
"Kamu dengarkan tadi apa yang diucapkan Alan? Dia saja rela jika dirinya yang dibentak atau dimarahi daripada kamu marah sama saudara-saudaranya, masa kamu yang udah dewasa malah menyakiti mereka lagi. Ingat mas, jangan sampai nanti anak-anakmu sendiri takut dekat denganmu hanya karena kamu sering marah dan membentaknya" ucap Nadia setelah berhasil menidurkan Alan kembali.
Tak ingin membuat keributan lebih besar antara Alan dan Andre, akhirnya Nadia memilih untuk menggendong anaknya itu untuk keluar dari ruang kerja anaknya. Setelahnya ia langsung menidurkan Alan hingga memastikan kalau anaknya itu tertidur pulas. Setelah Alan tertidur pulas, di kamarnya ini lah ia berada bersama dengan Andre.
Andre menatap istrinya yang tampak masih melihat intens mata suaminya itu. Terlihat sekali kalau dibalik pancaran mata Nadia yang menatapnya intens itu ada setitik rasa kecewa disana. Kecewa akan sikap dan sifatnya yang tak berubah sama sekali padahal sudah sering ia mengingatkannya. Banyak peristiwa dan kejadian yang terjadi selama mereka tinggal bersama namun tak membuat Andre berpikir jauh lebih dewasa.
"Maafkan aku" ucap Andre lirih.
"Maaf... Apakah hanya itu yang bisa kamu lakukan? Buktikan. Buktikan kalau kamu memang bisa berubah, bukan hanya sekedar kata maaf lalu kembali melakukannya" ucap Nadia dengan tegas.
Bahkan kini Andre lebih memilih memalingkan wajahnya karena ia tak tahan dengan pandangan istrinya. Terlebih saat melihat Nadia menatapnya dengan kecewa. Nadia kini langsung saja berbaring diatas kasurnya kemudian tidur memunggungi suaminya. Sedangkan Andre yang melihat hal itu hanya terdiam menatap kearah punggung sang istri.
***
"Ayo abang, kakak... Ita ke lumah nenek Dalmi. Pati dia cekalang macih cedih dala-dala dimalahin papa temalin alam. Ita halus hibul nenek" ucap Alan dengan semangat.
Bahkan sedari pagi Alan sudah bangun kemudian membangunkan ketiga saudaranya untuk segera pergi ke rumah Nenek Darmi. Saat shubuh tadi Alan bangun kemudian membangunkan saudaranya dengan menggunakan mainan drum plastiknya.
Dung... Dung... Dung...
"Angun... Angun..." seru Alan membuat semua penghuni rumah juga langsung keluar dari kamarnya masing-masing.
__ADS_1
Bahkan Alan sepertinya tak ada takut-takutnya keluar dari kamarnya sendiri tanpa ada yang mengawasinya. Bahkan Nadia sendiri heran dengan tingkah Alan yang dulu sangat mirip dirinya yang tak bisa diam kalau sudah bangun tidur.
"Alan... Kasihan kakaknya biar pada istirahat dulu. Nanti kalau habis adzan shubuh belum bangun baru lah dibangunin" ucap Nadia menegur perbuatan anaknya.
"Unda, talo chubuh-chubuh itu halus angun. Ntal talo keciangan lejekina bica di atok ayam lho" ucap Alan memberitahu dengan serius.
Mama Anisa dan Papa Reza hanya bisa terkekeh geli mendengar alasan dari cucunya itu. Sedangkan Nadia sendiri mengelus dadanya sabar karena merasa anaknya ini memang butuh perhatian ekstra. Setelahnya Alan tetap membangunkan semua saudaranya hingga ketiganya bangun.
Bahkan kini setelah melihat saudaranya sudah membersihkan diri dan memakai pakaian yang rapi, Alan langsung mengatakan keinginannya. Bahkan kini ketiganya sudah duduk anteng di kursi ruang makan dengan Anara dan Abel memakai seragam sekolahnya. Sedaritadi ocehan Alan itu sama sekali tak digubris ketiganya.
