Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Pencarian Alice


__ADS_3

Nomor ponsel dari Alice sudah berulang kali Andre coba hubungi, namun hanya operator saja yang menjawab. Bahkan Papa Reza sudah meminta bantuan pada hacker untuk melacak keberadaan Alice melalui nomor ponselnya, tetapi terakhir kali sim card itu digunakan berada tepat di gang rumahnya. Hal ini sungguh menyulitkan, namun Papa Reza meminta mereka untuk melacak melalui email dan media sosial lainnya milik perempuan itu.


"Sabar, Ndre. Kita pasti bisa menemukan mereka. Toh mereka nggak akan bisa pergi jauh karena tadi papa langsung menghubungi teman papa yang bekerja di stasiun, terminal, dan bandara yang didekat sini untuk melaporkan kalau ada perempuan yang bernama Alice agar segera menginformasikannya pada kita" ucap Papa Reza sambil menepuk bahu anaknya.


Sedari tadi Papa Reza memang sibuk dengan ponselnya untuk menghubungi teman-temannya agar segera menghubunginya jika terdapat nama Alice dalam daftar penumpang perjalanan ke luar kota maupun luar negeri. Dia takkan pernah diam saja jika ada yang berani mengusik keluarganya terutama anak dan cucunya.


Andre menganggukkan kepalanya mengerti ucapan papanya. Disaat seperti ini rasanya otaknya seakan buntu, beruntungnya ada sang papa yang dengan sigap membantunya mengatasi semuanya. Andre dan Papa Reza memutuskan untuk masuk kedalam mobil kemudian melajukannya menuju ke kantor.


***


"Sepertinya kita nggak bisa pergi pakai transportasi umum, pasti Andre dan keluarganya tengah memburu kita" ucap Alice dengan sedikit panik.


Kini Alice dan keluarganya tengah beristirahat di sebuah area dekat pantai. Sudah hampir satu jam mereka mengelilingi kota dengan menggunakan sepeda motor demi menghindari kejaran Andre dan keluarganya. Setelah pergi dari rumahnya, mereka langsung saja mencari tempat bersembunyi.


"Kalian juga sih yang ceroboh, sudah enak-enak punya penghasilan dari pekerjaan Alice di kantor Andre malah membuat masalah dengannya" ketus Papa Dion.


"Kita juga nggak sengaja kali, pa. Dorong tuh istri Andre sampai pendarahan" ucap Mama Farida tak terima.


Papa Dion hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap keras kepala anak dan juga istrinya. Sedari dulu memang istrinya itu sangat susah untuk diberitahu padahal jelas-jelas yang dilakukannya itu salah. Sekarang saat kena batunya, tidak mau disalahkan.


"Lebih baik kita pergi ke daerah kecil aja dengan menggunakan sepeda motor. Aku yakin kalau Andre takkan bisa menemukan kita disana, lagi pula mereka fokusnya akan ke stasiun, terminal, atau bandara gitu" ucap Alice menghentikan perdebatan antara kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Apa kalian nggak berniat untuk meminta maaf saja sama keluarga Andre? Siapa tahu mereka memaafkan kalian lalu kita bisa hidup normal seperti biasanya. Asalkan kalian berhenti untuk mengganggu kehidupan mereka" saran Papa Dion.


"Ogah... Bukannya kita hidup tenang, tapi malah hidup di penjara" ketus Mama Farida.


Akhirnya Papa Dion pasrah saja saat mendengar keputusan dari istri dan anaknya. Ketiganya segera saja menaiki kembali sepeda motor untuk mencari tempat tinggal sementara. Tempat tinggal yang diyakini bisa menyembunyikan mereka dari kejaran Andre dan keluarganya.


***


"Anol oleh macuk ndak ke alam? Abol mau ium unda bial epat angun ayak clita ongeng putli tidul" tanya Arnold dengan polosnya kepada Mama Anisa, Ayah Deno, dan Ibu Ratmi.


