
"Bu, itu si orangtuanya Parno tinggalnya dimana sih?" tanya Nadia tiba-tiba.
Ketika kedua orangtuanya dan ketiga anak Andre pulang dari membeli jajanan di taman, Nadia segera saja menyodorkan pertanyaan yang membuat mereka terkejut. Pasalnya anaknya itu tak mungkin akan menemui kedua orangtua Parno atau jangan-jangan mereka membuat masalah dengan Nadia sehingga dia mencari alamat untuk memberi pelajaran.
"Memangnya ada apa, Nad? Apakah mereka membuat masalah denganmu?" tanya Ibu Ratmi.
Sebelum menjawab pertanyaan dari ibunya, Nadia memberi kode kepada ayahnya agar membawa ketiga anak Andre masuk ke dalam. Ia tak ingin jika mereka mendengar ucapan-ucapan yang terlontar dari bibir manisnya, apalagi itu akan mempengaruhi kondisi psikis ketiganya terutama Abel.
Ayah Deno yang mengerti kode yang diberikan oleh Nadia pun akhirnya menggiring ketiganya agar masuk kedalam rumah walaupun sebenarnya dia sangat penasaran dengan apa yang diperbincangkan oleh anak dan istrinya itu. Beruntungnya ketiga bocah kecil itu menurut karena memang ingin segera memakan makanan yang sudah saat menggiurkan itu.
"Tadi mereka mau membeli sembako di warung kita. Eh waktu lihat Nadia, bukannya membeli malah dia menghina aku. Emangnya mereka tinggal di sekitar sini ya, bu? Waktu malam itu juga aku ketemu Parno di tongkrongan pertigaan jalan depan" ucap Nadia.
"Ibu belum pernah ketemu mereka di sekitar sini sih, Nad. Kalau di rumah sakit dulu pernah sekali jadi nggak tahu kalau mereka tinggal di sekitar sini apa enggak" ucap Ibu Ratmi sambil mengingat-ingat lagi.
Nadia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Bagi Nadia, keluarga mereka itu seperti jailangkung yang selalu ada dimana-mana tanpa diundang. Nadia hanya menghela nafasnya lelah kemudian duduk kembali didekat tumpukan beras.
***
Hari minggu pagi ini Nadia tengah keluar bersama dengan ketiga anak Andre ke taman untuk bermain dan piknik. Keempatnya membawa tikar dan beberapa makanan. Sesampainya di taman itu, terlihat sekali bahwa disana sangat ramai dengan anak-anak dan para orangtua. Ada yang duduk-duduk saja, berolahraga, dan piknik bersama keluarganya. Cuaca hari ini juga sangat mendukung karena sangat cerah.
Nadia segera saja duduk dibawah pohon dengan menggelar tikar yang sudah dibawanya. Ketiga anak Andre juga ikut duduk membentuk lingkaran disana kemudian mereka menata makanan yang telah mereka bawa dari rumah. Dimulai dari nasi, lauk pauk, buah, kue kering, dan cemilan lainnya tertata rapi ditengah-tengah keempatnya.
__ADS_1
Ketiga anak Andre menatap berbinar kearah makanan yang tersaji, sedangkan Nadia hanya geleng-geleng kepala melihat keantusiasan mereka.
"Mari makan" seru Anara tiba-tiba.
Tiba-tiba saja Arnold menepis tangan Anara yang hendak mengambil kue kering yang ada didepannya. Ia menatap kakaknya itu dengan tatapan memperingati. Anara yang tangannya ditepis oleh Arnold pun matanya seketika berkaca-kaca. Abel segera memeluk Anara sambil membisikkan kata-kata penenang.
"Adek, kenapa kaya gitu sama kakaknya?" tanya Nadia dengan lembut.
"Kak Nala, lom do'a. Ndak oleh akan alo elum do'a" ucap Arnold tanpa bersalahnya.
Bahkan kini matanya menatap datar kakaknya yang sudah terisak dipelukan Abel. Arnold adalah sosok Andre kecil, sifatnya sangat mirip. Ia sangat disiplin terutama pada sebuah aturan yang mereka tetapkan didalam keluarga. Nadia yang mendengar hal itu hanya bisa meringis pelan, pasalnya dirinya juga kadang lupa untuk berdo'a terlebih dahulu sebelum makan.
