
Malam telah begitu larut, semua yang ada di desa itu telah masuk dalam rumah untuk beristirahat. Suasana malam itu begitu sepi dengan hawa dingin yang begitu menusuk. Andre dan keempat anaknya telah tertidur lelap di kamar Nadia. Sedangkan Nadia yang sudah terbiasa dengan suasana di desa ini pun matanya masih terjaga. Bahkan wanita itu masih duduk di teras depan rumah sambil menikmati keheningan yang tercipta.
Saat dirinya tengah memejamkan matanya, tiba-tiba saja ada seseorang yang duduk di kursi sebelahnya. Hal ini sontak saja membuat Nadia langsung membuka matanya kembali dan mengalihkan pandangannya kearah samping ia duduk. Ternyata yang duduk di sebelahnya itu adalah Ibu Ratmi.
"Mau apa ibu kesini?" tanya Nadia tanpa memandang kearah ibunya.
"Emangnya ibu nggak boleh kesini? Ini kan rumah ibu, suka-suka dong" ucap Ibu Ratmi dengan ketus.
Nadia masih ingat anak-anaknya sampai ketakutan melihat wajah kedua orangtuanya yang terlihat membenci mereka. Mereka tak tahu apa-apa tentang permasalahan orang dewasa namun harus merasakan akibatnya. Hatinya sakit melihat kedua anak gadisnya yang tengah liburan tampak tak bersemangat. Padahal sewaktu mereka akan berangkat sudah semangat 45.
"Sebenarnya ibu dan ayah kenapa jadi judes sama anak-anak? Kalau memang ibu ada masalah dengan Andre dan keluarganya, janganlah sampai melibatkan anak-anaknya" tanya Nadia sambil menghela nafas lelah.
Ibu Ratmi terdiam dengan menatap lurus kedepan seperti Nadia. Berulangkali dia menghela nafasnya kasar karena pertanyaan Nadia sepertinya membuat nafasnya menjadi tak normal. Dia sadar kalau dirinya dan sang suami salah, namun karena ego mereka yang tinggi membuat semuanya menjadi rumit.
"Setiap kali aku melihat anak-anak sambungmu..."
"Mereka anak-anak kandungku" sela Nadia sebelum ibunya menyelesaikan ucapannya.
__ADS_1
Nadia tak terima jika ada orang yang menyematkan ketiga anaknya itu sebagai anak sambungnya. Bagi Nadia, mereka adalah anak kandungnya dan tidak ada satupun orang yang boleh menjudge semuanya. Akhirnya Ibu Ratmi menghela nafasnya pasrah karena ucapannya dipotong oleh sang anak.
"Baiklah... Setiap kali aku melihat anak-anakmu itu, pasti aku akan teringat bagaimana kamu koma setelah melahirkan. Rasanya hati kami hancur apalagi mendengar ucapan dokter yang begitu menyakitkan. Dokter menyuruh kami untuk mengikhlaskanmu agar kamu tak semakin lama merasakan kesakitan, maka kami langsung menyetujuinya. Kami tak ingin kamu kesakitan terlalu lama, disana hanyalah ragamu saja namun rohmu itu entah sudah dimana" ucap Ibu Ratmi menjelaskan dengan tatapan sendunya.
"Walaupun keputusan itu menyakiti bahkan bertentangan dengan keluarga suamimu namun kami tetap kekeh. Kami tak bisa melihatmu kesakitan setiap harinya. Setiap kamu kejang-kejang dan hilang nafas, kami kasihan melihatmu harus mengalami itu. Bahkan hati kami begitu hancur harus melihat anak kami berjuang dengan banyak alat ditubuhnya" lanjutnya sambil menangis.
Nadia terdiam mendengar ucapan ibunya, bahkan kini matanya sudah berkaca-kaca. Ia paham posisi kedua orangtuanya yang pusing melihat anaknya terbaring lemah karena melahirkan hingga harus menyalahkan oranglain. Dia semakin bimbang dengan apa yang terjadi untuk menyelesaikan semuanya.