"Cungguh ahat talian cama Alan anteng, napa dali adi ndak ada yan anggapi omongantu? Napa uga talian pate celagam, libul aja" ucapnya dengan mengerucutkan bibirnya kesal.
Alan kesal tak ada yang membelanya. Kini ia langsung saja mendekat kearah kakeknya yang sedang sibuk dengan koran didepannya. Bahkan Alan langsung menarik celana bahan kakeknya itu sambil merentangkan tangannya. Papa Reza yang tahu kode dari sang cucu pun meletakkan korannya diatas meja kemudian menggendong Alan dan didudukkan diatas pangkuannya.
"Ndak ada yan bela Alan. Tatek bela Alan aja ya kalna Alan itu celalu benal" ucap Alan pada Papa Reza.
Papa Reza begitu gemas dengan apa yang diucapkan oleh cucunya yang satu ini. Bahkan kini ia menggesek-gesekkan dagunya yang masih ada rambut tipisnya itu pada pipi Alan. Alan tertawa geli karena pipinya berasa ditusuk-tusuk.
"Kenapa kamu gemas sekali sih, nak? Rasanya pengen kakek cubitin" ucap Papa Reza sambil tertawa.
"Alan itu anteng ukan emas lho, tek. Olang dah tayak bed boy dini tok emasin" ucap Alan sambil menyugar rambutnya ke belakang.
__ADS_1
Nadia dan Mam Anisa yang baru datang sontak saja tertawa mendengar ucapan Alan itu. Darimana juga itu anak kecil bisa tahu mengenai bad boy segala. Sedangkan ketiga saudaranya sedari tadi hanya diam membuat Nadia segera mendekat kearah mereka.
"Ayo makan, nak. Kalian mau makan apa? Biar bunda ambilin" ucap Nadia sambil memegang piring Abel.
"Bunda nggak usah repot-repot. Abel bisa kok ambil sendiri" ucap Abel dengan sedikit menunduk.
Sontak saja ucapan Abel itu membuat Nadia dan Mama Anisa terkejut bahkan kini mereka langsung memandang gadis kecil itu. Anara dan Arnold pun tak mau menatap para orang dewasa yang memandang mereka. Ada sesuatu yang aneh dari kata-kata yang diucapkan oleh Abel itu membuat kecurigaan para orang dewasa.
"Kalian nggak pernah ngrepotin bunda. Justru bunda senang kalau direpotin, sudah sepantasnya kalau bunda memberikan apa yang dibutuhkan kalian" ucap Nadia dengan tegas.
Akhirnya Nadia mengambilkan mereka makanan masing-masing di piringnya. Entah lah Nadia merasa ada sesuatu yang aneh sedang disembunyikan oleh ketiga anaknya ini. Namun ia takkan memaksa mereka untuk bercerita karena tak ingin nantinya malah tersinggung atau tak enak hati.
Sedangkan Andre langsung saja duduk di kursinya tanpa menyapa semua orang disana. Ia juga langsung mengambil makanan yang sudah ada diatas piring. Alan menatap sinis kearah papanya itu saat melihatnya duduk didekatnya.
"Atang-atang ndak pate calam, langcung uduk dan matan. Ndak copan" sindir Alan.
Papa Reza juga hanya bisa menahan tawanya karena mendengar sindiran dari Alan itu. Sedangkan Andre sendiri tak menggubris sindiran itu bahkan masih melanjutkan kegiatan makannya dengan santai. Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat suaminya itu belum ada kesadaran diri untuk berubah.
Baginya biarlah nanti Andre punya pikiran yang lebih dewasa lagi dalam menyelesaikan masalahnya. Ia tak mau jika nanti memaksa Andre untuk suatu hal malah berakibat hubungannya dengan sang suami menjadi jelek.
Akhirnya mereka sarapan pagi itu dengan tenang. Alan langsung saja makan dengan disuapi oleh Papa Reza membuat kakeknya itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Terlebih Alan sedari tadi mengoceh mengenai apa yang terjadi diatas meja makan itu.
__ADS_1