
"Abang, itu ada temannya datang" seru Nadia dari arah ruang tamu.
Siang ini Nadia hanya berada di rumah bersama dengan Arnold, sedangkan Alan dibawa Mama Anisa ke tempat arisannya. Ternyata saat dirinya sedang duduk santai, ada Nilam yang datang dengan diantar oleh pembantunya. Pembantunya langsung pulang karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan meninggalkan Nilam di rumah keluarga Farda.
"Maaf ya, bu. Saya langsung pulang, nanti nona Nilam akan dijemput oleh papanya" ucap pembantu itu.
Nadia hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Lagi pula suaminya mengenal Nilam sehingga jika ada sesuatu pasti mereka akan mudah saling berkomunikasi. Nadia masuk kedalam ruang keluarga sambil menggandeng tangan Nilam. Terlihatlah disana Arnold sedang menundukkan kepalanya membuat Nadia sedikit takut jika anaknya kembali mengingat sesuatu yang menyakitkan.
Nadia dan Nilam berjalan cepat menuju Arnold yang bahkan tak merespons panggilannya tadi. Sesampainya didepan Arnold, Nadia langsung bersimpuh dihadapan bocah cilik itu kemudian menggoyangkan pelan tangan anaknya.
"Arnold... Gembul..." panggil Nadia.
Tak ada respons yang diberikan oleh Arnold membuat Nadia sedikit panik. Nilam pun melakukan hal yang sama bahkan memeluk Arnold dengan erat karena sepertinya laki-laki itu badannya sedikit bergetar.
"Arnold, ini Nilam. Nilam mau ajak main lho" ucap Nilam dengan lembut.
Nadia mencoba menegakkan kepala Arnold dan benar saja bocah kecil itu matanya sudah berkaca-kaca. Nadia yang terkejut langsung ikut memeluk Arnold dengan erat sambil membisikkan kalimat penenang.
"Kamu kenapa, nak? Tadi cuma bunda tinggal sebentar kok gini" tanya Nadia penasaran.
"Huaaaaa... Arnold terharu karena Nilam jengukin aku. Baru dua hari nggak lihat wajah Nilam aja udah buat ku rindu setengah mati" ucap Arnold tiba-tiba.
Sontak saja Nadia melepaskan pelukannya dari sang anak kemudian mengerucutkan bibirnya kesal. Ia sudah panik dan khawatir karena kondisi anaknya namun ternyata yang Arnold lakukan adalah menyembunyikan keharuannya saja. Terlebih kini sudah tersenyum malu-malu akibat ucapan anaknya itu. Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengelus dadanya sabar menghadapi anaknya itu.
__ADS_1
"Dasar bucin" sindir Nadia yang kemudian berdiri meninggalkan Arnold dan Nilam didalam ruang tamu.
"Bucin itu saudaranya pakcin bukan, bunda?" seru Arnold.
"Suaminya" jawab Nadia asal.
Arnold terkekeh pelan karena bisa mengusili sang bunda yang biasanya sangat susah untuk ia jahili itu. Sedangkan Nilam yang melihat kejahilan Arnold pada ibu tirinya menatap iri adegan itu. Ia juga ingin bisa bercanda atau akrab dengan ibu tirinya seperti Arnold. Walaupun saat ini Mama Vivi sudah tak menyakiti atau menyuruh dia dan kakaknya bekerja namun tetap saja suasana rumah sangatlah hambar.
Terlebih papa dan ibu tirinya sering berantem karena kehadirannya dan sang kakak yang katanya pembawa sial oleh Mama Vivi. Hal ini tentunya membuatnya sedih karena seringkali ia mendengar pertengkaran itu yang berujung papanya tidur di kamar tamu.
"Nilam kenapa kok wajahnya sedih gitu?" tanya Arnold perhatian.
"Gimana sih caranya biar akrab sama ibu tiri?" tanya Nilam dengan tatapan sendunya.
Arnold pun akhirnya mengerti dengan masalah yang dihadapi teman dekatnya ini. Dulunya ia juga susah untuk dekat dengan orang baru terutama Nadia, namun bundanya itu yang selalu mencoba mendekatkan diri padanya bukanlah dirinya yang berinisiatif. Tentunya jika ditanya cara biar akrab dengan ibu tiri, dia takkan bisa menjawabnya.
