
Hari ini keluarga Parno telah berada di kota setelah semalam berangkat dari desa menggunakan bus. Kota yang mereka tuju sama dengan kota yang ditinggali Nadia dan kedua orangtuanya.
Saat ini keluarga Parno tengah berada di rumah sakit untuk memeriksakan keadaan anaknya. Dokter spesialis kejiwaan menjadi pilihan mereka untuk mengetahui kondisi psikis anaknya yang memang sedari dulu bermasalah ditambah keadaan kemarin. Mereka duduk di kursi tunggu untuk menunggu antrian yang telah didapat saat pendaftaran. Saat sedang menunggu giliran, terlihatlah satu keluarga yang keluar dari ruang dokter itu. Mata kedua orangtua Parno terbelalak kaget melihat adanya Nadia di rombongan keluarga itu.
Rombongan keluarga yang dimaksud adalah Mama Anisa, Papa Reza, Andre, Nadia, Anara, Abel, dan Arnold. Keluarga Andre bersama Nadia sedang memeriksakan keadaan psikis dari Abel yang akan mulai masuk sekolah minggu depan. Hal ini untuk memastikan apakah Abel sudah siap mentalnya atau belum jika bertemu dengan orang-orang baru. Ini juga ntuk mengantisipasi trauma dan rasa takut Abel tak kambuh lagi sehingga satu keluarga sepakat untuk membawa gadis kecil itu ke psikiater.
Nadia belum sadar kalau ada keluarga Parno yang kini tengah berdiri dan menatap intens dirinya karena ia sedang bercanda dengan Arnold yang ada di gendongannya. Parno yang melihat orangtuanya berdiri pun ikut berdiri kemudian melihat kearah pandangan keduanya. Parno membelalakkan matanya saat melihat seseorang yang selama ini dicarinya sudah ada didepan matanya. Matanya berbinar cerah dan dengan antusias memanggil nama Nadia.
"Nadia..." seru Parno.
Kedua orangtua Parno yang ada disana seketika mengalihkan pandangannya kearah anaknya yang terlihat antusias karena bertemu gadisnya. Mereka melupakan Parno yang masih berada diantara mereka karena terlalu sibuk melihat kearah Nadia. Seharusnya mereka tak menatap intens Nadia agar anaknya tak mengetahui tentang keberadaan gadis itu disini.
Nadia yang mendengar ada seseorang yang memanggil namanya pun mencari arah asal suara itu, begitu pula dengan Andre dan orangtuanya. Nadia memelototkan matanya saat tahu kalau orang yang memanggil dirinya adalah seseorang yang sangat ia hindari, Parno. Seketika saja Nadia bersembunyi dibalik tubuh Andre membuat laki-laki itu dan orangtuanya heran.
"Kak Nadia, mau main petak umpet?" tanya Anara yang ada digendongan Andre.
"Enggak, Nara. Kak Nadia dan Arnold lagi mau sembunyi aja" jawab Nadia pelan.
Anara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti, sedangkan Andre dan kedua orangtuanya menatap aneh kepada Parno dan keluarganya yang tengah menuju kearah mereka. Bukan terlalu percaya diri, namun faktanya mereka tahu kalau yang memanggil nama Nadia adalah salah satu dari mereka.
"Tolongin gue dong, itu ada cowok yang suka ngejar-ngejar aku di desa" bisik Nadia tepat pada telinga Andre.
__ADS_1
Andre yang mendengar bisikan dari Nadia pun hanya mengedikkan bahunya cuek. Mereka kemudian tetap berjalan kearah pintu keluar rumah sakit dengan santai sedangkan Nadia masih setia dengan bersembunyi di belakang Andre. Walaupun sebenarnya Mama Anisa sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada Nadia.
"Nadia... Akhirnya David nemuin Nadia juga" seru Parno saat Nadia sudah ada dihadapannya.
Bahkan Parno memegang pergelangan tangan milik Nadia membuat gadis itu memberontak agar dilepaskan. Sedangkan Arnold yang ada di gendongan Nadia pun menatap tak suka kearah Parno. Keluarga Mama Anisa turut berhenti saat melihat kejadian yang menimpa Nadia.