Kedua anak itu memang harus diberitahu dengan lembut dan pelan karena mereka mempunyai sifat yang sama yaitu keras kepala. Mereka berdua selalu ingin menang sendiri ketika beradu argumen, berbeda dengan Abel yang sangat dewasa dalam menyikapi sesuatu. Ini mungkin juga karena pengalaman hidup yang sudah mereka alami sangatlah berbeda. Maka dari itu Nadia berusaha untuk memberitahu dengan lembut khas keibuan agar anak-anak Andre tidak membangkang.
Anara pun melepaskan pelukannya dari Abel kemudian menghadap kearah adiknya dengan mata yang sembab. Bahkan pipinya sudah memerah dan basah karena menangis. Arnold segera menghapus air mata yang jatuh di pipi kakaknya itu dengan tangannya. Nadia sampai menggigit bibirnya sendiri karena gemas dengan keromantisan kedua kakak beradik itu.
"Mamapin Anol, kak Nala" ucap Arnold.
"Maafin kak Nara juga ya, dek" ucap Anara dengan senyum manisnya.
Keduanya pun berpelukan setelah saling mengucapkan maaf. Nadia segera ikut memeluk keduanya dan diikuti oleh Abel juga. Sungguh pemandangan indah antara anak dan ibu yang sangat mengharukan. Jika orang melihatnya mungkin mereka akan berpikir kalau itu adalah ibu dan anak, padahal baru akan menjadi calon bunda ketiganya.
__ADS_1
"Bunda, makasih ya sudah memberikan kasih sayang yang banyak pada Abel dan kedua adikku. Semoga Bunda terus sayang sama kita dan nggak berubah sedikitpun walaupun nanti sudah mempunyai anak kandung sendiri. Abel sayang banget sama Bunda" bisik Abel tepat ditelinga Nadia.
Nadia yang mendengar ucapan Abel pun matanya berkaca-kaca. Dalam hatinya ia berjanji jika suatu saat nanti sudah menikah dengan Andre dan mempunyai anak kandung sendiri, dia takkan pernah membeda-bedakan kasih sayangnya. Ia akan membagi rata perhatian dan kasih sayang antara mereka dengan anak kandungnya.
"Nggak akan pernah. Bunda akan tetap seperti ini, selalu sayang sama kalian" jawab Nadia dengan berbisik pada telinga Abel.
Abel menganggukan kepalanya percaya dengan apa yang diucapkan oleh Nadia. Abel hanya bisa berdo'a agar bundanya selalu bersama dengan dia dan keluarganya yang lain. Suasana penuh keharuan itu berlangsung cukup lama, setelah itu keempatnya saling melepaskan pelukan. Mereka segera menghapus air mata yang keluar dari pipinya kemudian tertawa bahagia karena ucapan jahil Arnold.
"Cieeee... Dah ede kok ada angis" ledek Arnold dengan menyembunyikan air mata yang jatuh dipipinya.
"Cieee... Yang katanya udah gede tapi masih nangis juga" ledek Nadia pada Arnold.
"Ana da Anol angis. Ni lilipan" elak Arnold.
"Maca cih?" ucap Abel ikut menggoda adiknya.
Arnold seketika cemberut karena digoda oleh kakak dan bundanya itu. Bahkan ia terlihat memalingkan wajahnya karena sibuk menghapus air mata yang masih terus berjatuhan di pipinya. Melihat hal itu sontak saja Nadia, Abel, dan Anara langsung menyerang Arnold dengan ciuman bertubi-tubi di pipi gembulnya agar bocah itu tak lagi kesal.
Hahahaha...
Arnold tertawa lepas saat mendapatkan ciuman bertubi-tubi dari saudara dan bundanya itu. Tawa itu seketika menular pada Nadia, Anara, dan Abel membuat mereka benar-benar tertawa lepas hanya karena candaan receh. Memang benar, kebahagiaan itu tercipta bukan hanya karena hal-hal besar namun hal sederhana pun jika kita mampu mensyukurinya pasti akan menciptakan suatu bahagianya sendiri.
__ADS_1