
Nadia, Andre, dan kedua orangtuanya telah sampai di rumah keluarga Farda sejak satu jam yang lalu. Mereka segera saja membersihkan diri kemudian berkumpul di meja makan untuk melaksanakan acara makan malam. Nadia dan Andre turun melalui tangga hingga melihat bahwa kedua orangtuanya telah duduk bersiap disana.
"Selamat malam mama papa" sapa Andre dan Nadia bersamaan.
"Malam" jawab keduanya bersamaan.
Akhirnya mereka memulai acara makan malam itu dengan hikmat. Tak ada keramaian di meja makan itu karena para perusuhnya sedang tak ada di rumah. Selang beberapa menit, keempatnya telah menyelesaikan makan malam namun tak ada dari mereka yang beranjak dari meja makan.
Sepertinya ada yang ingin mereka sama-sama katakan namun bingung akan memulainya dari mana. Akhirnya Papa Reza dan Mama Anisa memilih untuk mengutarakan semua hal yang mengganjal dalam pikiran dan perasaannya.
"Kalian merasa janggal nggak dengan anak-anak?" tanya Mama Anisa.
"Iya, ma. Apalagi Nadia, tak biasanya mereka seperti ini. Bahkan untuk jauh dari Nadia pun mereka nggak mau terutama Abel yang traumanya masih ada" ucap Nadia mengutarakan kebingungannya sejak tadi dalam perjalanan pulang.
"Papa tadi sempat melihat Arnold memberikan kode kepada Anara dengan mengerlingkan matanya. Tapi papa nggak tahu itu kode apa" ucap Papa Reza yang sedari tadi diam dan menyimak.
Ketiga orang dewasa disana terdiam setelah mendengar ucapan Papa Reza. Mereka berpikir bahwa ketiga bocah kecil itu sedang merencanakan sesuatu. Pikiran ketiganya memang tak seperti anak-anak yang lainnya, yang terkadang diluar nalar.
"Sudah biarkan saja mereka mau melakukan apa asal tidak berhubungan dengan tindakan kriminal. Lagi pula disana ada kedua orangtua Nadia dan Nenek Darmi yang mengawasi dan menjaga mereka. Tak mungkin mereka bertiga bertindak yang macam-macam apalagi selama ini ketiganya selalu sopan ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua" ucap Andre dengan bijaknya.
__ADS_1
Mereka yang ada disana hanya bisa melongo tak percaya setelah mendengar ucapan Andre yang terkesan dewasa dan bijak itu. Tak biasanya laki-laki itu bisa mengucapkan kata-kata sebijak itu. Sedangkan Andre hanya mencebikkan bibirnya kesal karena merasa kini tengah diledek.
"Ndre, kamu nggak kesurupan kan?" tanya Mama Anisa sambil menatap menyelidik kearah anaknya.
"Kesurupan jin tomang sebelahnya mama itu" kesal Andre.
Sontak saja dengan polosnya Mama Anisa mengalihkan perhatiannya kearah sampingnya dan terlihatlah Papa Reza yang tengah mendengus kesal. Sedangkan Andre dan Nadia terkekeh pelan melihat adegan itu terutama Mama Anisa yang langsung tertawa dengan canggungnya.
Setelah sekedar meluangkan waktu untuk berbincang dan bercanda sebentar, akhirnya Mama Anisa dan Nadia memilih membereskan meja makan. Sedangkan para lelaki berpamitan untuk masuk ke kamar terlebih dahulu.
***
Andre duduk di balkon kamarnya sambil melihat kearah langit malam yang begitu cerah dengan bulan yang bersinar terang dan taburan bintang. Andre tengah berperang batin dengan pikirannya sehingga tampak melamunkan sesuatu hingga tak sadar kalau di belakangnya ada Nadia yang sedang memperhatikannya.
"Ternyata nggak ada anak-anak sepi juga ya" ucap Nadia tanpa memandang kearah suaminya.
"Iya. Kini mereka sudah besar-besar dan bahkan bisa menentukan keinginannya" ucap Andre sambil tersenyum.