"Ihhh... Napa kamu lihat-lihat David, pasti terpesona ya dengan ketampanan aku" ucap Parno saat Arnold melihatnya.
Arnold hanya melengoskan wajahnya saat Parno mengucapkan hal itu. Ketika Parno akan mencubit pipi Arnold, tangannya langsung saja ditepis oleh bocah kecil itu.
"Angan egang-egang pipi Anol" kesal Arnold.
"Ihhh... Kecil-kecil galak" kesal Parno.
"Udah deh Parno, nggak usah ngusilin anak kecil. Lagian kenapa sih kamu dan keluargamu itu ada disini? Ganggu ketenangan orang aja" ketus Nadia.
"Nadia kemana aja? Huh... Selama ini David cari Nadia tapi nggak ketemu-ketemu lho. Padahal David udah sering ke rumah Nadia nungguin kamu pulang" ucap Parno.
Tanpa mempedulikan pertanyaan Nadia, Parno segera saja bercerita tentang dirinya yang selalu menunggu kepulangan gadis itu. Namun hal itu malah membuat Nadia muak.
"Heh... Nadia, lebih baik kamu menikah deh sama anak saya. Dasar perempuan nggak tahu diri, main kabur-kabur aja waktu mau nikah. Padahal nikah sama anak saya itu enak, apa yang kamu mau bisa langsung ada" ucap Ibu Dyah dengan sombongnya.
__ADS_1
Mama Anisa, Papa Reza, dan Andre kini mengerti bahwa orang ini adalah satu keluarga yang meminta Nadia untuk menjadi istrinya. Itu yang diceritakan sekilas oleh Ibu Ratmi waktu berbincang di rumah Nenek Darmi waktu itu.
"Mohon maaf kalian ini siapa ya? Sedari tadi tangan anda itu memegang pergelangan tangan calon istri saya. Jangan lancang" ucap Andre sambil menatap tajam kearah Parno.
Deg...
Jantung Nadia bergetar saat Andre mengucapkan kalau dirinya adalah calon istrinya. Hatinya sangat berbunga-bunga walaupun sebenarnya itu hanya sandiwara saja agar Parno melepaskan cekalannya.
"Nggak... Nggak mungkin kalau Nadia itu calon istri kamu. Nadia itu punya David" kekeh Parno.
"Duh jeng, itu anaknya tolong dikondisikan. Jangan ngaku-ngaku. Nadia itu memang benar calon istri anak saya dan calon menantuku. Lagian lebih mending pilih Andre daripada anak anda, jelas lebih mapan dan kaya" sela Mama Anisa memamerkan diri.
"Wah... Berarti anak anda ini disini yang salah. Nadia itu harusnya sudah menjadi menantu saya kalau saja dia tidak kabur. Jangan-jangan dia kabur karena permintaan anak anda" seru Ibu Dyah dengan sinis.
Perdebatan mereka mengundang perhatian semua orang yang ada disana terlebih suara Ibu Dyah benar-benar keras. Mama Anisa benar-benar kesal dengan ucapan Ibu Dyah yang seakan bilang kalau anaknya perebut pacar orang.
"Dia calon istri saya. Jangan pernah mengganggunya lagi" ucap Andre dengan penekanan.
Untuk mengalihkan perhatian semua orang, Andre segera menepis tangan Parno yang masih memegang lengan Nadia kemudian menggandeng gadis itu. Mereka berjalan dengan cepat untuk menghindari kejaran Parno yang ternyata mengikuti keluarga Andre.
"Enggak, Nadia itu calon istriku" seru Parno.
__ADS_1
Sedangkan kedua orangtua Parno mencoba menghalangi anaknya agar tak mengejar Nadia dan keluarga Mama Anisa. Orangtua Parno sepertinya takut dengan tatapan dari Mama Anisa yang seakan-akan ingin menguliti mereka jika mengganggu calon menantunya itu. Dari pakaian yang dikenakan calon suami dan ibunya itu saja sudah jelas kalau mereka bukan dari kalangan orang biasa. Keluarga Parno tak ingin mencari masalah dengan orang terpandang karena di kota ini mereka bukanlah orang terkaya seperti waktu di desa.