Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Test


__ADS_3

"Anak-anakmu yang laki itu lho, pa. Bisa-bisanya di umurnya yang segitu sudah bisa kenal cewek" ucap Nadia sambil geleng-geleng kepala.


Setelah seharian hanya di rumah menemani anak-anaknya hingga semuanya tertidur, akhirnya kini Nadia duduk diatas ranjang bersama sang suami. Seperti biasa kegiatan keduanya saat berdua akan melakukan perbincangan membahas perkembangan anak-anaknya diatas tempat tidur.


Andre selalu antusias jika sudah menyangkut perkembangan anak-anaknya. Terutama Anara dan Abel yang akan mengikuti seleksi olimpiade nasional bulan depan. Keduanya semakin disibukkan dengan tambahan waktu bimbingan belajar di sekolahnya. Awalnya Nadia tak menyetujui jika keduanya ikut, namun mereka meyakinkan bahwa itu memanglah keinginannya sendiri bukan atas paksaan.


"Memangnya ada apa, bun?" tanya Andre penasaran.


"Alan kenalan sama cewek di sekolahnya Anara dan Abel saat pendaftaran sekolah tadi. Bahkan dia ngakunya namanya Michael" ucap Nadia masih tak habis pikir dengan pikiran anaknya itu.


"Michael?" tanya Andre yang kebingungan.


Andre begitu bingung dengan yang dimaksud mengaku namanya Michael oleh anaknya itu. Pasalnya di nama panjangnya saja tak ada kata itu. Bahkan kini Andre menatap istrinya itu agar segera menjelaskan sejelas-jelasnya. Ia begitu penasaran dengan apa ulah anaknya yang satu itu.


"Iya, Alan kenalan sama cewek dengan mengganti namanya menjadi Michael. Mana ceweknya tomboy kaya bunda lagi. Jadi bunda ingat pas masa kecil" ucap Nadia sambil terkekeh pelan.


Andre langsung memeluk istrinya itu, kemungkinan besar Alan akan mengikuti dirinya yang memilih sosok tomboy sebagai pendamping hidupnya kelak. Apalagi Alan yang memang terlihat sekali sulit diatur dan omongannya ceplas-ceplos itu harus punya pendamping yang bisa mengimbanginya.


"Ada-ada aja. Biarin aja bun, mungkin dia kepengen seperti Arnold. Lagi pula mereka juga belum paham tentang pacaran atau sejenisnya itu. Yang penting sih mereka harus mencari teman sebanyak-banyaknya agar bisa belajar bersosialisasi dan mengetahui banyak karakter orang" ucap Andre.


Andre tak mau yang namanya membatasi bagaimana pergaulan anaknya. Yang terpenting mereka bisa menjaga diri dengan batasan agama yang dianut. Lagi pula ada orangtua yang memang senantiasa mendampingi agar mereka tak kelewat batas.


Nadia menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang diucapkan oleh Andre. Lagi pula jaman sekarang dan dulu saat mereka masih kecil juga berbeda. Keduanya pun akhirnya memilih merebahkan badannya keatas ranjang setelah membahas beberapa kegiatan anaknya terutama Anara dan Abel yang sibuk.


"Kita buat adik buat Alan yuk" ajak Nadia dengan sedikit malu-malu.

__ADS_1


"Kalau nglakuin itu sih oke aja, bun. Tapi kalau nambah baby lagi, papa belum siap" ucap Andre sambil tersenyum tipis.


Nadia menganggukkan kepalanya pasrah. Lagi pula memang sepertinya Andre memang belum siap melihat dirinya kembali melahirkan bayi dengan berkorban nyawa seperti waktu itu. Apalagi dirinya yang dinyatakan koma dalam waktu cukup lama membuat semuanya seakan memintanya untuk tak hamil lagi.


***


"Bunda, abang udah siap buat ikut test masuk sekolahnya. Do'akan abang agar bisa melewati test ini dengan baik ya" ucap Arnold setelah selesai bersiap.


