Babysitter Milik Sang Duda

Babysitter Milik Sang Duda
Menjauh


__ADS_3

Anak-anak kini sudah rapi setelah tadi Nadia dan Mama Anisa membantu mereka mandi. Bahkan kini keempatnya sudah duduk di kursi ruang makan bersama dengan sang kakek. Sedangkan Nadia dan Mama Anisa menyiapkan berbagai makanan untuk makan malam ini.


Nadia masih belum bertemu dengan suaminya karena ternyata Andre berada di ruang kerja sepertinya. Ia yang tadi masuk kamar ingin membersihkan diri tak melihat keberadaan Andre sama sekali. Semoga saja dengan dia menenangkan dirinya di ruang kerjanya bisa membuatnya sadar atas perilakunya.


"Nad, panggil suamimu agar makan malam" ucap Mama Anisa memerintah.


Walaupun Mama Anisa kecewa dengan sikap anaknya, namun ia takkan membiarkan Andre kelaparan. Ia berusaha untuk tenang dan tak mau permasalahan ini semakin besar. Ia akan dengan segera membicarakan semua ini setelah nanti semuanya sedikit tenang.


Nadia menganggukkan kepalanya kemudian berjalan pergi ke arah ruang kerja suaminya. Sepertinya memang suaminya itu ada didalam karena lampu ruangannya yang menyala.


Tok... Tok... Tok...


"Mas, kamu didalam? Ayo makan malam" seru Nadia sambil mengetuk pintu ruang kerja suaminya.


Setelah menunggu beberapa saat, ternyata tak ada suara Andre yang menyahuti ucapannya. Hal ini langsung saja membuat Nadia nekat masuk ke dalam walaupun belum dipersilahkan masuk. Nadia sedikit melongokkan kepalanya saat berhasil membuka pintu ruangan yang tak dikunci itu.


"Mas..." panggilnya.


Terlihat disana Andre tengah memejamkan matanya sambil berbaring di sofa. Ia pikir tadi suaminya itu tengah sibuk dengan pekerjaannya namun pada faktanya dia tertidur atau pura-pura tidur. Nadia segera saja masuk kedalam kemudian mendekati suaminya.


"Mas, bangun. Sudah waktunya makan malam" ucap Nadia sambil menggoyangkan tangan suaminya.


Tak ada sahutan bahkan gumaman apapun dari suaminya itu membuat Nadia bingung. Nadia langsung saja menempelkan telapak tangannya pada kening sang suami namun semuanya terlihat normal. Berarti memang suaminya ini tengah tertidur membuatnya bingung akan membangunkannya atau tidak.


Akhirnya Nadia tetap berusaha membangunkannya walaupun tak ada respons dari Andre. Sepertinya Andre begitu lelah hingga tak bangun juga walaupun istrinya sudah melakukan berbagai cara. Nadia menyerah membuatnya langsung saja berjalan keluar dari ruang kerja Andre.

__ADS_1


"Mungkin otak dan perasaannya sedang lelah membuatnya tidur dengan begitu lelapnya. Nanti kalau lapar juga pasti bangun sendiri" gumamnya yang kemudian melangkahkan kakinya keluar.


Tanpa Nadia ketahui, sedari tadi Andre sudah bangun bahkan sejak istrinya mengetuk pintu ruang kerjanya. Namun ia yang memang sedang tak ingin diganggu memilih itu diam saja. Ia tak mau membuat oranglain terluka lagi karena mulut pedasnya itu.


***


"Lho... Andre dimana, Nad?" tanya Mama Anisa yang tak melihat keberadaan Andre bersama menantunya.


"Tidur, ma. Sudah Nadia bangunkan tapi nggak juga bangun" ucap Nadia mengadu.


Mama Anisa menganggukkan kepalanya mengerti. Ia yakin jika Andre bukan lah tidur seperti yang Nadia ucapkan melainkan menghindari untuk tak bertemu dengan keluarganya dulu. Hal ini sudah bukan lagi rahasia bagi Mama Anisa dan Papa Reza. Setiap kali merasa bersalah, pusing, dan stress langsung saja akan menghindari semuanya.


"Udah, ndak ucah edulikan papa. Agi pula calahna cendili yan akal cama nenek. Ndak pelu tasih akan aja bial telapalan" ucap Alan dengan kesal.


Nadia dan Mama Anisa tertawa mendengar celotehan Alan itu. Terlebih Alan lah yang mampu membangkitkan rasa santai diantara ketiga saudaranya yang lain. Tadinya mereka masih pendiam bagai patung namun melalui Alan lah mereka mau membuka suara.


