
"Biarkan saja mereka menghabiskan cemilan itu. Lagi pula kalau mereka tak kesini pasti cemilan itu juga nggak ada yang makan" ucap Nenek Darmi menegur Nadia.
Nadia memang tak ingin jika kedua anaknya itu terlalu banyak memakan makanan manis seperti cemilan yang ada dipangkuannya. Namun apa daya jika dilarang atau diberi nasihat selalu saja mereka bisa memberi alasan yang jelas.
Sekarang juga Nenek Darmi sudah merasa lebih baik dengan kehadiran Nadia juga kedua anaknya. Sebenarnya tadi Nadia sedikit sedih karena melihat ada cairan bening di pelupuk Nenek Darmi yang tak sengaja ia lihat. Ia yakin jika Nenek Darmi habis menangis entah karena kejadian kemarin atau hal yang lainnya.
"Nenek adi napa angis?" tanya Alan tiba-tiba setelah meminum air mineral yang disodorkan oleh Arnold.
Nenek Darmi begitu terkejut begitu pula dengan Nadia mengenai wanita tua itu yang menangis. Bahkan seingatnya tadi ia sudah menghapus air mata yang bahkan masih ada di penglihatannya namun masih terlihat juga. Alan menatap Nenek Darmi dengan tatapan begitu menyelidik.
"Nenek nggak nangis tuh, ah mungkin tadi karena habis masak terus potong bawang merah jadi masih sedikit berkaca-kaca matanya" ucap Nenek Darmi mengelak.
"Abang Anol, talo ohong tu dosa ndak?" tanya Alan menberi pertanyaan pada kakaknya itu.
"Dosa, nanti bisa masuk neraka" jawab Arnold dengan santai.
"Hayoooo... Dengal tan apa capan abang? Ndak oleh ohong anti dosa" ucap Alan memberitahu.
Nenek Darmi terkekeh geli dengan apa yang diucapkan oleh Alan itu. Sungguh kedatangan Alan dan Arnold itu membuat hatinya kini berbunga-bunga apalagi kepedulian mereka terhadapnya. Nenek Darmi yang sampai saat ini tak tahu punya cucu atau tidak selalu merindukan celotehan anak kecil seperti Alan dan Arnold ini.
"Nenek nggak bohong kok. Emangnya Alan nih suka bohong, bilangnya belum makan padahal aslinya mah udah menghabiskan dua piring" ucap Nenek Darmi meledek Alan sambil tertawa.
__ADS_1
Alan menggelengkan kepalanya dengan cepat. Enak saja Nenek Darmi menuduhnya seperti itu. Dia saja kalau makan harus disuapi dulu jadi semua orang pasti akan tahu dirinya habis berapa piring. Nadia yang melihat Nenek Darmi sudah tertawa kembali pun langsung saja menghubungi Mama Anisa agar tahu perkembangan wanita tua itu.
"Nek, Alan udah unya pacal lho. Namana Cia, ia antik engan pipina yan embul itu" ucap Alan bercerita dengan antusias.
Nenek Darmi seketika terdiam sebentar untuk menerjemahkan tentang ucapan dari Alan itu. Terlebih ia yang memang pendengarannya sudah berkurang ditambah ucapan Alan yang kurang jelas membuatnya tak bisa langsung menangkap artinya.
"Alan itu mau cerita kalau dia sudah punya pacar, nek. Namanya Cia, orangnya gembul dan cantik" ucap Arnold menerjemahkan.
Astaga... Nenek Darmi langsung saja tertawa mendengar apa yamg diucapkan oleh Alan itu. Namun ia seperti menatap tak percaya kearah Alan yang masih kecil seperti ini sudah mempunyai pacar bahkan mengenal cewek.
"Ebat tan Alan. Dah unya pacal" ucap Alan dengan penuh percaya diri.
"Makan masih disuapi gini aja udah punya pacar. Mau dikasih jajanan apa nanti pacarnya?" ucap Nenek Darmi meledek.
