
Sore hari, Andre sudah melajukan mobilnya di jalan raya karena ingin pulang cepat untuk menyelesaikan masalahnya dengan Nadia. Setelah kejadian malam itu, mereka berdua sama sekali bertemu dan berkomunikasi karena Andre yang selalu sibuk dengan urusan pekerjaan serta masalahnya dengan keluarga suami Aneta.
Andre pun akhir-akhir ini sering pulang malam sehingga tak bertemu dengan Nadia di rumahnya. Mau bertamu ke rumah kekasihnya pun sepertinya tak sopan karena hari sudah sangat malam. Menjelang hitungan hari pernikahannya, Andre ingin meluruskan semuanya agar dia dan Nadia tak ada lagi ganjalan.
Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya Andre sampai juga di rumahnya. Andre segera saja memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya kemudian mendekat kearah Nadia dan ketiga anaknya yang tengah menyirami tanaman. Mereka berempat terlihat asyik bercanda ria dengan Arnold yang membawa selang air sedangkan Nadia dan kedua gadis kecil tengah menanam beberapa tanaman.
"Hmm..." Dehem Andre saat empat orang itu tak menghiraukan kedatangannya.
Padahal Andre yakin kalau keempatnya mengetahui kedatangannya dari mobil memasuki area halaman hingga suara langkah kakinya. Keempatnya masih sibuk dengan kegiatannya bahkan terkesan mengacuhkan Andre.
"Ada cuala olang api ndak ada ujudnya" ucap Arnold tiba-tiba.
Nadia yang mendengar ucapan Arnold pun hanya bisa menahan tawanya, sedangkan Andre sudah cemberut. Sedangkan Anara dan Abel masih enggan menanggapi apa yang ada disekitarnya.
"Ada papa disini lho... Anak-anak papa nggak mau nih peluk papa?" tanya Andre dengan suara disedih-sedihkan.
"Ukan, ita nanaknya unda" ucap Arnold menanggapi.
Andre semakin kesal dan gemas bersamaan dengan jawaban Arnold sedari tadi. Tanpa aba-aba, Andre segera saja menarik selang air yang dibawa oleh Arnold dan langsung mengarahkannya kearah ketiga anaknya. Arnold yang disiram oleh air pun mengejar papanya membuat Andre ikut berlari, sedangkan Anara dan Abel hanya melihat adegan itu. Apalagi kini Arnold sudah basah kuyup karena disiram air oleh Andre.
"Woooo... Papa akal, Anol ndak like" ucap Arnold dengan wajah cemberut karena tak berhasil menangkap papanya itu.
Sedangkan Andre sudah tertawa terbahak-bahak melihat anaknya memajukan bibirnya karena kesal. Bahkan karena saking fokusnya dengan wajah Arnold, ia tak menyadari kehadiran Nadia dan dua anak gadisnya yang tengah berdiri dibelakangnya. Nadia memberi kode kepada Arnold dengan meletakkan jari telunjuknya di bibir agar bocah kecil itu diam saja.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Nadia merebut selang air yang dipegang Andre dari belakang tubuh laki-laki itu. Andre pun segera menghentikan tawanya kemudian membalikkan badannya dan melihat Nadia serta kedua anaknya tengah tersenyum lebar. Nadia segera saja mengarahkan selang airnya kearah Andre membuatnya basah kuyup.
"Telus unda. Papa adi ahat cama Anol udah cilam-cilam campai bacah. Cekalang ita alas papa" seru Arnold menyemangati Nadia yang terus menyiram kekasihnya itu.
Anara dan Abel bertepuk tangan untuk menyemangati Nadia. Bahkan ketiga anak Andre sudah tertawa lepas melihat laki-laki dewasa itu sudah basah kuyup dari ujung rambut sampai kakinya karena disiram oleh Nadia. Andre sudah menghindari dengan berlari namun Nadia tentunya takkan membiarkan Andre untuk lepas.
"Woiiii... Udah dong, Nad. Udah basah semua ini" seru Andre.
"Angan belhenti unda" seru Arnold tak mau jika papanya membuat Nadia berhenti menyiramnya.