Arnold sekarang menjadi lebih acuh jika mengenai persoalan tentang papanya. Ia tak ingin yang namanya kembali trauma lagi karena memaksakan berpikir atau memasukkan dalam hati suatu kejadian yang tak mengenakkan.


Anara dan Abel menganggukkan kepala menyetujui ucapan adiknya itu. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk melakukan malam seperti biasanya walaupun ada rasa yang berbeda.


***


"Unda, ndak ucah ekat-ekat cama papa. Ntal dimalahin lho, ekat aja cama Alan, abang, kakak" ucap Alan memberi peringatan.


Setelah makan malam tadi, Nadia langsung meminta Anara dan Abel segera memasuki kamarnya kemudian istirahat. Sedangkan ia harus menidurkan kedua anak laki-lakinya yang memang sangat susah untuk tidur jika tak ditemani dulu. Mana sekarang Andre sedang menghindari mereka sehingga Nadia hanya sendiri mengurus anaknya.

__ADS_1


Alan memberi peringatan agar dirinya tak dekat-dekat dengan suaminya sendiri. Padahal sebagai seorang istri harusnya dia bisa meredam semua kekesalan suaminya dan selalu mendampinginya. Arnold pun kini langsung memeluk dirinya yang memang berada ditengah-tengah keduanya.


"Bunda tidur disini aja. Abang takut kalau nanti papa marahin atau bentak-bentak bunda" ucap Arnold dengan nada penuh kekhawatiran.


"Tidak akan, kalau memang papa marahin sudah pasti nanti akan bunda sentil dahinya itu. Biar memerah dan benjol" ucap Nadia sambil tertawa.


Ia tak ingin kalau nanti anak-anaknya itu terlalu khawatir kepadanya sehingga memilih untuk melemparkan candaan. Lagi pula sepertinya Andre juga takkan tidur di kamar malam ini karena masih ingin menenangkan dirinya.


"Unda eyel" ucap Alan yang kemudian ikut memeluk bundanya.


Nadia tak menanggapi ucapan anaknya itu namun langsung memeluk balik keduanya. Nadia mengelus lembut punggung keduanya agar segera tidur karena tak ingin membahas apapun lagi mengenai Andre. Tak berapa lama terdengar dengkuran halus pertanda kedua anaknya itu sudah tertidur.


"Bunda janji akan menjaga kalian walaupun papa ngeselin" gumam Nadia yang kemudian menegakkan tubuhnya.


Nadia segera saja memperbaiki posisi tidur kedua anaknya kemudian menyelemutinya. Setelah dirasa semuanya sudah siap baru lah ia segera saja keluar dari kamar mereka. Ia segera berjalan menuju ruang kerja suaminya itu untuk membicarakan permasalahan ini.


Bahkan kini sesampainya didepan ruang kerja milik suaminya, ia langsung saja menyelonong masuk ke dalam. Lagi pula percuma jika ia mengetuk pintu pasti suaminya itu akan pura-pyra tidur. Sebenarnya ia tahu tadi saat suaminya pura-pura tidur karena kelopak matanya bergerak-gerak namun ia memilih abai saja.


Terbukti sekarang saat ia membuka pintu kini Andre tengah duduk di kursi kerjanya sambil fokus dengan layar laptopnya. Bahkan Andre begitu terkejut saat melihat sang istri yang tiba-tiba masuk. Ingin marah namun ia tak ingin permasalahannya semakin besar membuatnya tetap fokus pada layar didepannya.


"Benar kan dugaanku kalau tadi sebenarnya kamu tak tidur. Hah... Jangan kaya anak kecil, mas. Kamu itu udah tua, bersikaplah dewasa dalam menghadapi masalah bukan menghindarinya" ketus Nadia.


Nadia kesal dengan sikap suaminya itu. Selalu saja begini, Nadia ingin sekali membawa suaminya ke seorang psikiater agar bisa menyembuhkan sikap emosi dan temperamental yang dimiliki suaminya itu.


************

__ADS_1


Halo... Terimakasih atas dukungannya selama ini. Tadi aku baca beberapa komentar yang lumayan bikin aku sadar dan ku putuskan untuk ini adalah konflik terakhir di cerita ini. Setelahnya nanti awal atau pertengahan bulan akan aku tamatkan cerita ini, Terimakasih 🙏


__ADS_2