Bahkan kini Arnold sudah bersiap lengkap dengan pakaiannya yang begitu rapi di kamarnya. Nadia tadi membantunya bersiap dengan Alan juga yang ingin ikut. Awalnya Nadia tak mengijinkan Alan ikut karena pasti ada saja ulah anaknya itu, namun bocah kecil itu kekeh ingin melihat kakaknya test.


Hari ini Nadia juga ditemani oleh Mama Anisa akan mengantarkan Arnold ke sekolah. Keduanya bersyukur kalau Arnold ternyata sudah sedikit lebih bersemangat tentang sekolahnya. Beberapa hari ke belakang, Arnold juga terlihat belajar demi menghadapi test sekolah ini membuat Alan sedikit protes. Pasalnya saat abangnya belajar tentunya tak bisa menemani bocah kecil itu bermain.


"Abang, angan belajal telus. Lagian abang dah pintal, ndak pellu belajal agi" ucap Alan waktu itu membujuk kakaknya.


Nadia yang mendengar ucapan Arnold itu begitu terharu dengan keinginan anaknya yang ingin membuat bangga keluarganya. Alan pun akhirnya mau tak mau menyetujui apa yang diucapkan kakaknya itu.


"Ayo unda..." teriak Alan dari lantai bawah.


Nadia yang baru saja selesai berganti baju hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar teriakan membahana dari Alan. Sedangkan Arnold yang berada disampingnya langsung menggenggam tangan bundanya. Keduanya berjalan turun menggunakan tangga mendekat kearah Alan yang sudah berkacak pinggang.


"Lama tali, ntal talo elat tesna bica-bica abang ndak cekolah" omel Alan.


"Masih satu jam lebih untuk mulai test nya" ucap Nadia menenangkan anaknya yang begitu heboh itu.


"1 jam itu bental lho, unda. Buktina hampir semua angka diawali dali catu" ucap Alan beralasan.

__ADS_1


Malas menanggapi Alan yang begitu berisik, mereka pun akhirnya keluar dari rumah. Kali ini Mama Anisa yang akan mengemudikan mobilnya dengan Nadia duduk disampingnya. Sedangkan Alan dan Arnold duduk di kursi belakang.


"Abang ugup ndak?" tanya Alan setelah mobil mulai melaju.


"Enggak" jawab Arnold singkat.


"Kok ndak ugup? Halusna talo mau tes tu ugup atau anik. Tok ini biaca aja" tanya Alan heran.


Aneh-aneh saja celotehan Alan ini membuat Arnold memilih diam. Dia memang gugup dan takut mengecewakan orangtuanya jika sampai gagal untuk memasuki sekolah itu. Namun ia berusaha menyembunyikannya agar tak diledek oleh Alan.


"Kan abang sudah belajar, pasti dia yakin kalau bisa menjawab semua soal yang diajukan. Jadinya nggak gugup lagi" jawab Nadia sambil tersenyum.


"Temalin halusna ndak ucah belajal bial bisa nglacain ugup" ucap Alan memberi ide.


"Telat" ucap Arnold acuh.


Yang benar saja Alan baru memberikan ide saat hari test akan berlangsung sebentar lagi. Sebenarnya niat Alan berbicara hal yang aneh dan menjengkelkan ini agar tak membuat kakaknya kepikiran tentang test nya. Lagi pula ia tahu jika abangnya itu sebenarnya gugup namun tak ingin menunjukkannya saja.


Terbukti sedari tadi Alan melihat kedua tangan abangnya saling bertaut bahkan duduknya juga terlihat gelisah. Namun ia sekarang lebih memilih diam agar abangnya malah emosi padanya. Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Mama Anisa itu sampai di sekolah yang dituju.


Bahkan disana sudah ada banyak orangtua wali murid yang datang mengantarkan anaknya yang mau menjalani test masuk. Keempatnya segera keluar dari mobil kemudian berjalan masuk kearah ruang test.


"Abang... Cemangat, Alan dicini celalu do'ain abang bial bica keljakan coalna lancal dan mulus tayak jalan tol" ucap Alan berteriak saat Arnold sudah memasuki ruangan test.


Teriakan itu tentunya membuat Nadia dan Mama Anisa hanya bisa meringis pelan. Pasalnya semua orang langsung melihat kearah mereka.

__ADS_1


__ADS_2