"Dih... Sok ganteng kamu, mana ada bunda dekatin kamu duluan. Yang ada kamu minta diperhatikan bunda duluan ya" ucap Nadia yang tiba-tiba kembali ke ruang tamu.
Arnold memelototkan matanya tak terima dengan pernyataan Nadia itu. Namun Nadia juga tak mau kalah dari Arnold sehingga balik menatapnya tajam. Sedangkan Nilam yang melihat hal itu hanya bisa geleng-geleng kepala terlebih dia bingung cara menghentikan perdebatan keduanya.
***
"Ini cucumu jeng?" tanya seorang teman Mama Anisa.
__ADS_1
Dia begitu antusias saat melihat cucu dari temannya itu dibawa dalam arisan. Pasalnya hanya cucu Mama Anisa saja yang jarang dibawa. Mama Anisa pun banyak alasan jika disuruh teman-temannya membawa salah satu cucunya. Bukannya tak mau, Mama Anisa sudah mencoba membujuk cucu-cucunya agar ikut menemaninya arisan namun mereka malas. Malas jika pipinya dicubit-cubiti oleh orang dewasa.
"iya, ini anak Andre yang bungsu" jawab Mama Anisa sambil tersenyum.
Benar saja baru beberapa menit Alan sampai di rumah yang dijadikan tempat arisan itu, pipi Alan sudah menjadi korban cubitan masal oleh ibu-ibu disana. Alan pun hanya bisa pasrah terlebih kini pipinya sudah sangat memerah. Kalau menangis pun hanya akan bertambah malu.
"Wah... Bibit Andre memang unggul semua. Harusnya dulu anakku nikah sama anakmu ya, jeng. Pasti nanti dapatnya bibit unggul semua secara anakku aja glowing begitu" ucap Ibu Laili.
"Tapi sayangnya saya nggak tertarik punya menantu yang di wajahnya banyak plastik" ucap Mama Anisa sarkas.
Ibu Laili yang disindir seperti itu tentunya tersinggung, memang benar adanya jika anaknya itu melakukan operasi plastik namun harusnya Mama Anisa tak boleh membongkarnya. Terlebih disini ada teman-teman arisannya yang lain.
"Mang ajah bica ada atiknya, nek? Ajah ada atikna uat aruh akanan cica ikahan ditu? " tanya Alan tiba-tiba dengan tatapan penasarannya.
Mama Anisa terkekeh pelan dengan ucapan polos cucunya itu. Alan menyamakan bedah plastik dengan kresek untuk membawa sisa makanan hajatan nikahan, hal ini pun membuat orang-orang disana ikut tertawa. Ibu Laili yang sudah kepalang malu pun hanya bisa melenggang pergi menjauh dari kerumunan Alan dan Mama Anisa.
Mama Anisa tentunya senang melihat perkembangan cucunya yang pintar berbicara itu. Terlebih dengan ucapan seperti itu akan menghindari keluarganya dari orang-orang yang ingin merusak kebahagian semuanya. Akhirnya semua ikut duduk karena acara akan segera dimulai. Alan memilih menyingkir kemudian duduk bersama dengan anak-anak kecil lainnya.
"Wewek... Wewek..." sapa Alan yang ternyata anak-anak kecil disana itu semuanya adalah perempuan.
Semua anak-anak yang ada disana langsung mengalihkan perhatiannya kepada Alan yang tersenyum memperlihatkan giginya yang baru tumbuh dua biji itu. Mereka langsung berkerumun ke dekat Alan karena antusias mendapatkan teman baru laki-laki.
"Wowok, nama amu capa? Tok didi amu tuma da dua?" tanya salah seorang gadis cilik dengan beraninya.
__ADS_1
"Alan anteng. Didina Alan macih alu-alu uat kelual kalna ada wewek antik taya amu" jawab Alan sambil menggombal.
Mama Anisa hanya bisa mengelus dadanya sabar mendengar gombalan dari cucu bungsunya itu. Sepertinya lain kali dia akan membawa Abel atau Anara saja yang takkan berlaku genit seperti ini.