"Alan boleh saja punya pacar, tapi harus tetap ingat dan menyayangi orangtuanya. Jangan sampai nanti Alan malah terlalu sibuk sama pacarnya padahal ada keluarga yang butuh kasih sayang" ucapnya menasihati.
Seketika saja Nenek Darmi langsung mengingat anaknya yang memang berubah total semenjak mempunyai pacar dulu. Bahkan seringkali anaknya itu keluar malam dan meminta uang lebih agar bisa jalan-jalan dengan pacarnya membuat Nenek Darmi harus berhutang pada Mama Anisa.
Bahkan anaknya yang biasanya bersikap manis padanya pun ternyata tak peduli tentang bagaimana dirinya banting tulang karena terlalu sibuk dengan pacarnya. Ia tak ingin kejadian itu terulang atau terjadi pada Nadia. Apalagi ada empat anak yang nantinya pasti akan membuatnya sedih jika semuanya sibuk sendiri-sendiri.
"Woh... Ndak don. Alan, abang, Nala, dan Bel ndak atan pelnah melupakan unda. Agipula unda itu baik adi ita uga halus belaku cama. Ndak oleh dulhaka cama olangtua" ucap Alan dengan tegasnya.
__ADS_1
Nenek Darmi begitu bangga dengan apa yang diucapkan oleh Alan. Semoga saja ucapan Alan ini tak berubah seperti anaknya dulu. Nenek Darmi langsung saja menciumi pipi Alan untuk menyembunyikan rasa sedihnya. Bahkan kini matanya sudah terlihat berkaca-kaca dan hal itu tertangkap oleh pandangan Nadia.
"Pasti nenek kangen sama anaknya" batin Nadia.
Nadia dulu sudah diceritakan mengenai anak dari Nenek Darmi oleh wanita tua itu. Ia cukup terharu dengan perjuangan wanita tua itu menghidupi dirinya sendiri tanpa ada seorang anak yang mengurusnya. Kini Alan sudah memeluk Nenek Darmi dengan eratnya setelah berhasil mengelak dari ciuman nenek tua itu.
"Nenek, Alan uga akalan cayang tama nenek tok. Adi angan malah ya talo anti Alan celing-celing kecini tuk abisin cimilan nenek" ucap Alan dengan mencium pipi Nenek Darmi.
Dalam hati Nenek Darmi begitu bersyukur dengan perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh keluarga Farda padanya. Arnold yang melihat itu ikut mencium pipi keriput wanita tua itu begitu lama. Arnold dan Alan begitu menyayangi Nenek Darmi yang memang tak pernah mengeluh walaupun keduanya selalu merepotkan beliau.
"Assalamu'alaikum..." seru seseorang yang baru saja datang.
Nenek Darmi dan Alan langsung melepaskan pelukannya kemudian mereka menatap kearah seseorang yang datang. Keempatnya bingung dengan siapa empat orang yang ada didepannya ini pasalnya mereka belum pernah bertemu.
"Silahkan duduk dulu" ucap Nadia mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam teras rumah setelah menjawab salam keempatnya.
Alan dan Arnold menatap menyelidik kearah tiga orang laki-laki dan satu wanita dewasa didepan mereka yang kini tengah menunduk itu. Mereka tak ingin jika ada yang berbuat jahat kepada neneknya sehingga harus menatapnya waspada.
"Kalian mau mencari siapa?" tanya Nenek Darmi penasaran.
"Ibu nggak ingat kami?" tanya seorang laki-laki dewasa itu menatap Nenek Darmi.
__ADS_1
Nenek Darmi menggelengkan kepalanya sambil mencoba mengingat-ingat siapa orang didepannya ini. Namun sama sekali tak terlintas wajah siapapun dalam ingatannya mengenai empat orang ini. Umurnya yang sudah tua tentu akan semakin mengurangi daya ingatnya pada sesuatu.
"Nenek ndak tenal cama alian lho. Ulang aja cana" usir Alan dengan berani.