
"Sini lihat kedepan semuanya..." titah Arnold yang kini sudah berdiri didepan semua orang yang ada disana.
Setelah berhasil menjawab satu soal yang ada di buku paket milik kakaknya, Arnold dengan percaya dirinya berjalan lalu berdiri didepan semua teman kakaknya. Bahkan ia berlagak seperti seorang guru yang akan mengajar siswanya di kelas. Dengan spidol di tangan juga kacamata milik Dino yang bertengger di matanya. Bahkan kacamata itu berulangkali melorot karena terlalu kebesaran untuknya.
Mama Anisa dan Nadia yang melihat tingkah Arnold itu pun hanya bisa menahan tawanya. Terlebih wajah Arnold yang terlihat begitu serius membuat semuanya gemas bukan main. Nadia mengabadikan moment itu dalam bentuk foto maupun video agar Andre dan Papa Reza mengetahui perkembangan bocah kecil itu.
"Sekarang bapak guru Arnold akan mengajari kalian matematika" serunya.
Semuanya menatap penuh antusias dengan apa yang akan diajarkan oleh balita cerdas itu. Bahkan mereka merasa kalau kehadiran Arnold atau Alan sama sekali tak mengganggu kegiatan belajar ini. Arnold dengan sigap menuliskan angka di papan tulis, walaupun tulisannya belum terlalu jelas namun mereka mengerti.
"Ini soalnya tadi 36 dikurangi 4 pangkat 2" ucap Arnold sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"4 pangkat 2 itu adalah 4 kali 4 sama dengan 16. Jadi 36 dikurangi 16 hasilnya 20" lanjutnya sambil bertepuk tangan sendiri.
Semua yang ada disana langsung bertepuk tangan dengan kecepatan menghitung dari Arnold. Bahkan bocah laki-laki itu belum memasuki TK namun sudah pintar dalam hal soal seperti ini. Ini adalah berkat dari Nadia yang selalu mengajarkannya angka-angka bahkan perhitungan sejak awal mereka bertemu.
"Sekian penjelasan dari bapak guru Arnold ya anak-anak. Sampai jumpa lagi minggu depan, sekarang saatnya kita pulang" serunya.
Arnold segera saja berlari kecil untuk duduk kembali di tempatnya seperti semula. Arnold bahkan kini tengah merebahkan badannya pada karpet yang ada disana diikuti oleh Alan. Sedangkan Anara, Abel, dan teman-temannya harus melanjutkan kembali belajarnya.
***
Kurang lebih dua jam mereka belajar, akhirnya semua memutuskan untuk menyudahi kegiatannya. Nadia dan Mama Anisa mengantarkan teman-teman Anara yang sudah dijemput ke halaman rumah. Untuk Didin dan Dino langsung akan diantar oleh sopir keluarga Farda.
__ADS_1
"Terimakasih bu atas kesediaannya memberikan tempat untuk mereka belajar" ucap Ibu Fabby mewakili yang lainnya.
"Sama-sama. Demi anak-anak kami akan melakukan yang terbaik, asalkan kegiatan yang positif. Dan maafkan juga jika kalian tadi terganggu belajarnya karena adanya kedua adik Abel juga Anara" ucap Nadia sambil tersenyum.
"Nggak papa, tante. Kita senang ada mereka, bisa buat hiburan" ucap Diani dengan terkekeh pelan.
Mereka semua akhirnya memilih pamit pulang karena hari sudah sangat sore. Setelah melihat semuanya pulang, Nadia masuk kedalam rumah bersama dengan Mama Anisa, Abel, dan Anara untuk membantu Mbok Imah membereskan area belakang. Seperti biasanya jika Arnold dan Alan akan sibuk rebahan di ruang keluarga sambil menunggu papa dan kakek mereka pulang.
***
"Papa dan kakek pulang..." seru Andre dan Papa Reza bersamaan.
Sontak saja Arnold dan Alan yang mendengarnya langsung bangun dari posisi rebahannya kemudian berlari menuju kedua laki-laki dewasa itu. Keduanya langsung saja merentangkan tangan untuk menyambut dua bocah laki-laki itu dengan senyum manisnya.
Tak disangka senyuman Andre luntur saat kedua anaknya lebih memilih masuk dalam pelukan kakeknya semua. Ia mencebikkan bibirnya kesal sambil menatap sinis papanya yang kini meledek dirinya. Sedangkan dua bocah kecil itu sama sekali tak merasa bersalah karena bersikap tak adil pada papanya.