Melihat Arnold terus mengompori Nadia, segera saja Andre menarik bocah laki-laki kecil itu untuk ia gendong didepan sebagai tameng agar airnya tak tersiram kearahnya. Saat melihat Arnold berada di gendongan depan Andre, Nadia segera saja menghentikan siramannya. Ia tak mau Arnold terlalu banyak kena air, yang ada bocah laki-laki itu bisa sakit.
"Papa culang. Adiin Anol awanan" kesal Arnold digendongan Andre.
Akhirnya Nadia menyuruh mereka untuk segera mandi karena jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Angin yang berhembus juga semakin kencang, membuat tubuh Arnold dan Andre sedikit menggigil karena kedinginan.
"Unda, andiin Anol" seru Arnold yang sudah turun dari gendongan papanya.
"No... Biar kamu papa mandiin" cegah Andre.
"Ndak mau" tolak Arnold.
Bukannya segera masuk kedalam rumah, kedua laki-laki berbeda usia itu malah berdebat tentang siapa yang akan memandikan Arnold. Nadia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keduanya yang sama-sama mempunyai sifat keras itu sedangkan Anara dan Abel sudah lebih dulu masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Kalian berdua buruan masuk dan mandi. Kelamaan diluar nanti diculik mbak kunti tahu rasa kalian" seru Nadia yang kemudian berlalu pergi dari halaman rumah.
Mendengar hal itu, Andre segera saja pergi berlari meninggalkan Arnold yang berlari dengan tertatih-tatih. Karena merasa ketakutan dan tertinggal jauh dari papanya, membuat Arnold langsung saja menangis.
"Huaaaaa... Anol diinggal cendilian, anti diulik bak unti huaaaaa..." seru Arnold sambil menangis.
Papa Reza yang baru saja datang pun akhirnya mendekat kearah Arnold dan menggendongnya membawa masuk kedalam rumah. Astaga... Papa Reza hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah jahil Andre dan Nadia yang meninggalkan Arnold sendirian.
***
Malam tiba, Nadia akan pulang ke rumahnya setelah memastikan bahwa ketiga anak Andre telah tidur dengan pulas. Kali ini Andre memaksa gadis itu untuk pulang bersamanya karena laki-laki itu tak ingin kejadian penculikan itu kembali terjadi.
Keduanya kini sudah berada didalam mobil dengan suasana yang teramat hening. Tak ada pembicaraan sama sekali diantara keduanya, terlebih saat ini Nadia begitu acuh dengan keberadaan Andre tak seperti tadi sore saat bersama anak-anaknya.
"Maafkan aku, Nad. Jika selama beberapa hari ini kita jarang berkomunikasi bahkan hanya untuk sekedar menanyakan kabar pun tidak. Aku sibuk dengan pekerjaan dan permasalahan si nenek lampir" ucap Andre sambil sedikit melirik kearah Nadia yang langsung mengalihkan pandangan kearahnya.
Nadia tak berkomentar apa-apa, namun dari tatapan matanya sangat terlihat kalau dia sangat penasaran dan menuntut penjelasan lebih.
"Si Sukma itu sudah mendapatkan ganjarannya karena sekarang dimasukkan ke rumah sakit jiwa. Semua keluarganya tak ada yang terlibat dalam kejadian ini, bahkan mereka tak tahu dengan rencana Sukma. Mereka juga memberikan kesaksian atas perbuatan Sukma selama di penjara. Sukma itu sepertinya mempunyai kelainan jiwa yang terobsesi dengan harta sehingga terus mengganggu keluargaku" ucap Andre.
"Semua masalahku dengan orang-orang di masa lalu sudah selesai. Aku mohon untuk kamu agar kita bisa fokus ke acara pernikahan kita yang tinggal hitungan hari itu. Jangan berpikiran negatif tentangku, apalagi ragu pada perasaanku" lanjutnya.
Nadia menatap mata Andre yang memancarkan sebuah ketulusan tak seperti saat kejadian di ruang makan waktu itu. Hatinya menghangat saat tatapan teduh dari Andre itu dilayangkan untuknya. Walaupun dirinya terkesan cuek, namun sebenarnya dia adalah seseorang yang over thinking terhadap sesuatu.
__ADS_1