya terkejut dengan masih adanya keluarga Alice disana yang sudah duduk rapi. Ternyata mereka akan ikut makan bersama dan itu langsung membuat raut wajah ketiga anaknya cemberut.
"Napa meleka itut akan dicini? Ndak unya uit apa itut akan di lumah ita" ketus Arnold.
Seketika Andre dan Nadia meringis pelan karena merasa tak enak hati dengan ucapan anaknya itu. Bahkan Nadia yang menggendong anak itu langsung menutup mulut Arnold dengan tangannya.
"Iya, ganggu aja" ucap Anara dengan beraninya
Sedangkan Papa Reza diam-diam tersenyum penuh kemenangan karena ternyata ketiga cucunya itu tak menyukai kehadiran keluarga Alice. Berbeda dengan Mama Anisa yang merasa tak enak hati dan merasa bersalah pada keluarga itu.
Tanpa mereka sadari, ada satu orang yang sudah mengepalkan kedua tangannya diatas pahanya karena emosi mendengar ucapan dari Arnold dan Anara. Namun orang itu masih menampakkan senyumnya dengan manis.
"Maafin cucu-cucuku ya, mereka tak terbiasa dengan adanya orang baru di rumah" ucap Mama Anisa tak enak hati.
Keluarga Alice hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Kemudian Andre, Nadia, dan ketiga anaknya langsung saja duduk di kursinya masing-masing. Segera saja mereka memakan makanan yang sudah tersedia diatas meja dengan Arnold yang disuapi oleh Nadia.
"Lho... Cucumu yang paling kecil itu masih disuapi to jeng makannya? Jangan terlalu dimanja, harusnya dia sudah bisa makan sendiri di umurnya yang sekarang" ucap Mama Alice.
****
__ADS_1
Wah... Ada yang cari gara-gara sama si gembul nih? 😅😅😅
Ternyata banyak yang milih cerita keluarga Nadia dan anak-anaknya ya, baiklah akan ku lanjutkan ceritanya disini aja ya 🙏