"Enggak..." jawab keduanya secara bersamaan.
Mendengar keduanya membuat Andre langsung saja pergi berlalu dari hadapan tiga orang laki-laki yang tengah meledeknya itu. Bahkan Andre berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya karena teramat kesal tak ada yang membela dirinya.
"Cieee... Papa ngambekan" seru Arnold meledek.
"Anak laki-laki kok suka ngambek" sindir Papa Reza.
__ADS_1
Ketiganya tertawa bersamaan karena merasa senang telah berhasil menjahili Andre. Kedua bocah laki-laki itu segera saja menggandeng kakeknya kemudian berjalan menuju Andre yang sudah duduk selonjoran di ruang keluarga. Arnold langsung duduk di kaki Andre membuat sang empu yang tengah memejamkan matanya itu terkejut.
"Papa Andre yang ketampanannya masih kalah dengan tampannya seorang Arnold, jangan lama-lama ngambeknya. Nanti kalau sering ngambek dikira cewek kalau lagi cari perhatian cowoknya lho" seru Arnold yang langsung dihadiahi gelak tawa oleh Papa Reza.
"Astaga... Pintarnya nih anak kalau bicara" gemas Andre yang langsung memeluk Arnold yang duduk diatas kakinya.
Andre bahkan langsung meraih anaknya itu kemudian ia peluk dengan erat-erat. Ia tak menyangka anak laki-lakinya yang dulu sifatnya hampir sama dengannya yang selalu dingin bahkan jarang berbicara bisa menjadi seseorang yang pintar dalam berkata. Sungguh dirinya bersyukur karena kehadiran Nadia mampu mengubah kehidupan keluarganya menjadi lebih berwarna.
"Papa, kakek... Hari ini aku kerja lho, tapi belum dibayar" ucap Arnold tiba-tiba membuat Andre melepaskan pelukannya dengan sang anak.
Keduanya pun mengernyitkan dahinya heran dengan apa yang diucapkan oleh anaknya itu. Keduanya menatap Arnold dengan tatapan penasarannya bahkan Alan juga ikut melihat kearah kakaknya.
"Tadi Arnold bekerja jadi guru. Ngajarin teman-temannya kak Nara dan kak Bel lho, tapi Arnold belum dibayar. Makanya ini mau minta gajinya dong papa" ucap Arnold sambil menengadahkan kedua tangannya kehadapan Andre.
Andre dan Papa Reza saling pandang karena bingung dengan ucapan Arnold. Keduanya memang belum tahu bahkan diberitahu oleh istri mereka tentang kejadian ini. Namun kebingungan mereka langsung saja hilang saat Nadia dan Mama Anisa datang ke ruang keluarga.
"Ini lho yang dimaksud sama Arnold" ucap Nadia yang langsung menyodorkan ponsel kepada Andre.
Terlihat di ponsel itu ada video mengenai Arnold yang tengah mengajari teman-teman Anara dan Abel didekat papan tulis. Papa Reza yang penasaran pun ikut mendekat kearah Andre kemudian keduanya melihat dengan seksama. Keduanya terlihat bangga dengan perkembangan Arnold yang begitu pesat. Andre yakin jika anaknya kelak akan menjadi sukses dengan caranya sendiri.
Sedangkan Arnold yang melihat tatapan tak percaya dan kagum kedua laki-laki dewasa didepannya ini sudah memasang wajah tengilnya. Bahkan dengan percaya dirinya, ia menengadahkan lagi kedua tangannya dihadapan sang kakek. Tanpa basa basi Papa Reza mengeluarkan dompetnya kemudian memberikan sepuluh lembar uang seratus ribu, begitu pula dengan Andre.
"Arnold kaya..." seru Arnold kemudian bangkit dari duduknya dengan bersorak senang.
__ADS_1
"Bunda, gaji pertama Arnold ini buat bundaku tersayang" serunya yang kemudian menyerahkan uangnya pada Nadia.
Nadia begitu terharu dengan ucapan anak laki-lakinya ini. Ia memeluk anaknya dengan erat bahkan matanya sudah berkaca-kaca. Sedangkan Alan juga langsung mendekat kearah Arnold dan Nadia membuat mereka berpelukan bertiga. Sungguh pemandangan begitu mengharukan bagi Andre, Papa Reza, dan Mama Anisa.