Tanpa diduga kini Andre malah memeluk istrinya dari samping dan menyandarkan kepalanya di bahu milik istrinya. Nadia yang sebenarnya risih pun akhirnya mulai santai mengingat orang disampingnya ini adalah suaminya sendiri. Nadia mengelus rambut suaminya dengan lembut menimbulkan gelenyar aneh pada tubuh Andre.
__ADS_1
Seketika saja ia mengingat sesuatu yang membuatnya bersemangat dan langsung saja menegakkan tubuhnya tiba-tiba. Nadia begitu terkejut dengan gerakan tiba-tiba yang dilakukan oleh Andre itu memuatnya langsung menatap tajam kearah suaminya. Sedangkan Andre hanya bisa cengengesan melihat hal itu.
"Sayang, kita kan belum melakukan ritual malam pertama nih. Mumpung nggak ada tiga bocil, kita lakuin malam ini yuk" ajak Andre dengan wajah memelas.
Nadia yang mendengar ucapan frontal dari suaminya itu pun tentu terkejut. Pasalnya malam ini dirinya tak memikirkan sampai sejauh itu karena masih fokus pada alasan ketiga anaknya yang tak mengajaknya menginap di rumah orangtuanya. Setelah dia mendengar ucapan Andre, seketika saja dia langsung berpikir bahwa ada suaminya itu dibalik ketiga anaknya tak mau pulang ke rumah ini.
"Jangan... Jangan... Kamu sudah merencanakan ini sebelum kepulangan ketiganya ya? Kemu mengancam mereka untuk tak tidur di rumah ini agar bisa unboxing aku" ucap Nadia dengan tatapan menyelidik.
"Mana ada begitu? Kamu tahu sendiri kan kalau Arnold dan Abel nggak mau dekat lama-lama sama aku. Kapan juga aku diskusi dan merencanakan ini sama mereka?" ucap Andre tak terima.
Nadia masih melihat Andre dengan tatapan menyelidiknya, namun dilihat dari mata laki-laki itu kalau suaminya memang tak berbohong. Nadia hanya bisa menghela nafasnya lelah karena sampai saat ini masih belum menemukan jawabannya. Mungkin esok hari dia akan bertanya langsung pada ketiganya.
"Jadi gimana sayang, boleh ya?" lanjutnya dengan memelas.
Nadia menganggukkan kepalanya pertanda setuju membuat Andre langsung bersemangat. Saking antusiasnya, Andre langsung saja menggendong istrinya itu ala bridalstyle masuk kedalam kamar. Tak lupa kakinya langsung menutup pintu balkon dengan sedikit menendangnya. Nadia hanya bisa terpekik dan malu atas tingkah suaminya itu.
Andre membaringkan istrinya itu diatas kasur kemudian melucuti pakaiannya dan sang istri dengan cepat. Bahkan Nadia dibuat tak berdaya dengan apa yang telah dilakukan oleh suaminya itu. Tak ada jeda untuk menarik nafas bahkan istirahat barang sebentar saja karena prosesnya begitu cepat.
Andre melakukan pemanasan-pemanasan kecil membuat Nadia melenguh nikmat. Andre begitu memuja dan memperlakukan dengan lembut istrinya itu. Dengan beberapa kali hentakan, akhirnya Nadia telah menjadi milik Andre seutuhnya.
__ADS_1
Malam itu ditemani cahaya bulan yang menyorot di sela-sela gorden pintu balkon, kedua pasangan pengantin baru itu mereguk kenikmatan dunia. Hentakan demi hentakan dilakukan demi bisa menyemburkan bibit-bibit berkualitas. Hanya ada suara lenguhan dari keduanya saja yang terdengar sampai mereka mencapai titik dimana kenikmatan itu diteguk. Keduanya berharap agar apa yang dilakukannya malam ini bisa menghasilkan bayi-bayi lucu yang kelak akan menjadi penerus dalam keluarganya.
Mereka melakukan kegiatan itu berulang kali hingga adzan shubuh berkumandang. Walaupun lelah, akhirnya mereka memutuskan untuk membersihkan diri kemudian menjalankan ibadah bersama. Setelah beribadah, mereka tidur bersama dengan saling memeluk hingga tak menyadari bahwa matahari sudah menampakkan sinarnya.