"Huft... Maafkan Nadia jika selama disini kami malah seperti memusuhi ibu. Kami terutama Nadia tak ingin jika anak-anak yang tak tahu apa-apa menjadi korbannya. Jadi Nadia mohon untuk kita semua saling memaafkan dan anggap saja kejadian kemarin sebagai pembelajaran kalau kita harus mendiskusikan semuanya secara bersama-sama agar tak salah paham" ucap Nadia dengan bijak.
Ibu Ratmi menganggukkan kepalanya mengerti. Ia juga tak boleh mencampur adukkannya masalah orang dewasa dengan anak-anak. Mau bagaimanapun juga mereka tak tahu apa-apa tentang semua yang tengah terjadi. Ibu Ratmi segera saja bangkit dari duduknya kemudian memeluk Nadia dengan begitu erat. Nadia yang dipeluk pun langsung memeluk balik ibunya.
"Nadia juga rindu ibu yang selalu ngomelin aku" ucap Nadia dengan tulus.
Dalam keheningan malam itu, keduanya saling berpelukan diiringi oleh isak tangis yang begitu menyayat hati. Bukan isakan tangis kesedihan, namun kebahagiaan. Namun adegan yang begitu mengharukan itu hancur seketika karena seseorang yang baru saja datang.
"Pelukan terus kaya teletubbies" sindir seseorang yang baru saja datang, yang tak lain adalah Arnold.
__ADS_1
Kedua wanita itu segera saja melepaskan pelukannya kemudian mengalihkan pandangannya kearah pintu rumah. Disana Arnold berdiri dengan gaya tengilnya sambil mengucek-ucek matanya. Mungkin tadi bocah kecil itu terbangun dan menyadari tak ada sang bunda disisinya sehingga mencarinya keluar kamar.
Nadia meraih Arnold untuk naik ke pangkuannya bahkan bocah kecil itu langsung memeluk bundanya dengan erat. Nadia mengelus punggung anaknya itu dengan lembut agar bisa segera tertidur kembali.
"Lagaknya kaya orang udah gede, tidur aja masih nempel dan nyari emaknya" sindir Ibu Ratmi yang sudah duduk kembali di kursinya.
"Nenek kalau pengen dipangku kaya Arnold itu bilang. Biar nanti bunda pangku dan nina bobok kan nenek di pangkuannya kaya Arnold. Tapi biar aku duluan soalnya Arnold masih ngantuk" ucap Arnold menanggapi ledekan dari neneknya.
Sontak saja Nadia terkekeh geli mendengar ucapan anaknya itu, sedangkan Ibu Ratmi hanya bisa mendengus kesal. Ia memang takkan pernah menang jika melawan Arnold yang pintar berbicara itu. Lebih baik diam daripada membuang-buang tenaga menghadapi Arnold. Tak berapa lama, terdengar dengkuran halus yang menandakan bocah kecil itu sudah kembali terlelap. Nadia masih terus mengelus punggungnya dengan lembut agar anak itu tertidur lebih lelap lagi.
"Anakmu yang satu ini benar-benar ajaib" ucap Ibu Ratmi.
"Iya, bu. Sampai kuwalahan kami menghadapinya bahkan ucapannya itu lho selalu nggak bisa kita jawab. Aku yakin suatu saat nanti, dia akan jadi pelindung untuk kedua kakak dan adiknya" ucap Nadia tersenyum bangga.
"Iya benar, sikapnya juga sangat posesif terutama sama kamu. Tapi itu lho ucapannya kok pedes gitu habis makan berapa cabai tuh sehari" ucap Ibu Ratmi sambil geleng-geleng kepala.
Mungkin sifat Arnold yang begitu ceplas ceplos dan bermulut pedas itu berasal dari Andre. Ditambah gabungan dari Aneta yang semasa hidupnya juga berkata ketus. Sungguh perpaduan yang membuat semua orang geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Ayo kita masuk, udah dingin nih" ajaknya.
Nadia menganggukkan kepalanya kemudian berjalan terlebih dahulu untuk masuk kedalam rumah. Sedangkan Ibu Ratmi yang akan menutup dan mengunci pintu rumah. Nadia masuk dalam kamarnya dan terlihat suami juga anak-anaknya yang lain masih tertidur dengan lelapnya. Nadia membaringkan Arnold di kasur kemudian diikuti dirinya yang langsung berbaring disebelah bocah kecil itu.