Mama Anisa, Ayah Deno, dan Ibu Ratmi yang mendengar tatapan begitu polos dari Arnold itu seketika saja merasa sedih. Ketiga cucunya begitu berharap bahwa sang bunda bisa segera bangun dari tidur panjangnya lalu bermain dengan mereka bersama adik kecilnya. Perkembangan bayi laki-laki Nadia dan Andre yang belum diberi nama itu pun sudah berangsur stabil. Setelah dilakukan observasi, semua kondisinya sangat baik.


"Anak kecil belum boleh masuk ke dalam. Jadi kita do'ain bunda dari luar aja ya" ucap Mama Anisa sambil mengelus pipi bulat Arnold.


"Talo ditu, endong Anol. Anold mau ihat unda dali intu kaca" ucap Arnold.


Ayah Deno menganggukkan kepalanya kemudian menggendong Arnold dan mendekatkannya kearah pintu ruang ICU. Arnold langsung saja meletakkan tangan mungilnya di pintu kaca sambil mengusapnya pelan seakan yang diusap itu adalah wajah bundanya.


"Unda, dek ayi cudah lahil lho. Cekalang Anol dah adi bang, eman unda ndak mau ihat? Dek ayi cudah bica omong lho, temalin Anol yan ajalin. Pintal kan Anol?" ucap Arnold berceloteh.


Celotehan Arnold itu membuat para orang dewasa yang mendengarnya seketika  merasa teriris sembilu. Bahkan Mama Anisa sudah menitikkan air matanya karena melihat Arnold yang melemparkan candaan ditengah-tengah rasa sedihnya. Anara dan Abel pun ikut mendekat kearah pintu kaca itu dengan dibantu Mama Anisa yang memberikan kursi agar bisa melihat bundanya.

__ADS_1


"Bunda udah janjikan kalau mau antar jemput sekolah lalu bacain dongeng setiap hari, kok sekarang malah tidur mulu sih? Bunda nggak asyik ah" ucap Anara sambil mengerucutkan bibirnya.


"Bunda, cepat bangun yuk biar kita bisa ajak main adek bayi sama-sama" ucap Abel sambil mengusap air mata yang tiba-tiba keluar dari sudut matanya dengan punggung tangannya.


"Ayo unda, angun don. Anol ubit nih talo ndak angun-angun" ucap Arnold dengan sedikit mengancam.


"Kita sayang bunda" seru Abel dan Arnold yang kemudian turun dari kursi.


Abel dan Anara langsung saja berlari menuju kedua neneknya kemudian memeluknya dengan erat. Keduanya tak bisa menyembunyikan tangisannya setelah berbicara dengan Nadia yang hanya diam saja.


"Liat tuh... Kak Bel dan Kak Nala, nanis kalna unda ndak angun-angun. Ayo angun unda" seru Arnold sambil berkacak pinggang.


Ayah Deno hanya bisa terkekeh pelan walaupun di sudut matanya sudah basah. Ayah Deno langsung memeluk Arnold yang ada digendongannya dengan sayang kemudian menurunkannya. Arnold langsung berlari menuju kedua kakaknya dan memeluk keduanya yang masih menangis.


"Angan angis, ental unda cedih lho" ucap Arnold sambil mengusap bahu kedua kakaknya.


"Bunda ndak mau bangun-bangun, kita sedih" ucap Anara setelah melepaskan pelukannya.


"Anyak do'a. Angis ndak akan bica uat unda cembuh" ucap Arnold memperingatkan.


Anara dan Abel menganggukkan kepalanya mengerti kemudian menghapus kasar air matanya dengan kedua tangannya. Mereka bertiga akhirnya duduk dengan tenang bahkan ketika diajak berbicara pun tak menjawab. Namun dilihat dari mimik wajahnya, mereka kini tengah berdo'a sehingga tidak mau diganggu.

__ADS_1


Mendengar kekompakan ketiga cucunya, sontak saja Mama Anisa, Ibu Ratmi, dan Ayah Deno begitu terharu. Disaat seperti ini memang kekompakan seperti inilah yang dibutuhkan demi memberikan semangat agar bisa menjalani hidup dengan baik.


__ADS_2